Rabu, 20 Februari 2019
Breaking News

Qunutan, Tradisi 15 Ramadan

Tradisi qunutan adalah salah satu cara masyarakat mensyukuri telah melewati paruh pertama Ramadan. Tradisi yang digelar setiap 15 Ramadan itu, biasanya masyarakat membuat ketupat bersama opor ayam atau sayur kulit tangkil dan sambel kentang goreng. Dari sinilah sebagian masyarakat, ada yang menyebut qunutan dengan sebutan kupatan.

Sebagai tanda bersyukur telah mampu melewati setengah perjalanan di bulan Ramadan, tradisi qunutan juga menjadi momentum saling berbagi makanan dan berkumpul bersama di masjid/musala pada malam harinya. Ketika Salat Tarawih, ulama fiqh juga menganjurkan untuk membaca doa qunut yang juga diyakini untuk menolak bala (musibah).

Sebab, 15 hari yang terakhir bulan Ramadan akan banyak sekali godaan yang dialami oleh umat Islam dalam berpuasa. Sehingga, diharapkan umat Islam tetap kuat dalam beribadah puasa meskipun berat dan banyak godaan.

”Dalam qunutan merupakan tradisi yang baik dan tidak melanggar syariat, karena hakikatnya di dalamnya itu adalah kegiatan bersedekah. Hanya saja, dibungkus dengan sebuah tradisi yang sudah beredar di masyarakat,” kata Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pandeglang, KH. Tb. Hamdi Ma’ani, Rabu (30/5/2018).

Dalam tradisi qunutan atau kupat qunutan, biasanya masyarakat membawa ketupat yang sudah matang ke masjid menjelang Salat Tarawih dan kemudian melakukan riungan (pembacaan doa) oleh jemaah usai Salat Tarawih. Uniknya, yang dibawa bukan hanya ketupat, tetapi juga lengkap dengan sayur dan lauk pauk lainnya.

“Selain ketupat dimakan bersama-sama, juga sisanya ketupat tersebut dibagi-bagikan untuk dibawa pulang oleh jemaah. Yang dimaksudkan untuk meraih berkah pada bulan suci ini,” ujarnya.

Bahkan sebagai pertanda memasuki qunut, jelas dia, tradisi itu dikenal dengan qunutan karena imam membacakan doa qunut pada rakaat terakhir pelaksanaan salat witir.

“Qunutan adalah tradisi lama yang masih diwariskan hingga saat ini. Tidak ada yang tahu pasti kapan dimulainya tradisi tersebut. Ada yang menyebutkan tradisi itu telah berlangsung sejak zaman Kesultanan Demak,” tuturnya.

Dengan bersedekah berupa makanan tersebut, menurut dia, masyarakat berharap bisa menjalani puasa yang tersisa tanpa ada hambatan. “Harapannya tentu ingin meraih malam lailatul qadar yang ada pada penghujung Ramadan,” katanya.

Selain itu, tradisi tersebut juga sebagai bentuk rasa syukur umat muslim karena berhasil menjalani separuh Ramadan. Bahkan, katanya, qunutan masih berlangsung hampir di seluruh wilayah Banten.

“Saya berharap tradisi ini bisa tetap berlangsung, meskipun sekarang katanya era globalisasi atau era modern,” ucapnya. (Iman Fathurohman)*


Sekilas Info

Tadarus Hingga Bazar Ramadan di Masjid Raya Al-A’zhom

Beragam aktivitas bisa dilakukan untuk menunggu waktu berbuka puasa. Ada yang mengawali aktivitas jalan-jalan, berburu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *