Jumat, 21 September 2018

Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, M.E: Kebangkitan Ki Sunda Tinggal Tunggu Waktu

SUHU udara Ukraina, termasuk di Ibu Kota Kiev, selama sepekan (Jumat, 24/3-Sabtu 1/4/2018), rata-rata masih berkisar -8 hingga -4 derajat celsius. Musim dingin memang belum berakhir. Guyuran salju sering turun meski tidak seekstrem Februari lalu yang mengakibatkan suhu anjlok hingga -23 derajat celsius.
Namun, dinginnya udara tidak menghilangkan keindahan negeri berpenduduk 45 juta jiwa itu.

Kota Kiev yang terkenal dengan landscap, taman-taman, dan bangunan-bangunan tua berarsitektur gothic, barok klasik, dan art deco, terlihat indah. Keramahan warga Kiev, dengan mayoritas wanita berwajah ayu, memberikan kehangatan tersendiri ketika, sepekan penuh, wartawan senior Pikiran Rakyat Noe Firman, ditemani Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Ukraina, Armenia, dan Georgia Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi M.E menyusuri puluhan destinasi wisata, gedung dan tempat bersejarah, serta lokasi-lokasi lain yang menawan dan memesona.

”Hampir setiap sudut Kota Kiev menawarkan keindahan khas Eropa timur, hasil peradaban yang dijaga dan dipelihara. Kita bisa melihat dan merasakan bagaimana budaya dan kerja keras bangsa Ukraina memberikan legacy atau peninggalan yang sangat masif, tidak hanya bagi bangsanya sendiri tapi juga untuk dunia,” kata putra kelahiran Bandung 29 Mei 1968, yang mulai menjabat sebagai duta besar di negara terluas di Eropa (603.628 km2) sejak 13 Maret 2017 ini.

Menyusuri Kiev seolah memasuki lorong waktu ke abad pertengahan. Beberapa kawasan seperti Khreschantyk, Maidan Nezaleznosti, Golden Gate, Andriyivsky, kompleks biara Pecherk Lavra, Katedral Santa Sofia dan St. Volodymyr, taman dan kompleks pendidikan Taras Shevchenko, monumen The Motherland dan Bohdan Khemelnytsky adalah beberapa lokasi yang terjaga keasliannya dan termasuk warisan budaya dunia yang dilindungi UNESCO. Keberadaannya tidak hanya sebagai penanda peradaban tapi juga menaungi segala aktivitas urban modern.

Sambil menelusuri jalanan Kiev yang berkonstruksi batu atau berjalan di taman-taman luas yang sebagian masih diselimuti salju, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN dan RB) itu berbicara banyak hal. Situasi dan kondisi politik dalam negeri terus diikutinya. Kebijakan politik luar negeri digambarkan secara jelas. Berbagai isu ekonomi baik global maupun lokal juga disinggung. Yang menarik, komitmen untuk menjaga dan mengembangkan berbagai aspek tentang kesundaan ternyata tidak pernah lepas dari pikiran Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Nasional ini, meski ia kini bertugas di luar negeri.

Mengimplementasikan komitmennya, mantan anggota DPR RI dua periode ini secara khusus membangun Paviliun Sunda di kawasan Kebun Raya Grishko, Kiev. Dengan uang tabungannya dan sumbangan relasi, di lahan seluas satu hektare, Yuddy membangun rumah khas sunda selama hampir empat bulan. Pekerjanya didatangkan dari Bogor. Yuddy juga membangun miniatur Candi Borobudur, Masjid Istiqlal, Katedral Jakarta, Pura Bali, dan Tugu Monas di Kiev Miniature Park.

”Pembangunan Paviliun Sunda dan miniatur Indonesia adalah bagian dari upaya diplomasi budaya yang diharapkan menjadi promosi permanen untuk mempererat hubungan kedua negara dan meningkatkan pengetahuan warga Ukraina tentang Indonesia,” kata anggota Dewan Pakar Partai Golkar yang menyukai jazz dan olah raga ini.

