Program Sarana Angkutan Umum Massal Kota Cilegon Disoal

CILEGON, (KB).- Program Sarana Angkutan Umum Massal (SAUM) yang sedang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon mendapat sorotan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat. Khususnya terkait Jalan Lingkar Selatan (JLS) yang akan dijadikan sebagai salah satu jalur trayek SAUM.

Diketahui, JLS panjang 17,5 kilometer (km) dikenal sebagai jalur yang sepi dari aktivitas warga. Sementara, aktivitas sehari-hari di jalur tersebut lebih banyak di bidang bisnis dan perdagangan.

“Kalau dibilang tidak ada aktivitas, salah juga. Di JLS itu, aktivitasnya di bidang bisnis dan perdagangan. Tapi, masing-masing dari mereka rata-rata pakai kendaraan sendiri. Bahkan, ada yang menggunakan jasa antar karyawan menggunakan bus perusahaan,” kata Ketua Komisi II DPRD Cilegon, Abdul Ghoffar, saat ditemui di Gedung DPRD Cilegon, Jumat (6/4/2018).

Untuk itulah, ujar dia, Pemkot Cilegon diminta untuk merencanakan ulang tentang menjadikan JLS sebagai bagian dari trayek SAUM. Terlebih tahun ini telah dianggarkan pembangunan empat selter bus dengan nilai Rp 1,9 di JLS.¬†“Selter kan berarti siap menampung banyak penumpang. Nah, kalau di JLS, siapa yang akan jadi penumpangnya,” ucap politisi PKS tersebut

Ia menilai, ada baiknya program SAUM diprioritaskan terhadap kebutuhan masyarakat paling mendesak, yakni adanya angkutan yang masuk di setiap pelosok-pelosok daerah, khususnya daerah yang memiliki gedung sekolah.

“Saya juga kurang setuju kalau unit yang nanti dibeli adalah bus. Saya lebih setuju jika itu seperti angkot, kemudian trayeknya ke pelosok-pelosok yang belum tersentuh angkot. Sampai sekarang ada beberapa sekolah di sejumlah daerah yang belum dilintasi angkot, misalnya SMAN 3 di Cikerai, Cibeber atau SMK Purwakarta,” tuturnya.

Oleh karena itu, dia meminta Pemkot Cilegon berpikir ulang untuk memprioritaskan JLS dalam trayek SAUM. Ia berharap, SAUM difokuskan untuk mengakomodir wilayah-wilayah yang belum tersentuh angkutan umum. “Jangan prioritaskan JLS kalau boleh sumbang saran, perencanaannya tolong dipertajam lagi,” katanya.

Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cilegon, Andi Affandi menuturkan, JLS merupakan bagian dari koridor I trayek SAUM. Di mana pada program tersebut, akan ada enam koridor untuk trayek bus nanti. “Koridor I itu Sub Terminal Seruni-JLS-Ciwandan, jadi daerah itu memang menjadi bagian dari trayek SAUM,” ujarnya.

Ia membenarkan, jika pihaknya akan membangun empat selter bus di petengahan 2018 ini. Namun, dia enggan menjelaskan titik-titik pembangunannya. “Kalau titik-titiknya, PPTK yang lebih tahu. Setahu saya, itu akan dibangun di kiri dan kanan JLS,” ucapnya.

Terkait dengan kritikan Komisi II, dia mengatakan, jika program SAUM dimaksudkan untuk membiasakan masyarakat untuk menggunakan angkutan massal dalam aktivitas sehari-hari. Terlebih program SAUM tersebut, terintegrasi dengan program Cilegon-Serang-Pandeglang-Rangkasbitung (Ciseparang).

“Dishub Banten punya program Ciseparang, tujuannya agar penumpang tidak perlu lagi naik-turun angkutan untuk pergi ke daerah-daerah itu. Lalu, kenapa ada JLS, ini juga bagian dari upaya mengurangi kemacetan. Kami ingin warga membiasakan diri menggunakan moda transportasi umum dan meninggalkan kebiasaan membawa kendaraan pribadi,” tuturnya.

Ia mengatakan, bahwa jika pihaknya akan mengakomodir kebutuhan angkutan anak sekolah. Di mana dia telah lama menerima keluhan terkait minimnya transportasi umum di sejumlah wilayah sekolah. “Formulasinya sedang disusun. Apakah transportasi umum untuk anak-anak sekolah akan dibuat khusus, itu masih dibahas,” katanya.

Selain pembangunan selter bus, pihaknya sedang melakukan lelang dua unit bus. Namun, operasional program SAUM belum bisa dipastikan, karena sejumlah faktor.
Lelang dua unit bus sudah dilakukan, nilainya Rp 2,5 miliar. Tetapi, apakah program SAUM langsung beroperasi, itu masih dibahas. (AH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here