Program AKCF Direncanakan Ganti Nama

Salah satu rangkaian kegiatan AKCF tahun 2018.*

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang akan memajukan jadwal Anyer Krakatau Culture Festival (AKCF) dari Agustus menjadi Mei tahun ini. Selain menggeser jadwal, nama AKCF juga diubah menjadi Anyer Panarukan Festival.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Serang Tahyudin mengatakan, pihaknya sudah mengajukan kepada wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa untuk memajukan jadwal AKCF ke Mei. Selain itu, nama program tersebut juga diusulkan diubah bukan AKCF namun menjadi Anyer Panarukan Festival.

Menurut dia, perubahan nama menjadi Anyer Panarukan Festival ini untuk mengenang sejarah pada masa penjajahan Belanda untuk membangun jalan Anyer-Panarukan. “Jalan (Anyer-Panarukan) yang pertama dibangun pada waktu penjajahan Belanda, itu titik nolnya ada di Anyer, itu di Marcusuar,” katanya kepada Kabar Banten, Jumat (11/1/2019).

Tahyudin mengungkapkan, rangkaian kegiatan tahunan tersebut akan dilakukan bertahap. “Tapi bertahap apa yang bisa dilakukan sekarang dan nanti. Mudah-mudahan ada yang bisa dilakukan sekarang-sekarang, nanti kita lanjut lagi apa,” ujarnya.

Pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan Kemenpar untuk bisa menghadirkan kedutaan dari Belanda. Karena Belanda mempunyai sejarah di Anyer. “Dia punya sejarah loh disini, termasuk menara mercusuar itu kan bangunan Belanda,” ucapnya.

Sedangkan untuk rencana kegiatannya, lanjut Tahyudin, pihaknya akan mencoba merancang ulang, agar kegiatannya lebih menggigit dan semarak. “Kalau ngomongnya Anyer Panarukan Festival harus di Anyer, tapi kalau kita berbicara Anyer, Cinangka dan Carita itu juga masih Anyer. Waktunya itu tentatif, bulan Mei itu apa, dan seterusnya akan dirancang, syukur-syukur secepatnya ada kegiatan,” tuturnya.

Biasanya, kata Tahyudin, pelaksanaan Anyer Krakatau Culture Festival (AKCF) yang sudah rutin dilakukan diadakan pada bulan Mei sampai Oktober, namun pada bulan Oktober juga akan diadakan acara Bedol Pamarayan yang berbarengan dengan HUT Kabupaten Serang.

“Sebetulnya lebih semarak bedol pamarayan karena waktunya singkat, terus tidak begitu banyak kegiatan, tapi antusiasme masyarakatnya yang ada di sekitar seperti Lebak, Pandeglang dan Tangerang banyak yang melihat karena bedol pamarayan itu rutinitas dari dulu,” ujarnya.

Disinggung soal target kunjungan wisata, ia mengaku, masih belum bisa menyebutkan. Namun yang pasti jumlah itu sama dengan AKCF minimal bisa terus meningkat.

“Kalau dibicarakan lebih awal kadang-kadang bisa meleset. Kita akan perhitungkan lebih dulu, karena sekarang pascatsunami ini pengunjung sepi. Tapi sesungguhnya bagi teman-teman yang hobi dengan petualangan tsunami itu jadi objek wisata. Orang banyak juga yang pengen melihat bekas tsunami, itu kan potensi wisata juga, dibalik musibah pasti ada berkahnya,” tuturnya. (Dindin Hasanudin)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here