Puisi Khatib Mansur untuk Profesor Suparman Usman

Pada acara “Tasyakuran Prof Dr H Suparman Usman SH, 50 Tahun Perkawinan Emas, dan Peluncuran Buku Otobiografi 77 Tahun Perjalanan Hidup Mengabdi” di Hotel Ledian, Minggu (16/12/2018), Prof Dr H Suparman Usman SH mendapatkan banyak hadiah kebahagiaan. Salah satunya adalah “hadiah” puisi dari mantan mahasiswanya, Khatib Mansur.

Dalam acara yang dihadiri banyak tokoh dari berbagai kalangan itu, Khatib Masyur membacakan puisi ciptaannya yang ditujukan untuk Prof Suparman. Berikut puisinya:

Guru Besar 

Cahaya mentari menerangi jagat raya… hari-hari yang indah karena cahanya-Nya
Malam kadang berbintang… kadang purnama
Ilmu Pengetahuan adalah keagungan caha-Nya
Namun tak semua cahaya masuk ke dalam hati dan pikiran
Kecuali diperoleh dengan kesungguhan dan perjuangan… lahir dan batin
Tak ada jalan pendek… tak ada teman yang dapat menolong di dunia ini… kecuali jalan yang terang…                    itulah ilmu pengetahuan sebagai karunia-Nya

Sosok Prof Dr H Suparman Usman SH mampu meraih keagungan cahaya itu
Beliau adalah guru besar yang diteladani banyak orang
Pokok-pokok pikiran disampaikan… berbagai ilmu dan pengalaman
Berpuluh-puluh artikel… berpuluh-puluh buku… beliau tuliskan
Tak pernah merasa jemu… bagaikan cahaya mentari
Ucapan-ucapan arif bijaksana… menembus “langit”
Perjuangan meraih ilmu pengetehuan sungguh berat… berbagai rintangan kadang membuat hati pasrah

Namun tidak bagi Prof Suparman!
Beliau tapaki “jejak-jejak langit” dengan penuh sabar
Semangat membaja mampu menyingkirkan rintangan
Kadang retorika tak mampu menjelaskan… apa yang telah diraih… karena bukan pekerjaan pikiran… tetapi ada dalam perasaan yang teramat dalam
Rasa hanya dapat disampaikan dengan rasa
Tak dapat digambarkan dengan suara dan kata-kata dalam lisan
“Dangkal” tak dapat diajuk… “dalam” tak dapat diukur
Ilmu pengetahuan biduk di tengah samudera hikmah Allah bertabur di jagat raya ini
Biduk yang dikayuh kadang terguncang ombak dan gelombang dahsyat

Keluh kesah… tidur yang kurang… air mata… hati perih… adalah sisi keindahan dan kenangan manis masa lalu… sulit dilupakan
Tugas mulia beliau pikul sekuat tenaga… karena ilmu menuntut… beliau disiplin waktu… beliau adalah ayah bagi anak-anaknya… suami bagi istri tercinta… juga guru bagi masyarakat

Hari ini adalah hari bahagia dan suka cita… menebus jerih payah berpuluh-puluh tahun lamanya
Meraih ilmu pengetahuan tak semudah membalikkan telapak tangan
Beliau sudah seperti di atas “langit”… tak sanggup lagi mengungkapkan hari-hari bersejarah masa lalu
Keberhasilan tak selamanya karena pikiran… tetapi kekuatan hati jauh lebih besar
Keteguhan hati menentukan masa depan… kini beliau menikamti hasilnya
Perasaan hati kadang tak sanggup diuraikan… air mata kebahagiaan adalah jawaban yang cukup sederhana… karena Allah kabulkan doa… cita-cita dan perjuangan
“Allahumma yaa roofi’adzdzarojaat”
Kesulitan menuntut ilmu… akhirnya mengantarkannya pada puncak kemuliaan

Minggu, 16 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here