Proyek Tanggul Pengaman Pantai Diprotes Warga Pesisir

Warga Caringin saat mendengar paparan dari pejabat Kementerian PUPR terkait rencana pembangunan revetment atau tanggul pengaman di Pantai Caringin. Proyek ini diprotes oleh warga karena khawatir menggusur aktivitas masyarakat di sekitar kawasan tersebut.*

Sejumlah warga pesisir dari Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, memprotes rencana pembangunan proyek revetment atau tanggul pengaman pantai di daerah tersebut. Protes itu mereka sampaikan langsung saat menghadap kepada sejumlah anggota Komisi IV DPRD Banten, Selasa (16/7/2019).

Warga yang mengatasnamakan Komunitas Anak Tepian Segara itu mengatakan, rencana pembangunan revetment bisa mengganggu aktivitas masyarakat setempat. Sebab, banyak warga yang menggantungkan hidupnya, dengan membuka sejumlah kegiatan ekonomi di sekitar kawasan Pantai Caringin.

“Intinya, kami bukan menolak program pemerintah. Tetapi, pembangunan tanggul yang dikerjakan oleh pemerintah ini banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya di sekitar pantai,” ucap perwakilan warga, Wahyudin Wahad saat audiensi di ruang Komisi IV DPRD Banten.

Di hadapan anggota Komisi IV, Wahyu menegaskan, proyek Kementerian PUPR tersebut bisa mengancam kegiatan usaha warga sekitar. Sebab, banyak warga yang sudah membuka warung dagangan. Sebab, banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat tersebut sebagai alternatif dari Pantai Carita dan Anyer.

“Kami mau itu ditata lagi, sehingga tidak mengganggu aktivitas warga yang selama ini menggantungkan hidupnya di pantai. Yang terpenting, kami juga harus diajak bicara atas proyek ini. Karena pada prinsipnya, kami mendukung supaya tidak sia-sia,” ujar Wahyu.

Selain menjadi tempat menggantungkan hidup masyarakat, kata dia, sekitar Pantai Caringin juga memiliki lokasi yang diyakini memiliki kandungan kadar air laut yang bisa menyembuhkan sejumlah penyakit tertentu. Kondisi itu banyak dimanfaatkan bukan hanya oleh masyarakat lokal. Namun, warga dari luar daerah juga banyak yang datang hanya untuk mencoba khasiat dari kandungan air laut Pantai Caringin.

“Itu sudah terbukti, Pak. Banyak dari luar Banten bahkan yang datang terus ke tempat kami. Ini harusnya bisa jadi pertimbangan. Jangan ini mah beko udah datang, sementara kami belum diajak bicara,” tuturnya.

Belum lagi, kata Wahyu, di kawasan Pantai Caringin juga terdapat makam ziarah salah seorang tokoh agama yang namanya sudah tersohor hingga ke seluruh tanah air. Dia adalah Syekh Asnawi Caringin.

“Kami minta supaya ada akses jalan yang dibangun sama pemerintah ke lokasi-lokasi di sana. Pada intinya, kami tetap memdukung proyek ini. Yang penting, tidak merugikan kami sebagai masyarakat sekitar,” ucap Wahyu.

Memperlebar akses jalan

Menanggapi hal tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen Irigasi dan Rawa I Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air C-3 pada Kementerian PUPR Junaedy Malay menyatakan, pihaknya sudah setuju untuk menyepakati permintaan warga saat beraudiensi di Komisi IV DPRD Banten.

Salah satunya, dengan memperlebar akses jalan di Pantai Caringin dari 5 meter menjadi 10 meter, yang digunakan menuju kawasan pantai dan lokasi tempat terapi tradisional tersebut.

“Sudah tercapai tadi kesepakatan dengan warga. Aspirasi masyarakat ingin ada ruang jalan untuk terapi, itu sudah bisa dipenuhi oleh kita. Kita perlebar lagi intinya agar masyarakat bisa lebih nyaman,” katanya.

Malay menjelaskan, pembangunan tanggul pengaman di Pantai Caringin merupakan proyek yang berasal dari dana APBN. Rencananya, Proyek Pengaman Pantai sepanjang 530 meter tersebut, ditarget bisa selesai pada akhir Desember 2019.

“Konstruksi revetment bukan ini yang terakhir. Kalau misalnya nanti terjadi ruang, mau tidak mau kedepannya masih bisa rencanakan lagi pembangunannya bergerak lebih ke laut. Mungkin bisa kita bikin breakwaternya (pemecah gelombang) juga,” ujarnya.

Selain di Caringin, proyek Revetment di Pandeglang juga dibangun Kementerian PUPR di wilayah Pantai Jongor, Desa Sidamukti, Kecamatan Patia dan Pantai Kemuning, Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang. Total, proyek ini memiliki panjang 7,4 kilometer dengan menelan biaya APBD sebesar Rp 74 miliar.

Mengenai adanya reaksi protes dari warga, Malay menganggap kondisi tersebut merupakan hal lumrah. Namun demikian, kata dia, manfaatnya akan bisa dirasakan langsung setelah proyek itu selesai, khususnya untuk mengantisipasi terjadinya bencana tsunami seperti yang terjadi pada akhir tahun lalu.

“Karena yg udah yang kita bangun itu justru menambah daratan. Bangunan kita yang tingginya sekitar 2 meter, itu nanti sudah tidak ada lagi. Contohnya seperti di Pantai Jongor. Sekarang itu di sana jadi tempat wisata. Kalau sore banyak warga di sana hanya buat nongkrong sambil jalan-jalan,” tuturnya.

Ketua Komisi IV DPRD Banten Toni Fatoni Mukson memastikan, hasil audiensi warga Caringin sudah disepakati oleh pihak Kementerian PUPR. Salah satunya, dengan memperlebar akses jalan dari 5 meter menjadi 10 meter.

“Alhamdulillah, hasil audiensi tadi sudah sepakat semua. Warga sudah terima, kementerian juga mau memperlebar akses jalan sesuai permintaan warga. Yang pasti, apapun yang dikerjakan oleh pemerintah itu untuk kepentingan masyarakat. Pemerintah tidak mungkin sia-sia karena semuanya sudah dengan perhitungan dan perencanaan yang matang,” katanya. (Rifat Alhamidi)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here