Promosi Wisata Melalui Tenun Baduy

Tenun khas adat suku Baduy dan kasepuhan atau kaolotan sudah menjadi jati diri Kabupaten Lebak. Bahkan, tenun dengan ragam motif yang dimiliki sudah menjadi ikon tersendiri bagi masyarakat di kota berjuluk “Kota Multatuli” tersebut. Pemkab Lebak kini tak hanya menjadikan tenun sebagai identitas budaya, tetapi juga sebagai alat promosi pariwisata.

Oleh karenanya, Pemkab mulai memberlakukan penggunaan tenun lomar yang diikatkan di kepala khas kaolotan dan selendang khas Baduy bagi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab yang dilaksanakan setiap hari Rabu.

Sekretaris daerah (Sekda) Lebak Dede Jaelani mengatakan, pemberlakuan penggunaan tenun berupa limar dan selendang bagi ASN sebagai upaya Pemkab memperkenalkan jati diri budaya khas lokal. Selain itu, sebagai bentuk dukungan Pemkab atas upaya promosi pariwisata.

“Tidak hanya membantu mempromosikan destinasi wisata. Tetapi, penggunaan tenun ini juga untuk menguatkan jati diri Kabupaten Lebak,” ujar Dede Jaelani kepada Kabar Banten, Kamis (7/3/2019).

Menurut dia, masyarakat adat Baduy serta masyarakat kaolotan disejumlah kecamatan di Lebak sering menggunakan lomar untuk pria dan selendang untuk perempuan dalam kesehariannya. Hal itu sudah menjadi identitas warga Lebak secara turun temurun, sehingga ini perlu dilestarikan sebagai akar budaya.

“Jadi lomar dan selendang ini sudah menjadi ciri khas leluhur warga Lebak. Ini harus dilestarikan, salah satunya melalui ASN di lingkungan Pemkab Lebak,” ujarnya.

Ia mengatakan, selama ini berbagai strategi telah dilakukan untuk memperkenalkan dan mempromosikan destinasi wisata di Lebak. Upaya itu telah membuahkan hasil, dengan meningkatnya kunjungan wisatawan.

Oleh karena itu, melalui penetapan penggunaan ikat kepala maupun selendang diharapkan bisa lebih mendongkrak pula bidang kepariwisataan di Lebak.

“Kami harap setelah diberlakukannya penetapan menggunakan ikat kepala dan selendang, bisa diindahkan oleh seluruh ASN di lingkungan Pemkab Lebak,” ucapnya.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Pemkab Lebak Eka Prasetiawan menambahkan, menggunakan ikat kepala dan selendang sudah mulai diterapkan sejak pekan lalu. Seluruh ASN di lingkungan Pemkab Lebak serempak menggunakan ikat kepala maupun selendang.

“Penggunaannya sendiri tidak setiap hari, tetapi hanya pada Rabu saja, dengan tujuan untuk memperlihatkan jati diri kedaerahan sekaligus untuk membantu mempromosikan bidang kepariwisataan,” katanya. (Lugay)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here