Berharap tugas diplomasinya mampu lebih meningkat hubungan yang saling menguntungkan antara Ukraina, Armenia, dan Georgia dengan Indonesia, Yuddy menyatakan, masih banyak yang harus dilakukan agar peran dan posisi Indonesia dalam pergaulan internasional semakin baik. ”Tugas yang sama juga harus kita lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan di dalam negeri, termasuk tentu saja di tanah Pasundan, lemah cai urang,” kata suami Velly Elvira dan ayah dari Ayesha Fatma Nandira ini. Berikut petikan wawancara dengan Yuddy Chrisnandi;

Keinginan Anda untuk menjadi duta besar setelah tidak lagi menjabat akhirnya tercapai. Perasaan Anda?

Alhamdulillah, sangat bersyukur. Presiden Jokowi memberikan tugas kenegaraan di negara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Negara yang indah, masyarakatnya ramah, peradabannya maju. Sangat menyenangkan. Udaranya bersih, sejuk. Jadi ingat ka lembur Bandung tempo dulu.

Anda sempat menginginkan jadi dubes di negara kecil saja dan tanpa konflik, sehingga Anda punya waktu untuk belajar, mengajar dan menulis. Ternyata Anda ditempatkan di Ukraina, salah satu negara terluas dan dengan jumlah penduduk terbanyak di Eropa. Tanggapan Anda?

Pada awalnya saya memang berharap bertugas tidak jauh dari Indonesia, di seputar kawasan Asia Tenggara. Tapi, presiden tentu punya pertimbangan lain. Saya ditempatkan di Ukraina. Awalnya saya kaget, apalagi setelah tahu bahwa negara itu sedang berkonflik dengan Rusia dan informasi lain yang mengkhawatirkan. Ukraina memang masuk kategori berbahaya sehingga harus selalu ada rencana kontigensi WNI dan staf kedutaan.

Saya sempat berpikir akan dibuang dan sempat terbersit untuk menolak. Namun setelah berkonsultasi dengan Pak Jusuf Kalla, saya pahami bahwa ini adalah kehormatan yang tinggi dan tugas pemerintah yang harus dilaksanakan. Namun, gambaran yang mengkhawatirkan itu langsung pudar ketika saya mendarat di Kiev. Pada hari pertama itu saya langsung bisa merasakan atmosfer kehidupan yang damai. Saya disambut keindahan alam, langit cerah, hangatnya matahari, dan keramahan penduduk. Kesan pertama itu semakin kuat dan berlanjut sampai sekarang.

Hampir setahun Anda bertugas, progres apa yang sudah dicapai dan prospek apa yang penting dalam kaitannya dengan hubungan antarkedua negara?

Pertama, tentu saja saya menginventarisasi pekerjaan apa saja yang belum bisa diselesaikan dubes. Selain tugas-tugas diplomatik, saya bertekad merelisasikan rencana yang sudah dirancang sejak 10 tahun lalu, yang terkendala biaya, yakni pembangunan paviliun budaya Indonesia. Tanpa menggunakan anggaran negara, saya kebut pembangunannya. Tiap hari saya jadi mandor. Dan, dalam waktu kurang dari 6 bulan, Paviliun Indonesia yang diwakili oleh wajah budaya Sunda selesai dikerjakan. Termasuk pembangunan miniatur Indonesia. Saya melihat, hal itu sebagai peluang promosi jangka panjang dan permanen. Ini legacy bagi eksistensi Indonesia di Ukraina.

Kami juga memfasilitasi sejumlah agenda high level visit, baik delegasi pemerintah maupun parlemen. Membuka peluang kerja sama business to business atau people to people contact, merencanakan pembentukan konsul kehormatan di Kharkiv, menyiapkan pembentukan sister city antara kota-kota Indonesia dengan Ukraina, seperti Yogyakarta-L’viv, Bandung-Kharkiv atau Jakarta-Kiev.

Secara singkat, bagaimana perkembangan hubungan politik, ekonomi/perdagangan, sosial budaya, dll antar kedua negara?

Hubungannya sangat baik. Kedua negara saling mendukung dalam kerja sama dan organisasi internasional. Indonesia adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Ukraina selepas dari Uni Sovyet pada 1991 dan langsung membuka kedutaan setahun kemudian. Dua kali kunjungan Presiden Ukraina ke Indonesia pada 1997 dan 2016, menandakan eratnya hubungan kedua negara. Belum lagi puluhan kunjungan tingkat tinggi baik dari Ukraina ke Indonesia maupun sebaliknya.

Namun memang, dalam hubungan dagang, kita harus terus berupaya keras untuk mengembalikan ke posisi di atas 1 miliar dolar, seperti pada 2014 atau sebelum terjadi konflik antara Ukraina dan Rusia. Alhamdulillah sekarang sudah kembali bergerak naik. Indonesia dan Ukraina sudah menyepakati kerja sama perdagangan yang meliputi komoditas gandum, kelapa sawit, teknologi informasi, hingga persenjataan. Masih banyak peluang usaha yang bisa dioptimalisasi.

Selain bertugas dan posisi resmi Anda sebagai dubes, apa hal-hal lain yang Anda lakukan? Bagaimana dengan kegiatan belajar-mengajar atau menulis?

Selain politisi, saya juga adalah akademisi yang tidak boleh berhenti belajar dan mengajar. Saat berangkat ke Ukraina, saya juga mendapat surat tugas dari kampus saya, Universitas Nasional. Aktivitas akademik saya mengajar di Taras Shevchenko Unversity. Di kampus tertua dan terbesar di Ukraina ini saya mengajar di jurusan Indonesia Fakultas Fisologi.

Saya pun terus aktif menulis, karena sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan. Saya menulis apa saja, politik, ekonomi, kebudayaan. Namun, terkait tugas saya, kini saya lebih banyak menuangkan pikiran saya tentang berbagai isu dan situasi internasional.

Anda membangun karier politik di Golkar, kemudian pindah ke Hanura, dan kini kembali lagi ke Golkar. Apa alasan yang mendasari langkah politik Anda, adakah tujuan politik yang ingin dicapai dalam waktu dekat?

Pertanyaan yang menarik..haha. Begini ya.. yang saya lakukan itu adalah istihad politik untuk meningkatkan karier politik. Saya pamit untuk hizrah dari Golkar ke Hanura paska-Munas Golkar 2009 di Riau. Jadi, tidak ada hubungan dengan kekalahan saya di Munas Golkar Riau. Langkah politik saya sudah dikonsultasikan dan diketahui para sesepuh dan tokoh Golkar, termasuk Pak JK, Akbar Thanjung, Agung Laksono dll. Saya pindah ke partai yang dekat dengan platform dan ideologi Golkar, yaitu Hanura.

Pada 2010, saya dipanggil Wiranto dan diminta bergabung. Tapi saya ajukan syarat agar saya bisa turut menentukan kebijakan strategis politik Hanura, karena saya merasa di Golkar pun saya sudah berada pada posisi karier yang tinggi, yakni lolos sebagai salah satu kandidat ketua umum. Saya lihat peluang pencapaian target karier politik lebih leluasa di Hanura. Walaupun tidak jadi ketua umum di Hanura, alhamdulillah saya mendapat kepercayaan di kabinet, mendahului rekan-rekan saya di Golkar.

Sekarang saya kembali lagi ke Golkar dengan kesadaran penuh dalam konteks hijrah politik saya anggap sudah cukup. Saya ingin berkhidmat di partai yang melahirkan, membesarkan, dan menjadikan saya politisi nasional. Siga urang Sunda nu ngumbara balik ka lembur.

Sebagai salah satu tokoh nasional dan nonoman Sunda, nama Anda sering diperbincangkan dan diharapkan urang Sunda untuk mampu berkiprah lebih lanjut, terutama dalam kontestasi kepemimpinan nasional. Tanggapan dan kesiapan Anda?

Alhamdulillah…insya Allah…Bismillah. Mohon doa agar saya bisa terus memberikan yang terbaik dan kemaslahatan bagi orang banyak. Yang paling penting adalah bagaimana kita terus bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk warga Tatar Pasundan, lemah cai urang.

