Proses Belajar Anak Korban Banjir di Kabupaten Lebak Belum Stabil

Proses belajar anak-anak korban bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak, masih belum stabil karena masih tinggal di tempat-tempat pengungsian. Meski demikian, psikologis para pelajar sudah pulih dan kembali dapat bermain.

Berdasarkan pantauan, di perkampungan Seupang, Desa Pajagan, Kecamatan Sajira itu anak-anak yang tinggal di tenda- tenda pengungsian itu tampak bermain bersama. Mereka bermain dengan teman-teman seusianya.

Di kampung mereka, bagaikan kampung mati karena sudah tidak ada penghuni. Sebanyak 39 rumah di kampung tersebut hilang dan rusak berat, termasuk tempat ibadah.

Saat ini, warga terpaksa tinggal di tenda pengungsian sambil menunggu relokasi ke tempat yang lebih aman dari ancaman bencana alam.

“Kami bersama teman-teman sudah mulai bisa melupakan kejadian bencana alam itu, meski saat ini masih tinggal di tenda pengungsian,” kata Anisa (11), warga Kampung Seupang, Desa Pajagan, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak kepada Kabar Banten, Ahad (16/2/2020).

Setelah pulang sekolah, Anisa dan teman-temannya kembali bermain ke Kampung Seupang karena masih terdapat pepohonan yang selamat dari banjir bandang tersebut. Anak-anak itu bermain sambil memanjat pohon jambu, rambutan dan kelapa muda. Selain itu, mereka juga bermain permainan tradisional, seperti petak umpet.

“Kami dan teman-teman sangat terhibur bermain itu. Meski bencana alam membuat harta benda hilang,” ujarnya.

Anak lainnya, Yati (10) mengaku, dirinya merasa terhibur dengan teman sekolah yang sama-sama terdampak bencana banjir bandang. Saat ini, mereka juga tinggal di tenda pengungsian dengan kondisi tidak layak hidup.

“Kami merasa terhibur. Bersama teman-teman, kami bermain ke kampung yang dulu. Kami bermain ke persawahan dan juga kebun untuk menghindari rasa kejenuhan,” tuturnya.

Sementara itu, Bubun penanggung jawab pengungsian mengatakan, saat ini anak-anak usia sekolah tercatat 80 orang dan mereka menerima pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mathlaul Anwar dan SMPN.

Anak-anak tersebut yang tinggal di pengungsian setelah pulang sekolah seperti biasa bermain di tempat-tempat terbuka sambil memanjat pohon maupun mencari ikan di sawah dan juga ke kebun untuk mencari buah-buahan.

“Kami mendorong anak-anak itu agar bermain di tempat-tempat terbuka, sehingga dapat terhibur dan melupakan rasa traumatik bencana alam yang mengakibatkan ratusan warga terpaksa harus tinggal di pengungsian,” tuturnya. (Nana Djumhana)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here