Puluhan LPK di Kabupaten Serang Belum Terakreditasi

SERANG, (KB).- Pihak Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Serang menyebutkan, dari 24 lembaga pelatihan dan kursus (LPK) yang ada di wilayahnya baru empat yang terakreditasi. Hal tersebut terjadi, karena kebanyakan LPK tersebut, belum memiliki sarana prasarana yang memadai.

Kepala Bidang Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja Disnakertrans Kabupaten Serang Sutarya mengatakan, saat ini di Kabupaten Serang sudah ada 24 LPK swasta yang tersebar di beberapa kecamatan se-Kabupaten Serang. Dari 24 LPK, sebanyak 4 LPK sudah terakreditasi. Untuk yang terakreditasi artinya mereka sudah memadai dari sisi peralatan, sarana prasarana, dan infrastrukturnya.

“Masih banyak (belum akreditasi) dan kami dorong. Banyak faktor untuk dapat akreditasi dari segi peralatan belum mumpuni,” katanya kepada Kabar Banten saat ditemui di ruang kerja, Jumat (15/11/2019).

Oleh karena itu, ujar dia, pihaknya terus memotivasi 20 LPK lainnya yang belum terakreditasi, agar segera mengurus akreditasinya. Ia mengungkapkan, dari jumlah tersebut, ada yang sudah terakreditasi, sudah terdaftar di kementerian serta yang belum perpanjang izin.

“LPK itu punya swasta, tapi kewajiban kami untuk membinanya terkait tata kelola hingga hasil pengembangannya,” ucapnya.

Menurut dia, penting adanya akreditasi tersebut. Oleh sebab itu, bagian dari pengakuan atau legalitas LPK sesuai standar. Kemudian, ketika mengajukan bantuan baik ke Balai Latihan Kerja (BLK) Serang atau kementerian, mereka akan diutamakan.

“Jadi, kalau sudah akreditasi, dapat bantuan akan mudah. Empat (LPK yang sudah terakreditasi) itu Gaya Busana di Bojonegara, Kharisma di Ciruas, Yulia Jaya di Kramatwatu itu bidang menjahit dan tata busana terus Teknos di Ciruas itu bidang komputer dan bahasa. Dari LPK yang ada kebanyakan bahasa, ada menjahit, bengkel motor, itu yang kami dorong, agar akreditasinya. Itu (akreditasi) dari kementerian melalui lembaga akreditasi di provinsi,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya juga saat ini memiliki program BLK komunitas di pesantren atau lembaga keagamaan untuk lima titik. Bantuan yang diberikan untuk BLK tersebut, langsung dari kementerian berupa bangunan dan peralatannya.

“Yang sudah jadi bangunannya itu di Carenang, kalau Anyer Desember ini jadi, tahun ini kami dapat lima. Karena, kemarin baru tahap bangun bidangnya ada komputer dan bahasa,” katanya.

Disinggung soal minat untuk ikut pelatihan, dia mengatakan, saat ini masih minim. Sebab, ketika banyaknya pencari kerja (pencaker) yang membuat kartu kuning, pihaknya sudah menawarkan, agar ikut pelatihan. Namun, pencaker menjawab lebih tertarik bekerja, dibanding ikut pelatihan.

“Kami ironis, pencaker ratusan, tapi ketika butuh (untuk mengisi kuota) pelatihan sangat kurang. Nah, di situ kelihatan minatnya, ketika disampaikan ada pelatihan jawabannya kami mah inginya gawe bukannya pelatihan. Padahal, ketimbang tunggu panggilan mending dimanfaatkan (pelatihan),” ujarnya.

Kepala Seksi Pelatihan Disnakertrans Kabupaten Serang Didi Rosadi menuturkan, sampai saat ini sudah ada 1.472 orang dari berbagai sumber keahlian yang dilatih. Jumlah tersebut, sudah melebih target dari Disnaker yang dibiayai APBD, yakni 120 orang. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here