Ramadan di Tengah Covid-19

H Embay Mulya Syarief.*

H. Embay Mulya Syarief

Ramadan sebenatar lagi akan meninggalkan kita. Semoga kita dipertemukan kembali dengan tamu agung bernama Ramadan. Itulah bulan yang sangat dirindukan kehadirannya oleh seluruh umat Islam. Itulah bulan, yang kedatangannya disambut oleh seluruh umat Islam dengan hati berbunga-bunga. Itulah bulan, yang manusia semulia Rasulullah SAW saja rajin memberi kabar gembira kepada para sahabat tentang datangnya tamu agung tersebut.

Rasulullah bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat. Juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya, dia tidak memperoleh apa-apa.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Itulah bulan yang kepergiannya ditangisi oleh para solihin dan paling disukai oleh setan. Sebab selama Ramadan, setan setan dibelenggu, tidak bisa menggoda dan mengganggu manusia. Oleh sebab itu, berbahagialah kita yang dapat menunaikan amalan-amalan Ramadan sebagaimana diajarkan Rasulullah Saw. Sebaliknya, merugilah mereka yang mengabaikan atau menyepelekan amalan Ramadan. Merugi, karena kehadiran Ramadan yang penuh berkah tidak memberi dampak apa-apa.

Lewat Ramadan, Islam hendak mentarbiahkan pemeluknya sehingga terbentuk individu berkepribadian islami. Tarbiah dimaksud, antara lain, meliputi tansyi’ah (pembentukan), ri’ayah (pemeliharaan), tanmiyah (pengembangan), taujih (pengarahan) dan tauzhif (pemberdayaan).

Dalam konteks ini, hal pertama dan paling utama yang perlu ditarbiah Ramadan adalah hati. Pasalnya, di sanalah tempat bersarangnya segala penyakit jiwa. Jika hati kita baik, baiklah akhlak kita. Sebaliknya, jika hati kita buruk maka buruklah ahklak kita. Rasulullah bersabda, “Berbahagialah mereka yang dapat menunaikan tuntutan Ramadan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Swt, yakni agar mengecapai derajat takwa”.

Namun meski telah merasa maksimal menjalankan amalan-amalan Ramadan, hendaknya kita tidak berpuas diri. Kita tidak boleh merasa puas dengan amalan yang dikerjakan selama Ramadan. Sebaliknya, kita harus trus bersemangat meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, memperbaiki kekurangan serta mengejar semua keutamaan yang dijanjikan Allah SWT. Dengan kata lain, umat Islam harus menjadi spirit bagi setiap mukmin.

Itulah sebabnya, Ramadan juga disebut bulan madrasah tarbiah. Pasalnya, selama satu bulan penuh umat Islam, bahkan juga anak-anak, digembleng agar menjadi insan paripurna. Selama Ramadan umat Islam dilatih menjalankan kebiasaan-kebiasan yang baik. Dan, seyogyanya kebiasaan-kebiasaan baik selama Ramadan itu akan menjadi kebiasaan perilaku pada bulan-bulan pasca-Ramadan.

Ramadanlah yang menundukkan hawa nafsu. Andai hawa nafsu bisa ditundukkan dengan jalan lain selain berpuasa, niscaya syariat juga akan mewajibkan umat Islam menempuh jalan itu. Akan tetapi kenyataannya, hawa nafsu memang hanya ditundukkan oleh puasa. Itu sebabnya, puasa bukan hanya kewajiban umat Muhammad, namun juga telah diperintahkan kepada umat-umat lain sebelum Muhammad SAW.

Oleh sebab itu, Ramadan harus dijadikan kawah candradimuka bagi pembinaan mental spiritual. Sedikitnya, ada dua sasaran pembinaan mental. Pertama, mental qana’ah. Puasa dalam konteks ini, bisa membentengi kita dari syahwat duniawi yang menyesatkan. Rasulullah SAW mengistilahkan qana’ah sebagai harta yang tak akan pernah habis.

Kedua, mental muraqabah. Orang yang berpuasa, selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Bagi orang yang berpuasa, Al Malik selalu hadir di manapun dan kapanpun. Inilah Ramadan, momentum paling tepat untuk menghancurleburkan memori yang merekam kebiasaan-kebiasaan buruk. Kemudian lewat amalan Ramadan, kita menumbuhkan memori baru yang berisi informasi kebiasaan-kebiasaan baik.

Semoga kita tak termasuk kelompok orang yang disindir Rasulullah SAW, sebagai orang yang puasa namun hanya mendapat lapar dan haus. Sebab memang, puasa bukan hanya sekadar menahan rasa lapar dan haus. Akan tetapi, seluruh panca indera juga harus ikut berpuasa. Yakni, berpuasa dari semua yang dilarang Allah.

Puasa adalah menjaga hati agar tidak melulu sibuk memikirkan urusan duniawi. Puasa adalah menjaga mata hati agar selalu ingat dan berdzikir kepada Allah. Puasa adalah berupaya sekuat tenaga mengakrabkan diri pada aktivitas-aktivitas yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang banyak. Puasa adalah, meluruskan niat bahwa segala aktivitas kita bertujuan untuk meraih ridho Allah SWT.

Seperti dituturkan Yahya Ayyas, Islam sangat menekankan pentingnya sisi pembinaan ruhiyah. Dengan pembinaan ruhiyah yang baik, mentalitas seorang muslim menjadi kuat, potensi gerakannya berkembang pesat, aktivitasnya meningkat dan mampu memikul beban dan tugas-tugas dakwah secara baik.

Imam Al Ghazali dalam “Ihya Ulumuddin” mewanti-wanti enam perkara yang patut diperhatikan oleh orang yang sedang berpuasa. Pertama, menahan pandangan dan menjaga hati dari lalai mengingat Allah. Sebagaimana dikatakan Rasulullah, “Pandangan adalah panah beracun dari iblis. Barangsiapa yang meninggalkan pandangan karena takut pada Allah, maka akan didatangkan oleh Allah kemanisan iman dalam hatinya”. (dirawikan Al-Hakim dari Huzaifah dan shahih sanadnya).

Kedua, menjaga lidah dari perbuatan yang sia-sia dan berdusta/berbohong. Ketiga, mencegah pendengaran dari mendengar hal-hal yang dilarang Allah maupun yang bersifat makruh. Keempat, mencegah anggota tubuh yang lain dari segala hal yang membawa dosa. Demikian juga makanan dan minuman yang subhat ketika berbuka.

Kelima, tidak berlebih-lebihan sewaktu berbuka puasa. Keenam, sesudah berbuka, hatinya bergantung dan bergoncang antara takut dan harap, karena tidak mengetahui apakah puasanya diterima atau ditolak.

Ramadan di tengah Covid-19

Ramadan kita tahun ini sungguh dalam keadaan tantang berat, Umat Islam sedang diuji menjalani puasa Ramadan sambil berjibaku memerangi covid-19. Sungguh, melawan covid-19 adalah perang melawan musuh yang tidak nampa. Ini tentu sangat berat, dan membutuhkan jurus-jurus khusus.

Kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Lebih mengkhawatirkan lagi, karena masih banyak umat Islam yang menjalani ibadah Ramadan dengan nafsu, bukan dengan akal dan imu mereka. Misalnya, mereka masih terlihat berdesak-desakan di masjid-masjid, baik untuk tarawih maupun menjalani buka bersama di masjid. Niat mereka sangat mulia, yakni menjaring pahjala Ramadan sebanyak-banyaknya. Akan tetapi di tengah pandemi wabah, hal; itu sangat tidak baik.

Kondisi seperti sekarang ini, pernah terjadi pada masa Kesultanan Banten, yakni era Sultan Mufakir. Bahkan, kondisi ini juga pernah terjadi pada masa para sahabat besar dan juga pada masa Rosulullah SAW. Baik Rasulullah SAW maupun para sahabat selalu mewanti-wanti, bahwa jika di stuatu kaum terjadi wabah maka kaum yang ada di dalam jangan sampai keluar dan yang ada di luar jangan sampai ke dalam.

Bahkan para sahabat juga memberlakuan kebijakan jaga jarak, yakni meminta umat Islam ketika itu menghindari kerumunan massa. Wabah seperti ini pernah pandemik, yani semasa Amr bin Ash berkuasa. Saking sedihnya, Amr bin Ash berkata” “Wabah itu seperi api, dan bahan bakarnya tubuh manusia”.

Alhamdulillah, pemerintah Indonesia, termasuk Majelis Ulama Indoensia (MUI) sejak awal-awal telah mengeluarkan imbauan terkait melawan covid-19. Antara lain, jangan berekerumun, jaga jarak, gunakan masker, dan sering-sering mencuci tangan. Demikian juga MUI, sudah sering mengeluarkan fatwa terkait perang melawan covid-19. Antara lain yang paling aktual, adalah imbauan bekerja dan beribadah di rumah saja.

Untuk melawan covid-19, masyarakat Banten harus ikut berperang. Carahnya, ikuti imbauan pemerintah dan ulama, yani tinggal di rumah dan jika keluar rumah harus menggunakan masker dan rajin mencuci tangan.

MUI mengimbau agar beribadah di rumah saja, bahkan termasuk tarawih. Kita tahu, tarawih adalah salah satu amalan sunah. Dan ita tahu, amalan sunah lebih bagus dikerjakan di rumah. Hal ini seperti dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Tarawih di rumah adalah peluang bagi para orang tua, yakni untuk menjadi imam di tengah keluarga kita. Saya yakin, menjadi imamnya orangtua di tengah keluarga akan sangat berkesan bagi anak dan istri. Semoga, dengan perjuangan tetap tinggal di rumah, insya Allah penyebaran virus ini akan segera berhenti dan kita kembali pada kehidupan yang normal. (Pengurus MUI Provinsi Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here