PSBB untuk Keselamatan Bersama

Oleh : Gito Waluyo

Corona memang belum benar-benar pergi dari Indonesia. Namun pemerintah sudah berusaha menanganinya dengan optimal. Ada berbagai langkah yang diambil, misalnya dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), stay at home, dan peluncuran ventilator serta alat rapid test buatan anak negeri.

Ketika seseorang terkena corona, ia kesulitan bernapas dan merasa sesak di dada. Untuk berdiri saja sulit dan bahkan bisa kehilangan kesadaran. Ia harus segera dirawat agar sembuh dan tidak menularkannya ke orang lain. Pemerintah langsung sigap untuk menunjuk Rumah Sakit khusus untuk pasien yang terkena virus Covid-19 dan membuat beberapa peraturan agar penyakit ini tidak tersebar ke seluruh wilayah Indonesia.

Peraturan yang dibuat oleh pemerintah dan wajib kita taati di antaranya adalah stay at home, school from home, work from home, dan PSBB. Masyarakat juga wajib memakai masker non medis ketika terpaksa pergi ke luar rumah. Mereka juga dilarang untuk pulang kampung di akhir bulan ramadhan. Bahkan para abdi negara juga dilarang keras untuk mudik dan jika ketahuan akan mendapat sanksi yang keras, mulai dari teguran hingga penurunan pangkat.

Mengapa peraturan dibuat segitu banyaknya? Ini adalah sebuah bukti bahwa pemerintah sangat perhatian pada rakyatnya dan ingin menangani Covid-19 dengan optimal. Semua langkah itu dilakukan agar masyarakat selalu aman dan tidak terjangkit corona.

Selain menerapkan aturan PSBB dan lain-lain, maka pemerintah juga menangani virus Covid-19 dengan memberikan bantuan kepada para tenaga medis. Bantuan itu berupa alat perlindungan diri dan alat-alat kesehatan yang diberikan kepada nakes di Jakarta maupun daerah-daerah lain, dan sudah sesuai dengan standar dari Kemenkes. Diharapkan dengan bantuan baju hazmat dan lain-lain, para tenaga medis akan bisa bekerja merawat pasien corona dengan maksimal.

Selain memberikan bantuan alat-alat medis, tenaga kesehatan juga diberi intensif oleh pemerintah. Besarannya bervariasi, mulai dari Rp. 5.000.000 hingga Rp. 15.000.000. Semua tenaga medis mendapatkannya, mulai dari bidan, perawat, dokter umum, hingga dokter spesialis dan dokter gigi. Jika ada nakes yang meninggal karena tertular virus Covid-19, maka keluarganya akan mendapat santunan Rp 300.000.000.

Para nakes juga tidak usah khawatir akan menularkan corona pada keluarganya di rumah, karena mereka sudah disiapkan tempat khusus untuk menginap. Tempat itu juga dijamin nyaman dan sangat higienis. Hal ini menunjukkan kepedulian pemerintah kepada para tenaga medis yang sangat berjasa untuk menghalau corona.

Untuk menangani corona, maka kementrian riset dan teknologi membentuk konsorsium Covid-19 yang tugasnya membuat inovasi untuk menangani penyakit mematikn ini. Senjata yang mereka buat untuk menangani coron ini ada hingga 55 jenis dan 9 di antaranya dilihat oleh Presiden Joko Widodo. Peluncuran senjata ini dilakukan di akhir Mei 2020.

Yang dimaksud dengan senjata adalah alat kesehatan dan alat test untuk mengetahui apakah seseorang terkena virus Covid-19 atau tidak. Senjata ini di antaranya adalah ventilator, robot asisten tenaga medis, alat rapid test, sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk menangani corona, dan lain-lain. Setelah di-launching, maka alat-alat ini diharapkan bisa diproduksi massal untuk menangani corona. Juga pengusaha dihimbau agar mau memberikan suntikan dana dan jadi investor, agar produksinya makin lancar.

Pemerintah sudah berusaha keras untuk menangani virus Covid-19. Presiden membuat beberapa aturan untuk membuat penyakit ini tidak merajalela, seperti PSBB, stay at home, school from home, dan work from home. Selain itu, pemerintah juga memberikan perhatian kepada para tenaga kesehatan yang bersusah-payah menangani pasien corona, dengn memberikan intensif mulai dari 5 juta rupiah. Presiden juga meluncurkn hasil karya dari kemenristek untuk menghalau corona, berupa ventilator, robot asisten tenaga medis, dan alat rapid test.

