Profesor Palestina Penerjemah Alquran

Ilzamudin Ma'mur

Oleh : Ilzamudin Ma’mur

Muslim piety regards the Quran as supremely eloquent, supremely wise, and immune from all error or falsehood. Its immaculate nature extends to its physical copies, which are considered inviolable and untouchable except by one in a state of ritual purity. (Tarif Khalidi, 2008)

Selain Ismail Razi al-Faruqi, tokoh utama penggagas Islamisasi Pengetahuan, dengan mendirikan IIIT (International Institute of Islamic Thought) di Herndon Amerika Srerikat, Palestina juga melahirkan banyak tokoh pemikiran Islam internasional yang berbasis di universitas ternama, Isa J. Boulata professor ahli I’jaz Alqur’an McGill University, Canada, Wael B. Hallaq profesor ahli sejarah hukum Islam dari Columbia University, Amerika Serikat, dan termasuk Tarif Khalidi.

Khalidi adalah profesor sejarah dari Universitas Amerika Beirut kelahiran Palestina, yang juga penerjemah Alquran ke dalam bahasa Inggris puitis. Penerjemahan serupa juga ada dalam bahasa Indonesia yang dihasilkan oleh H. B. Yasin (1917-200) dengan judul Alquran Bacaan Mulia (1978).

Biografi intelektual

Tariff Khalidi lahir pada 24 Januari, 1938 di Yerusalem, Palestina, dari kalangan keluarga ulama terpelajar. Ayahnya bernama Ahmad Samih Khalidi dan ibunya bernama Anbara Salam. Khalidi punya dua anak, yang pertama Muhammad Ali Khalidi, adalah profesor filsafat di York University, Toronto, Kanada, sedang yang kedua Aliya Khalidi, adalah juga dosen Lebanese Amarican University, Beirut, Libanon. Keluarga besar Khalidi sejatinya telah tinggal di Palestina sejak abad 11 sebelumnya akhirnya bermigrasi ke Beirut, Libanon pada 1948, negara asal keluarga besar ibundanya.

Pendidikan awal, dasar dan menengahnya diselesaikan Khalidi di Palestina. Pada 1952, Khalidi melanjutkan studinya di Haileybury College di Hertford, Inggris untuk mendalami Sejarah Latin dan Yunani Kuno. Setelah itu, Khalidi hijrah ke Inggris, untuk kuliah di Oxford University College. Pada 1960 Khalidi memperoleh gelar BA dalam bidang Sejarah Modern dari lembaga tersebut, dan pada 1953 gelar masternya dalam bidang Sejarah Modern diraih Khalidi. Sementara gelar Ph.D. (Philosophy Doctor) dalam bidang Islamic Studies diperoleh Khalidi dari University of Chicago, Amerika Serikat, pada 1970, setelah diselingi dengan aktivitas mengajar Kajian Budaya di American University of Beirut, Labanon, antara 1960-1966.

Khalidi adalah penulis yang produktif dalam bahasa Arab dan Inggris. Karya Khalidi meliputi : 1) A Muslim Humanist for our Time (2009), 2) Images of Muhammad: Naratives of the Prophet in Islam Across the Centuries (2009), 3) The Quran: A New Translation (2008), 4) The Muslim Jesus; Sayings and Stories in Islamic Literatures (2001), 5) Arabic Historical Thought in the Classical Period (1994), 6) Classical Arab Islam (1985), 7) Land Tenure and Social Transformation in the Middle East (1984), 8) A Study in the Meaning and Method of History (1982), and 9) Islamic Historiography : The Hsitories of Mas’udi (1975) .

Terjemahan Alquran

Karya terjemahan Alquran Tarif Khalidi yang berjudul The Quran: Translation with an Introduction diterbitkan oleh Penguin Classic pada 2008. Terjemahan Khalidi ini disajikan tanpa disertai teks bahasa Arab, melainkan langsung dalam bahasa Inggris. Berbeda dengan terjemahan Alquran sebelumnya, mulai Muhammad Marmaduke William Picthall (1934), Abdullah Yusuf Ali (1937), Muhammad Asad, (1984), Ahmed Ali, (1984), Mohammad Mahmoud Ghali, () dan Muhammad A.S. Abdel Haleem (2004), untuk menyebut beberapa saja, terjemahan Khalidi tidak disertai dengan nomor surat dan nomor ayat, dan tanpa catatan tambahan.

