“Rafe’i Ali Institute” Bedah Watak Orang Banten

PANDEGLANG, (KB).- Rafe’i Ali Institute (RAI) yang beralamat di Kampung Jaha Masjid, Desa Sukamaju, Labuan Pandeglang menyelenggarakan NGAKEUL AKAL berformat diskusi pekanan dengan tema “Watak Orang Banten”, Sabtu (29/7) pukul 20.00-23.00. Materi dibawakan oleh Ahmad Bachtiar Faqihuddin, peneliti sejarah dari Rafe’i Ali Institute. Sebelum diskusi dilangsungkan, Faqih sebagai pemateri telah terlebih dulu menulis artikel ilmiah dan diposting di website RAI. Artikel tersebut, setelah melalui proses editing, dikirimkan ke media massa cetak dan dimuat.

Direktur Eksekutif Rafe’i Ali Institute, Atih Ardiansyah mengatakan, ada sebuah tradisi yang ingin dibangun dan dilestarikan di RAI. Tradisi tersebut adalah menyertakan tulisan ilmiah sebagai pengantar diskusi. Tulisan tersebut diharapkan menjadi pemandu bagi peserta diskusi, selain diharapkan menjadi stimulus bagi peserta untuk memberikan tanggapan atas tulisan tersebut. “Lebih bagus kalau pemateri menyajikan tulisan yang layak muat di media massa. Kemudian audiens nanti mengirimkan pula tulisan tanggapan ke media massa. Kalau ini terus dipupuk, maka tradisi kecendekiaan keulamaan akan terpelihara,” ujar dosen ilmu komunikasi FISIP Universitas Mathlaul Anwar ini.

Anggota Dewan Perpustakaan Provinsi Banten ini menambahkan, masih jarang komunitas atau organisasi kepemudaan yang memerhatikan tradisi menulis dalam setiap diskusi. Diskusi yang tidak ada artikel pengantar, tambahnya, cenderung membuat diskusi kehilangan arah. Hal itu membuat diskusi-diskusi menjadi hambar, lebih banyak waktu yang terbuang, serta tak ada hasil yang jelas yang bisa dijadikan rekomendasi atau hal-hal lainnya.

Tradisi diskusi semacam itu membuat RAI memiliki kekhasan tersendiri. Maka tidak mengherankan ketika pada 2017, melalui rekomendasi Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Provinsi Banten dan Pusat, RAI ditunjuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai penyelenggara program Kampung Literasi. Di Banten, ada dua titik Kampung Literasi. Selain di RAI, titik lainnya yaitu di TBM Kedai Proses Kabupaten Lebak. “RAI ingin menjadikan kegiatan baca-tulis sebagai corak gerakan. Itu adalah kerja kecendekiaan, kegiatan para ulama terdahulu yang sayangnya banyak kita abaikan,” ucap pengamat komunikasi politik ini.

Fanatik

Dalam diskusi tematis yang dihadiri belasan peserta dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, guru dan organisasi kepemudaan itu, Faqih mempresentasikan watak orang Banten dengan tinjauan sejarah. Melalui berbagai literatur, tersaji beberapa pendapat mengenai bagaimana orang Banten. Faqih mengetengahkan asal mula istilah “Banten” saat membuka presentasi. Dari berbagai istilah yang dikemukakan berdasarkan sumber, ada satu istilah yang lalu menjadi pokok perbincangan.

“Menurut Ajip Rosidi, salah satu muasal nama Banten adalah Bantahan yang artinya suka membantah dan memberontak,” ujar Faqih, yang juga guru sejarah di beberapa SMA di Pandeglang. Karakter orang Banten yang suka memberontak ini, tambah Faqih, secara faktual bisa ditemukan dari beberapa kejadian seperti pemberontakan petani Banten 1888 (Geger Cilegon), perlawanan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang pada 1750, serta perlawanan Kesultanan Banten terhadap kebijakan kerja rodi pada masa Deandels. Peristiwa yang terakhir disebutkan tadi merupakan kejadian yang berdampak pada dihapuskannya Kesultanan Banten pada 1808.

Faqih lalu mengajak peserta diskusi untuk mencari akar dari watak orang Banten. Menurutnya, satu sifat yang menjadi induk bagi sifat-sifat lain yang lalu menjadi karakter dan watak adalah adanya fanatisme pada orang Banten.  “Orang Banten itu kalau beragama sangat fanatik. Fanatisme inilah yang membuat orang Banten berani mengangkat senjata saat dilunjak oleh penjajah Belanda. Terlebih ketika semangat perlawanan itu disulut api jihad, fanatisme agama, oleh para kiai,” katanya. Diskusi yang ditutup pada pukul 23.00 itu dihadiri oleh guru-guru dari SMK Al Kaffah, MA Annizhomiyyah, mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, dan Forum Diskusi Pemuda Patia. Untuk diskusi edisi selanjutnya, RAI akan mengkaji karakter media di Banten. (H-51)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here