PSBB cegah penyebaran Covid-19

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai dilanggar oleh banyak orang dan muncul wacana untuk melonggarkan PSBB. Masyarakat pun diminta untuk tetap mentaati PSBB mengingat kebijakan itu terbukti berdampak pada perlambatan atau pengurangan kasus infeksi.

PSBB dijalankan beberapa waktu ini dan masyarakat diharap jaga jarak dan tidak keluar rumah untuk sementara waktu. Sayangnya, aturan ini hanya dijalankan sebentar saja. Di akhir bulan ramadhan, pusat perbelanjaan yang sebelumnya nyaris tak ada pengunjungnya, kini mulai ramai lagi.

Masyarakat berbondong-bondong pergi ke sana untuk membeli baju baru yang akan dikenakan di Hari Raya Idul Fitri. Tradisi tahunan ini tetap dijalankan walau kita masih berada di tengah pandemi Covid-19 dan masyarakat sepertinya tidak takut akan terkena penyakit corona. PSBB pun dilanggar hanya demi selembar pakaian baru.

Kondisi ini membuat banyak orang merasa miris. Haruskah aturan PSBB diambrukkan hanya demi baju baru? Lagipula, sekarang untuk belanja bisa dilakukan lewat online shop maupun marketplace. Harganya juga cukup bersaing dan bahkan variasinya jauh lebih banyak daripada yang dijual di dalam Mall.

Selain mall, di supermarket juga dijubeli oleh banyak pembeli yang akan menyiapkan menu lebaran. Kalau sudah begini, tiada lagi PSBB karena masyarakat yang susah diatur. Padahal aturan ini demi keselamatan kita sendiri. Apalagi jika mereka lalai, tidak memakai masker dan kurang menjaga higienitas, akan lebih rawan tertular penyakit corona.

Kondisi supermarket yang ramai ini akhirnya membawa korban. Seorang kasir supermarket di Medan positif terjangkit virus Covid-19. Semua pegawai lain akhirnya diwajibkan ikut rapid test agar tahu bahwa ia kena corona atau tidak. Sedangkan masyarakat yang pernah belanja ke supermarket tersebut juga ketar-ketir, bagaimana jika ia juga dihinggapi oleh virus covid-19?

Kalau sudah begini, maka yang ada hanya penyesalan belaka. Masyarakat yang takut tertular tapi tidak mau melakukan rapid test di Rumah Sakit, bisa berpotensi menyebarkan virus ke seluruh keluarganya. Kapan pandemi covid-19 akan berakhir jika keadaannya terus seperti ini? Seharusnya semua orang taat aturan dan melakukan PSBB dengan senang hati.

Apakah harus melakukan tindakan ekstrim agar kerumunan di supermarket dan Mall langsung bubar? Seperti yang dijalankan di sebuah tempat di Papua, ketika ada orang-orang yang berkumpul, maka petugas tanpa babibu langsung menyemprot dengan water canon. Bukankah seharusnya kita sadar bahwa PSBB ini akan mengurangi penyebaran corona? Maka harus dilakukan dengan ikhlas.

PSBB yang dilakukan di jalan juga membuat orang yang akan mudik menggerutu. Mereka nekat ingin pulang kampung lalu melakukan trik agar bisa lolos dari kejaran petugas. Di antaranya, keluarga yang akan mudik masuk dahulu ke sebah mobil, lalu mobil itu diangkut ke dalam sebuah truk yang ditutup oleh terpal. Jadi seolah-olah mengangkut barang ke luar kota, padahal tidak. Modus operandi ini sudah pernah tertangkap oleh pihak berwajib.

Jika tertangkap, maka konsekuensinya berat. Selain disuruh putar balik, maka orang-orang itu harus didenda dan nominalnya cukup bear, mulai dari 500.000 rupiah. Mereka juga harus melakukan isolasi mandiri dan jika kondisi rumahnya kurang memadai maka harus dikarantina. Di beberapa tempat, rumah untuk karantina kondisinya sangat mengenaskan karena jarang dihuni sehingga terkesan suram. Mereka harus menempatinya selama 2 minggu, dalam bayang-bayang ketakutan. Apakah Anda mau juga melakukannya karena melanggar aturan PSBB? Tentu jawabannya tidak.

Taatilah aturan PSBB dan sabarlah untuk beraktivitas di rumah saja. Peraturan ini dibuat bukan karena gengsi, melainkan demi keselamatan bersama. Jika semua orang tertib, maka corona akan segera pergi dan kita bisa beraktivitas dengan normal kembali. (Penulis lepas bekerja di Harian Umum Kabar Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here