PT IRT Bantah Isu Kesehatan Seputar Proyek PLTU Jawa 9-10

CILEGON, (KB).- PT Indo Raya Tenaga (IRT) selaku pengelola proyek PLTU Jawa 9-10 di Suralaya menegaskan, jika operasional turbin pembangkit tenaga listrik tidak menyebabkan penyakit kanker. Perusahaan konsorsium antara swasta dan BUMN Indonesia tersebut, juga sedang mencari informasi terkait pihak yang menyebarkan isu tersebut.

Diberitakan sebelumnya, muncul petisi dari Trend Asia, sebuah organisasi pemerhati lingkungan, ditujukan kepada Pemerintahan Korea Selatan. Organisasi tersebut mengatakan, jika PLTU Jawa 9-10 yang nantinya akan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar mampu menimbulkan penyakit kanker terhadap masyarakat Suralaya.

Humas PT IRT Hamim menuturkan, jika pihaknya sedang mengikuti perkembangan terkait isu tersebut. Pihaknya akan berupaya mencari keadilan, karena ada dugaan jika itu dimunculkan untuk tujuan tertentu. “Kami baru memperoleh kabar itu, sekarang sedang mencari tahu kebenarannya,” katanya melalui rilis yang diterima Kabar Banten, Kamis (5/9/2019).

Ia menegaskan, masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan dampak kesehatan dari keberadaan PLTU Jawa 9-10. Mengingat pembangkit listrik baru tersebut, mengedepankan standar kesehatan, sasarannya efisiensi, juga kehandalan sistem kelistrikan. “Kekhawatiran akan dampak kesehatan itu hal yang tidak perlu,” ujarnya.

Dampak dari pembangunan dan pengoperasian PLTU terhadap lingkungan dan warga, tutur dia, telah dimitigasi dengan pemanfaatan teknologi terbaru. Pihaknya memandang kondisi lingkungan sekitar, adalah prioritas utama.

“Justru kami memandang, bahwa warga dan lingkungan adalah aset yang harus dilestarikan dan prioritas utama, sehingga semua dapat hidup berdampingan, saling mendukung, seperti yang telah terjadi selama ini,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Proyek Jawa 9-10 PLTU Suralaya Kardi bin Kasiran mengatakan, proyek tersebut telah memasuki tahap pembangunan. PLTU berteknologi Ultra Super Critical (USC) dengan kapasitas 2X1000 MW tersebut, merupakan kelanjutan jejak dari PLTU Suralaya Unit 1-8 yang sudah dibangun sebelumnya oleh PT PLN di area yang sama.

“Pembangunan PLTU merupakan langkah strategis sebagai bagian dari pembangunan kebutuhan listrik nasional,” katanya.

Ia menuturkan, pembangkit baru tersebut, berteknologi modern, menerapkan standar internasional dalam berbagai aspek proyek. Terutama pada bidang pengelolaan dampak lingkungan dan sosial.

“Teknologi USC layaknya pembangkit yang biasa digunakan negara-negara maju. PLTU USC ini menggunakan konsumsi batu bara yang lebih efisien dan andal, sekaligus lebih ramah lingkungan sesuai standar internasional terkini,” ujarnya.

Menurut dia, teknologi tersebut, juga menerapkan electrostatic precipitator yang menghilangkan partikel polutan, baik kondisi kering maupun basah. Teknologi USC juga menggunakan sea water flue gasdesulfurization yang menurunkan unsur sulfur.

“Penerapan Performance Standards on Environmental and Social Sustainability yang dikeluarkan oleh lembaga IFC ini, menjadi salah satu pembuktian digunakannya pengelolaan lingkungan dan sosial sesuai standar internasional,” ucapnya.

Dalam skema pembiayaan, tutur dia, pengelola dan pemerintah berupaya untuk tidak membebani APBN. Pihaknya juga meyakini, penyokong dana dari dalam dan luar negeri tidak akan begitu saja mau mendukung, jika dalam pengelolaannya mengabaikan aspek lingkungan.

“Apa yang dilakukan dalam manejemen proyek PLTU, baik dalam kegiatan prapembangunan, pembangunan hingga beroperasinya, semua dievaluasi berkala, dan terbuka,” katanya.

Saat ini, proses pembangunan proyek Jawa 9-10 masih berjalan sesuai jadwal. Kini, proyek tersebut sedang pada tahapan limited notice to proceed (LNTP). “Kontraktor utama sedang melakukan survei tanah, pengeboran, serta engineering site plan,” ujarnya. (AH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here