Ramadan, Atlet tak Libur Latihan

Ramadan sering menjadi alasan untuk bermalas-malasan, karena kondisi tubuh lemas akibat kurang asupan nutrisi. Oleh karena itu, tidak sedikit yang menghabiskan waktu berpuasa dengan tidur. Akan tetapi, hal tersebut tidak dilakukan oleh sejumlah atlet Banten, yang saat ini sedang melakukan persiapan jelang keikutsertaan pada ajang Pekan Olah Raga Nasional (PON) XX di Papua.

Pelaksanaan PON XX memang baru digelar pada 2020. Namun untuk mendapatkan tiket menuju multievent olah raga terbesar di Indonesia tersebut, seluruh atlet wajib mengikuti babak prakualifikasi PON (Pra-PON). Oleh karena itu, atlet Banten wajib menjaga kondisinya pada titik terbaik mereka untuk mendapatkan hasil maksimal dan meraih tiket dari hasil Pra-PON.

Apalagi, KONI Banten mencanangkan hanya atlet yang menempati peringkat tiga besar pada Pra-PON, yang akan diberangkatkan menuju PON XX di Papua. Oleh karena itu, seluruh atlet terbaik Banten berusaha sebaik mungkin, untuk berada pada kondisi terbaik mereka meski saat berpuasa.

Ketua Satgas PJP KONI Banten Hengky Bremer mengatakan, atlet Banten yang akan mengikuti babak Pra-PON tetap menjalani latihan rutin, terutama mereka yang masuk program Pelatda Jangka Panjang (PJP) KONI Banten. Hanya saja terjadi pengurangan volume atau porsi latihan, yang akan disesuaikan dengan kondisi saat berpuasa.

“Tetap berjalan (latihan), hanya mengurangi volume, intensitas atau mengubah jadwal saja. Jadi yang biasanya mungkin berlatih saat pagi hari, menjadi sore hari atau malam hari. Porsi latihan pun akan dikurangi, yang mungkin berlatih beban atau yang membutuhkan fisik ekstra akan dikurangi beberapa persen,” ujarnya kepada Kabar Banten.

Tentu saja, kata dia, hal itu dilakukan untuk memaksimalkan hasil pada Pra-PON yang rencananya akan dilaksanakan 2019 mendatang. Banten tidak ada waktu lagi untuk bersantai-santai, jika ingin meraih hasil maksimal pada Pra-PON tersebut.

“Ini semua kan sasarannya untuk menghadapi Pra-PON, karena 2019 itu kan Pra-PON sudah berjalan. Jadi tidak ada kesempatan lain, mereka (atlet) harus berlatih meski saat berpuasa. Mereka harus menjaga kondisi fisik mereka. Jadi bulan puasa bukan berarti libur latihan,” katanya.

Ia menambahkan, dalam berlatih saat Ramadan ini seluruh pelatih di masing-masing cabang olah raga, sudah mengetahui porsi latihan yang harus diberikan. Sehingga KONI Banten tidak perlu khawatir jika terjadi over training kepada atlet terbaik mereka.

“Jika mewaspadai pola latihan tidak ada, karena tidak akan terjadi over training, karena yang latihan semula pagi kan menjadi sore. Yang biasanya setiap hari menjadi dua hari sekali, jadi tidak mungkin terjadi over training. Apalagi, beban latihan juga dikurangi, ya disesuaikan selama Ramadan ini, yang terpenting atlet Banten tidak mengalami penurunan fisik,” ucapnya.

Senada diungkapkan Sekretaris Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Banten Fiva Zabreno, yang tetap menjalankan latihan meski taekwondoin Banten sedang berpuasa. Bahkan, seluruh taekwondoin yang menjalani program Pelatda tetap berpuasa, meski mereka harus berlatih.

“Mereka tetap latihan, kami tidak memberlakukan libur latihan saat Ramadan. Hanya saja memang mengalami pengurangan porsi latihan, hanya 40 persen dari pola latihan biasanya. Pola latihan ini akan terus dipertahankan hingga lebaran nanti. Ya begitu Ramadan berakhir, nanti latihan akan kembali seperti biasanya,” katanya.

Ia mengatakan, latihan saat Ramadan dilakukan untuk menjaga kondisi fisik taekwondoin Banten, apalagi mereka akan menghadapi PON XX. Selain itu, mereka juga kan akan menghadapi Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) V Banten, jadi mereka harus menjaga kondisi fisiknya.

“Dengan berlatih, mereka dapat menjaga kondisi fisik mereka, agar pada Porprov dan PON nanti mendapat hasil maksimal. Apalagi, jika mereka mengalami pengurangan kualitas, ya dipastikan mereka akan terdegradasi dari Pelatda,” tuturnya. (Yandri Adiyanda)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here