PTPN VIII Dituding tak Peduli Lingkungan

LEBAK, (KB).- Sejumlah warga Desa Leuwi Ipuh, Kecamatan Banjarsari mengaku kecewa dengan keberadaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) atau kebun PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII (Persero). Alasannya, selama ini perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu, tidak peduli terhadap kondisi lingkungan masyarakat setempat.

Menurut beberapa warga Kampung Sukajadi Desa Leuwi Ipuh, keberadaan BUMN di Desa Leuwi Ipuh, pihak PKS selama ini tidak memperdulikan lingkungan masyarakat kampung tersebut. Bahkan, perusahaan besar yang bergerak dibidang perkebunan dan pabrik kelapa sawit itu terkesan membuat kumuh lingkungan terdekat.

“Sepengetahuan kami, biasanya yang namanya perusahaan ada Corporate Social Responsibility (CSR). Tapi, sebaliknya bukannya memberiakan CSR, malah mengotori lingkungan, khususnya di Kampung Sukajadi,” ujarnya.

Baca Juga : PTPN VIII Bantah Potong Uang Angkutan

Bentuk ketidak pedulian perusahaan terhadap lingkungan, kata dia, bisa dilihat dari pengelolaan limbah. Pihak perusahaan terkadang membuang limbah berupa tandan kosong (tangkis) sembarangan.

“Persoalan ini harus perhatian serius, karena menyangkut lingkungan,” ujarnya.

Terpisah Kepala desa (Kades) Leuwi Ipuh Ade mengaku sangat menyayangkan sikap pihak PKS PTPN VIII yang minim akan kepedulian terhadap lingkungan di desa yang dipimpinnya.

“Jangankan ada kontribusi pada pembangunan di desa. Hal kecil pinjam alat berat untuk membersihkan gorong-gorong saja yang tertutup sampah dan limbah sulitnya minta ampun,” katanya.

Karenanya, atas dasar desakan warga, pihaknya akan melayangkan surat kepada Pemkab dan DPRD agar kedepan perusahaan besar merupakan BUMN mempunyai kepedulian terhadap lingkungannya.

Sementara administratur PTPN VIII kebon/PKS Kertajaya, Wawan saat dikonfirmasi tidak memberikan jawaban tegas terhadap persoalan itu. Ia menyebut, tandan kosong (Tangkis) bukan limba. Tetapi biomassa yg dapat berfungsi sebagai mulching.

Ketika ditanya soal minimnya kepedulian kepada lingkungan, Ia menuturkan bahwa semua akan menjadi pro kontra jika ada dua kepentingan berbeda.

“Satu sisi kami sebenarnya mempunyai areal kurang lebih 2500 hektare untuk penyimpanan dan penyebaran tankis sebagai bahan organik. Satu sisi ada sekelompok masyarakat yang memanfaatkan dengan mengambil dari lokasi kebun untuk pengutipan sebagian unsstripp bunch dari tankos,” imbuhnya. (DH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here