Sabtu, 17 November 2018

PT TAPI Bantah Tudingan Karyawan

SERANG, (KB).- Pihak Manajemen PT Tamron Akuatik Produk Industri (TAPI) yang berlokasi di Kawasan Centa Brasindo Abadi Chemical Industri (CBA) Jalan Raya Cikande-Rangkas Bitung, KM 9, Desa/Kecamatan Jawilan membantah tuduhan karyawannya saat unjuk rasa, Kamis (11/1/2018). Perusahaan dianggap tak memanusikan para karyawannya dengan tak menggaji sesuai UMK dan melarangnya beribadah.

“Saya ingin klarifikasi terkait pemberitaan di luar sana, di mana pemberitaan selalu negatif tentang PT Tamron Akuatik Produk Industri. Kemarin, saya kebetulan pas ke Serang, saya membeli surat kabar (koran) ada pemberitaan atau isi di dalam pemberitaan selalu menyudutkan PT Tamron, seolah-olah memberlakukan pekerja kami tidak manusiawi,” kata Humar Resource Development (HRD) PT Tamron Akuatik Produk Industri, Silver Mogo kepada wartawan saat melakukan konferensi pers di ruang meeting, Sabtu (13/1/2018).

Ia membantah semua isi pemberitaan yang berkembang tersebut dan mengatakannya itu tidak benar. Isu yang berkembang di media massa terkait izin beribadah yang seolah-olah perusahaan tidak mengizinkan karyawan untuk ibadah Salat Magrib dibantahnya tidak benar. “Lalu, ada statement, bahwa ketika mereka ke kamar mandi dalam waktu 15 menit, itu akan dipotong gaji. Saya katakan di forum ini adalah fitnah. Kenapa, karena di sini kami ada fasilitas musala,” ujarnya.

Kemudian, ucap dia, di perusahaannya tersebut memang banyak terdapat orang asing yang tidak mengerti kultur dan aturan tenaga kerja di Indonesia. Oleh karena itu, menurut dia, masih membutuhkan waktu untuk proses adaptasi di negara ini atau di perusahaannya.  “Nah, sebenarnya tiga hari lalu ada sembilan tuntutan buruh. Nah, dari sembilan tuntutan itu tujuh poin sudah disepakati bersama baik dari pihak manajemen perusahaan maupun dari perwakilan pekerja. Nah, dari jumlah itu hanya ada 2 poin yang mereka tuntut, sampai menunggu keputusan dari manajemen,” ucapnya.

Ia menuturkan, terkait tuntutan penyesuaian UMK 2018, di forum meeting 3 hari lalu sudah disampaikan, bahwa penyesuaian UMK 2018 bukan tidak ikuti aturan. Akan tetapi, kondisi perusahaan saat ini baru berjalan 2-3 bulan. Kemudian, dia berkilah, bahwa perusahaannya hanya memproduksi udang. Di mana udang tersebut pasokannya bergantung pada sistem musiman. “Ketika harga tinggi kami tidak order, berarti pekerja kami tidak bisa melakukan aktivitas. Jadi, ini yang belum dipahami oleh kawan-kawan kami dari pekerja,” tuturnya.

Alasan lainnya, perusahaannya masih belum bisa bersaing dengan perusahaan lain. Sebab, perusahaan lain sudah beroperasi sejak 20 tahun, sedangkan perusahaannya baru seumur jagung. “Baru 2-3 bulan. Seperti itu, nah itu soal penyesuaian UMK,” katanya. Sedangkan, terkait jam kerja yang masih banyak overtime, ujar dia, pihak manajemen masih terbawa tradisi dari negara asingnya. Pihaknya sudah menyampaikan hal tersebut, bahwa dalam aturan ketenagakerjaan di Indonesia maksimal 40 jam per minggu jam kerja.

“Kami kan setiap minggu ada agenda meeting, ini kami sudah sampaikan ke pimpinan. Cuma kami hanya tinggal menunggu keputusan dan proses. Karena, mungkin di negaranya kerja ya mungkin 12 jam sehari atau 10 jam, tapi ketika mereka datang ke Indonesia kok di sini hanya 8 jam sehari, pasti mereka kaget, nah ini kami butuh waktu,” ucapnya. (DN)***


Sekilas Info

Jika Tetap di Rp 40 Miliar, Pemkab Serang akan Mengembalikan Bankeu

SERANG, (KB).- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang tetap akan mengembalikan bantuan keuangan (Bankeu) dari provinsi jika tetap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *