Puasa Mendorong Etos Kerja

Oleh : Didin Haryono

Dari Aisyah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani, No: 891, Baihaqi, No: 334).

Bekerja merupakan bentuk ikhtiar manusia dalam mengembangkan potensi diri dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Islam mengajarkan, bekerja harus dilandasi spirit bukan hanya duniawi tetapi juga ukhrawi.

Islam juga menuntun agar manusia bekerja dengan baik dengan dilandasi niat beribadah. Dengan demikian, hasil bekerjanya bisa bermanfaat bagi sesamanya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Bayyinah ayat 7, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan melakukan pekerjaan yang baik, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”

Ayat lain dalam Alquran menyebutkan bahwa orang-orang yang beriman dan bekerja secara baik dan profesional akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Ini lah yang membedakan prinsip bekerja seorang muslim dengan lainnya. Apa yang dikerjakan di dunia juga tujuan utama meraih kebahagiaan di akhirat.

Berkenaan dengan etos kerja, seringkali mengaitkan dengan kondisi lahiriyah. Misalkan, apakah muslim yang berpuasa, akan optimal dalam bekerja. Pertanyaan ini selalu muncul saat umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Sejumlah lembaga pemerintahan maupun swasta selalu melakukan penyesuaian waktu kerja berupa pengurangan jam kerja saat bulan Ramadan. Seperti halnya perubahan jam kerja ASN memang dimungkinkan karena mengacu pada Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Nomor 394 Tahun 2019 tentang Penetapan Jam Kerja pada Bulan Ramadan 1440 H.

Pada Surat Edaran yang ditandatangani Menteri PANRB Syafruddin tersebut juga dijelaskan jumlah jam kerja efektif bagi instansi pemerintah pusat dan daerah yang melaksanakan lima atau enam hari kerja selama bulan Ramadan minimal 32,5 jam dalam satu minggu.

Ketentuan pelaksanaan lebih lanjut mengenai jam kerja pada bulan Ramadan tersebut diatur oleh pimpinan instansi pemerintah pusat dan daerah masing-masing dengan menyesuaikan situasi dan kondisi setempat.

Di Provinsi Banten, Gubernur Banten Wahidin Halim mengeluarkan keputusan pemberlakukan jam kerja aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Provinsi Banten selama Ramadan. Yakni ASN diwajibkan masuk kerja mulai pukul 06.00 sampai dengan pukul 12.30. Kebijakan tersebut mulai diberlakukan, Selasa (7/5/2019).

Kecuali, ASN yang bertugas pada organisasi perangkat daerah (OPD) yang berhubungan dengan pelayanan langsung kepada masyarakat seperti Samsat, rumah sakit dan sebagainya.

Salah satu alasan Gubernur Banten memajukan jam kerja agar para ASN tetap produktif bekerja meskipun sedang berpuasa. Dengan memajukan jam kerja lebih awal dan waktu pulang siang hari, diharapkan para ASN dapat bekerja lebih fokus dan bisa tetap beraktivitas lain di lingkungannya masing-masing.

Kebijakan gubernur dalam pemberlakukan jam kerja seusai edaran MenPAN-RB. Lebih dari itu, yang penting yakni pengurangan jam kerja tersebut dalam rangka efektivitas dan meningkatkan etos kerja.

Bulan Ramadan, semestinya membuat ASN atau masyarakat dalam berbagai profesi, harus lebih giat bekerja. Puasa bukan menjadi alasan untuk bermalas-malasan, malah semestinya mendorong peningkatan produktivitas kerja.

Dr Apidar, M.Si dalam “Puasa dan Etos Kerja,” Serambi.com (18/7/2013), mengungkapkan ada tiga nilai pokok dalam ibadah puasa. Pertama, adalah adanya sikap kritis dan peduli terhadap lingkungan sosial sekitar. Kedua, adanya keterkaitan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial (kelompok), dan ketiga, lahirnya jiwa keagamaan yang inovatif, kreatif, efisiensi dan inovatif.

Dari ketiga nilai itulah tertanam sejumlah spirit puasa dalam upaya peningkatan produktivitas kerja. Peningkatan produktivitas kerja, satu caranya dimulai selama Ramadan. Bulan Ramadan menjadi ujian awal untuk menguji etos kerja seseorang. Jika etos kerja meningkat selama Ramadan, maka sudah bisa dipastikan secara alamiah bahwa produktivitas kerjanya juga terus meningkat pada bulan-bulan setelah Ramadan.

Puasa Ramadan juga menguji apakah umat Islam bisa tetap beraktivitas optimal dan keseharian bekerja. Karena kunci puasa Ramadan sejatinya ada pada spirit pengendalian diri, menahan dari kebutuhan lahiriah manusia, makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan.

Selain mengendalikan diri dari perbuatan tercela, penyakit hati dan sebagainya. Jadi jika hati bersih, punya spirit yang kuat, maka raga manusia tidak akan bermasalah dan aktivitas kerja tetap normal dan bahkan meningkat. (Penulis adalah Asisten Deputi BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Banten Bidang Kepesertaan)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here