Puluhan Tahun Jadi TKI tanpa Digaji Kesabaran, Sukmini Akhirnya Berbuah Manis

IMPIAN mendapatkan gaji besar serta kondisi ekonomi keluarga yang sangat kekurangan, membuat keluarga melepaskan Sukmi binti Sardi Umar, remaja berusia 14 tahun untuk berangkat ke sebuah negara di timur tengah sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Cerita indah dan harapan untuk mendapatkan uang besar sebagai asisten rumah tangga pada sebuah keluarga di negara orang nampaknya tidak mudah bagi warga Kampung Tangkor, Desa Mekar Sari, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak itu.

Kondisi pekerjaan, perlakuan majikan dan terutama terus tertundanya pembayaran upah hingga 22 tahun, membuat gadis periang itu menjadi tertutup, dan sulit diajak bicara, terlebih jika membicarakan pekerjaannya selama berada di Arab Saudi. Tak tahan mendapat perlakuan majikan, serta tak pernah adanya kepastian tentang pembayaran upahnya selama 22 tahun, Sukmi akhirnya nekat kabur dari rumah majikannya. Sukmi diselamatkan oleh KBRI Riyadh dan akhirnya dipulangkan ke rumah keluarganya pada Sabtu (15/7/2017) lalu.

Ibunda Sukmi, Umsah bercerita, saat kedatangan Sukmi ke kampung halaman di Lebak, anaknya itu tidak membawa apa-apa kecuali koper berisi 5 setel pakaian dan yang digunakan di badan.
”Keluarga marah dan kecewa terhadap majikan yang selama ini mempekerjakan Sukmi. Saat datang Sukmi hanya membawa koper berisi pakaian lima pasang. Majikannya kereng (majikannya jahat),” ujar Umsah.

Namun kesabaran Sukmi dan keluarga akhirnya berbuah manis. KBRI Riyadh berhasil melakukan negosiasi dengan majikan dan Sukmi mendapatkan kompensasi sebesar Rp 586.600.000
Menurut Umsah, keluarga sangat bersyukur anaknya bisa kembali ke kampung halaman. Penantian selama 22 tahun membuat keluarga bahagia bercampur sedih. Ia berharap uang tersebut digunakan sebaik-baiknya, misalnya untuk membangun tempat tinggal Sukmi. “Jeung bekel maneh na bae, teu boga imah teu boga nanaon. Kula mah teu boga nanaon (Untuk bekalnya Sukmi, karena tidak punya rumah dan tidak punya apa-apa. Saya pun tidak punya apa-apa),” kata Umsah pada sebuah media nasional.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnaker) Kabupaten Lebak Maman Suparman menyatakan keprihatinan dengan kasus yang menimpa Sukmi. Untuk mencegah terulangnya kembali kasus seperti itu, pihaknya meminta agar TKI asal Kabupaten Lebak mendaftarkan diri pada Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) setempat untuk memudahkan pengawasan dan perlindungan. “Kasus TKI bernama Sukmi (54) warga Desa Mekarsari Kecamatan Maja Kabupaten Lebak bernama yang menghilang selama 22 tahun harus menjadi pelajaran kita semua. Kami prihatin dan terkejut mendengarnya, karena tidak terdaftar pada Disnaker,” kata Kadisnakertrans.

Diakuinya, Pemerintah Kabupaten Lebak hingga kini belum memiliki data TKI yang akurat karena warganya bekerja ke luar negeri melalui sponsor Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) di luar daerah. ”Kebanyakan TKI berangkat melalui sponsor dari Jakarta,Bekasi dan Tangerang. PJTKI dari luar daerah yang merekrut warga Lebak tidak memberikan laporan tembusan kepada pemerintah daerah. Sehingga Pemerintah daerah kesulitan untuk melakukan pendataan terhadap TKI asal Lebak karena keberangkatan maupun kedatangan ke tanah air juga tidak melapor. Kami minta PJTKI dan masyarakat yang hendak bekerja ke luar negeri terlebih dahulu tercatat pada dinas terkait,” ucapnya.

Ditambahkan, pemerintah daerah sudah menyebar peringatan kepada aparat desa, kelurahan dan kecamatan agar para TKI asal Lebak tercatat di instansi pemerintah daerah. Selain itu juga para TKI agar memiliki sertifikat keterampilan yang dikeluarkan Kelompok Berlatih Berbasis Masyarakat (KBMM) yang ditunjuk Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). “Kami berharap TKI asal Lebak yang bekerja ke luar negeri terdaftar juga memiliki sertifikat kompetensi. Kompetensi keterampilan itu dinilai sangat penting sehingga bisa bekerja dengan baik dan berhak menerima gaji yang layak,” katanya.(Nana Djumhana/KB)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here