Proyek Betonisasi Jalan Dinilai Asal-asalan

CILEGON, (KB).-Proyek betonisasi jalan di Kota Cilegon dinilai asal-asalan. Akibatnya, warga resah karena arus lalu lintas macet. “Pembangunan jalan seharusnya melihat kebutuhan terlebih dahulu. Namun, pembangunan jalan beton yang saat ini sedang dilaksanakan tidak ada perencanaan yang matang. Lihat saja sekarang dimana betonisasi terkesan asal cor,” kata Ketua Banteng Muda Indonesia (BMI) Kota Cilegon, Supriyadi, Kamis (23/8/2018).

Ia menilai, pembangunan jalan beton tersebut terkesan asal-asalan. Hal itu, kata dia, terlihat kegiatan pembangunannya terpisah-pisah. Bahkan, di sejumlah objektivitas seperti Pasar Kelapa dan jalan yang kendaraannya mempunyai mobilitas tinggi terkesan diabaikan.

“Di Pasar Blok F Kavlink, kami melihat ada yang sudah dibangun. Namun untuk kelanjutannya tidak ada. Kemudian juga ada sepanjang 100 meter dibangun, kemudian tidak lanjut, dan yang lebih parah lagi di lingkungan Temu Putih, dimana tanjakan dibiarkan rusak,” tuturnya.

Baca Juga: Proyek Betonisasi Bermasalah

Pria yang akrab dipanggil Yadi itu menyatakan, selama ini pihaknya mendukung adanya pembangunan infrastruktur. Namun ia mengaku mendapat sejumlah laporan bahwa pembangunannya terkesan asal jadi. Yadi yang juga Ketua LSM Rumah Hijau menambahkan, pembangunan jalan selama ini lebih tinggi dari rumah yang berada di pinggir tersebut. Sehingga, ketika musim hujan maka dapat dipastikan akan terjadi banjir.

Panggil pelaksana

Menyikapi masalah tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Cilegon memanggil para pelaksana proyek betonisasi jalan, Jumat (24/8/2018). Sekretaris Dinas PUTR Kota Cilegon Muhamad Ridwan mengatakan, agenda utama pemanggilan para pelaksana proyek adalah untuk mengetahui perkembangan terakhir pekerjaan mereka.

Namun ini tidak lepas dari sejumlah temuan pihaknya, terkait hasil pekerjaan mereka selama satu bulan terakhir. “Kami ingin mengetahui sudah sejauh mana pekerjaan mereka. Jika ada kendala, apakah bisa segera ditanggulangi,” ujarnya.

Menurut Ridwan, pada dasarnya para pelaksana proyek masih memiliki waktu satu hingga dua bulan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Hanya saja, banyak masukan dari masyarakat dan temuan petugas di lapangan yang butuh perhatian pihaknya.

“Informasi-informasi dari masyarakat sudah kami tampung, seperti keluhan tentang pekerjaan yang seolah-olah tidak dilanjutkan. Begitu juga temuan-temuan petugas kami,” tuturnya. Bahkan, Ridwan mengaku mendapati salah satu pekerjaan betonisasi jalan bermasalah di wilayah Curug Santri, Kecamatan Citangkil. Masalahnya bahan material urugan pada proyek itu tidak sesuai spesifikasi. (HS/AH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here