Bagi pembaca yang hendak membandingkannya dengan teks asli bahasa Arab, tidak pelak lagi akan sangat sulit melakukannya dan bahkan boleh jadi membahayakan. Walaupun terjemahan ini diawali dengan pendahuluan dan senerai istilah di bagian akhir, tetapi Khalid tidak memberikan alasan apapun, mengapa dan apa tujuan penyajian yang demikian itu. Ia hanya mengatakan bahwa “penerjemah Alquran mana saja,.., haruslah mengambil keputusan tertentu kemana terjemahan tersebut dimulai dan diakhiri, dan mempertimbangkan ini dalam susunan teksnya.

Konsekuensinya, semakin jelas bagi saya bahwa penerjemahan prosa cenderung tidak mencerminkan struktur Alquran. Dengan membagi terjemahan saya ke dalam paragraf-paragraf, saya berharap menekankan Any translator of the Quran must therefore come to some sort of decision as to where these ‘bursts’ begin and end, and reflect this in the arrangement of the text. Consequently, it became evident to me that a prose rendering tends not to reflect the Quran’s structure. By dividing my translation into paragraphs, I hope to highlight the ringkasan inti bangunan teks, tetntu saja tanpa klaim otoritas apapun terhadap batasan-batasan pasti dari pembagian ini.

Tambahan pula, saya dengan sengaja mempertahankan pekularitas teks asli seperti peralihan pronominal dalam satu kalimat dan kadang-kadang perubahan bentuk kata kerja yang kurang tepat. Saya mengambil beberapa kebebasan dalam menerjemahkan istilah Arab yang sama dengan cara yang berbeda, sesutu yang telah dibahas oleh para mufasir terdahulu, yang memandang bahwa kata yang sama bisa bermakna hal yang berbeda dalam konteks yang berbeda. (Tarif Khalidi’s Introduction, 2009:8).

Sebagaimana Khalidi tulis dalam pendahuluan dan dikutip dalam epigraf di atas tentang sikap Muslim pada umumnya terhadap Alquran bahwa “Muslim yang saleh memandang Alquran sebagai amat elok, sangat bijak, dan terbebas dari kesalahan atau kepalsuan. Sifat kerapian Alquran meluas hingga salinan fisik Alquran, yang dianggap tidak boleh dirusak dan tidak pula boleh disentuh kecuali orang yang dalam keadaan suci, telah berwudlu.” Tentu saja agar hal tersebut tidak terjadi, termasuk tanggung jawab penerjemah ketika mengalihkan teks Alquran ke dalam bahasa lain.

Kekhawatiran ini juga diakui Ziauddin Sardar (2008) ketika menyatakan bahwa “But… I cannot see why poetic translations cannot number the verses consistently and consecutively. Like Arberry, Khalidi provides verse numbers on the side margins non-consecutively. There are a couple of other unforgivable omissions. In the main text, the chapters have no numbers. While there is a short glossary, there is no index. I found the translation very difficult to navigate.” Tetapi…Saya tidak bisa melihat alasan mengapa terjemahan puitis tidak bisa diberi nomor pada ayat-ayat secara konsisten dan berurut.

Seperti Arbery, Khalidi sejatinya memberikan nomor ayat pada sisi margin meskipun secara tidak berurut. Ada bebarapa penghilangan lain yang tidak bisa dimaafkan. Dalam teks utama, surat tidak diberi nomor. Walapun tersedia senerai ringkas, tetapi tidak ada indeks. Saya mendapati terjemahan tersebut sangat sulit dinafigasi. Wallahu a’lam bi al-shawab!!! (Penulis adalah Wakil Rektor I UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here