Saya hanya salah satu saja dari banyak nonoman Sunda yang diharapkan tampil menjadi lokomotif bangkitnya urang Sunda di pentas nasional. Hatur nuhun dan bersyukur atas dorongan dan dukungan warga Jawa Barat. Saya cukuplah jadi alternatif paling akhir untuk tampil jika sekiranya ada tokoh-tokoh Ki Sunda lain yang lebih layak. Namun, sekiranya dari bumi Parahiyangan tidak ada yang siap untuk tampil, maka saya bismillahi rahman nirahim…

Ada perasaan dan ini sering menjadi semacam otokritik bahwa urang Sunda tidak berani tampil untuk bersaing di tingkat nasional? Benarkah? Mengapa?

Di awal masa kemerdekaan, tokoh-tokoh Sunda seperti Djuanda, Oto Iskandar Di Nata, Iwa Kusumasumantri dan masih banyak lagi sudah memberikan bukti dan contoh bagaimana mengaktualisasikan pemikiran tentang kebangsaan untuk memajukan bangsa. Mereka tampil di pentas nasional, berdiri sejajar dengan tokoh lainnya seperti Soekarno. Ini bukti sejarah bahwa urang Sunda tidak selalu di belakang layar.

Urang Sunda punya keberanian. Menunjukkan diri sebagai pemimpin bagi Indonesia. Saat ini, kita memang belum mendapat kesempatan untuk berada di pucuk pimpinan nasional, yang bisa menentukan keputusan-keputusan berbangsa dan bernegara secara mutlak dalam nilai-nilai konstitusi dan kebaikan. Mengapa?

Saya memandang karena kita, urang Sunda, belum sepenuhnya memiliki kesadaran menyatukan diri, bersinergi, menjadi kekuatan yang memperjuangan nilai-nilai dan kepentingan urang Sunda. Namun, saya yakin, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kekuatan Ki Sunda akan terbangun. Getaran-getaran semangat dan kegelisahan akan hal itu sudah menyeruak di Tatar Pasundan. Tampilnya tokoh sunda yang menyatukan harapan urang sunda dan diyakini akan menjalankan amanah dengan baik, tinggal menunggu momentum yang tepat.

Tanpa bermaksud mengedepankan sentimen kesukuan, mengapa urang Sunda “eleh wae” oleh suku lain, baik dalam bidang politik, ekonomi dll? Apa yang salah? Bagaimana sebenarnya potensi sumber daya urang Sunda? Apa yang perlu dilakukan?

Sebuah otokritik yang memang kita perlukan. Urang sunda memang kurang memiliki solidaritas kolektif. Seolah-olah kesuksesan yang kita raih sekadar untuk diri dan keluarga. Padahal, seharusnya menjadi kebanggaan yang harus dapat dirasakan orang banyak. Kita dikatakan eleh wae karena jalan sendiri-sendiri, merasa kuat sorangan, tidak mau berkomunikasi dan bersinergi. Stigma itu harus disudahi.

Urang sunda harus bangkit. Tidak boleh lagi malu-malu untuk saling dukung, saling bantu. Wangsit Siliwangi, silih asah, silih asuh, silih asih, harus diimplentasikan dalam menghadapi kontestasi politik nasional ataupun dalam segala hal yang sedang diperjuangan demi kebaikan dan kemajuan lemah cai. Keluhuran budaya dan nilai-nilai kesundaan akan jadi kekuatan yang dasyat untuk melahirkan pimpinan nasional dari Bumi Padjadjaran.

Menurut Anda, siapakah Ki Sunda itu?

Ki Sunda adalah setiap insan yang dilahirkan di tanah pasundan, yang memegang teguh amanat leluhur dan mengimplementasikan nilai-nilai kesundaan. Dia cinta dan daek babakti keur lemah caina, berkomitmen menjaga dan memajukan peradaban dan terpanggil untuk menjadi pemimpin yang membanggakan. Ki Sunda adalah sosok yang tidak memikirkan dirinya sendiri. Dengan intelektualitas dan kebijaksanaannya dia harus nyaah kanu leutik, hormat ka saluhureun, handap asor, gede kawani, sieun ka Gusti Nu Maha Suci.*


Sekilas Info

Bikin Heboh Tetangga, Pasangan Ini Nikah ala Pramuka

CILACAP, (KB).- Ada yang beda dari pernikahan Ahmad Maftuh dengan pasangannya, Miftakhul Khoiroet pada Jumat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *