Jumat, 21 September 2018

Produsen Ikan Asin di Pontang Lesu

Produsen ikan asin di wilayah Desa Domas, Kecamatan Pontang, lesu. Sebab, produksi ikan asin yang biasanya mencapai hitungan ton per hari, kini terjun bebas hingga hanya hitungan kuintal. Menurunnya tangkapan ikan para nelayan disebabkan cuaca buruk yang sedang melanda perairan Banten.

Berdasarkan informasi, hasil tangkapan ikan para nelayan di wilayah Pontang menurun drastis akibat cuaca buruk yang berlangsung sejak awal November atau yang biasa disebut musim angin barat. Saat kondisi ini, cuaca menjadi tidak bersahabat dan menyulitkan para nelayan dalam melaut.

Seorang produsen ikan asin asal Kampung Cerokcok, Desa Domas, Kecamatan Pontang Abulpati mengatakan, angin barat ini baru terjadi di bulan November ini. Jika pada hari biasa dalam sehari dirinya bisa memproduksi 2-3 ton ikan asin dan tawar, namun saat ini jauh menurun. “Paling ½ kuintal sekarang mah sehari, kalau hari biasamah 2-3 ton perhari,” ujarnya kepada Kabar Banten di lokasi.

Menurut dia, kondisi seperti itu memang sudah terprediksi terjadi setiap tahunnya. Sebab, setiap tahun musim barat itu selalu terjadi. Kondisi seperti itu jelas berpengaruh terhadap pendapatannya sehari-hari. Bahkan kondisi saat ini, untuk menutup gaji karyawannya pun terhitung kekurangan. “Jelas menurun omzetnya. Saya ada 14 karyawan. Sekarang mah paling Rp 700.000 per harinya,” katanya.

Namun, tak ada yang bisa dilakukan jika kondisi itu telah datang. Dirinya pun mengaku tak memiliki strategi khusus, karena kerugian yang terjadi selama musim barat itu sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. “Kami jalani saja, biasanya musim barat itu terjadinya 2-3 bulanan yaitu sekitar November, Desember, Januari, dan Februari sudah normal. Nanti ketutup pas musim penghujan habis,” tutur pria yang telah sejak 4 tahun belakangan ini menjadi produsen ikan asin tersebut.

Selama musim barat ini, produksi ikan baik asin maupun tawar sedang langka. Sesuai dengan hukum ekonomi, jika barang langka maka permintaan menjadi meningkat. Harga yang biasanya murah, kini melambung tinggi. Untuk satu kilo teri bagan saja, saat ini mencapai Rp 50.000. Namun harga seperti itu tak menyurutkan pembeli. “Naik sekitar 15-20 persenan. Yang paling mahal teri bagan, kalau harga ikan mah kan beda-beda bergantung jenisnya. Permintaan meningkat tapi ikannya enggak ada,” katanya.

Dirinya biasa memasarkan ikan hasil produksinya tersebut ke pasar-pasar tradisional, mulai dari Serang sampai Rangkasbitung. Namun, tidak jarang pula para pembeli yang datang ke tempatnya. “Lebih segar enggak pakai pengawet soalnya. Masih natural lah bisa dibilang. Kebetulan kalau di sini cuma saya doang yang produksi ikan asin,” ujarnya.

Bahan baku

Sementara itu, salah seorang pekerja Arsinah mengatakan, datangnya musim barat ini tidak hanya berpengaruh pada tangkapan nelayan atau bahan baku ikan asin. Namun juga masa penjemuran ikan. Jika pada hari biasa, masa penjemuran ikan lebih singkat, sedangkan saat ini menjadi lebih lama.
“Kalau biasanya mah 1 hari juga kering. Sekarang mah bisa 2-3 hari, harus rajin-rajin bolak balik ikannya,” tuturnya.

Wanita yang sudah 3 tahun bergelut dengan pembuatan ikan asin tersebut mengatakan, ikan asin dan tawar yang diproduksi di tempatnya tersebut bermacam-macam. Mulai dari teri bagan, rebon, hingga ikan sangge. “Teri bagan yang jadi andalannya kalau disini,” ucapnya. (Dindin Hasanudin)***


Sekilas Info

Maraknya Aksi Kriminal di Kota Serang, MUI Minta Aparat Kerja Ekstra

SERANG, (KB).- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Serang meminta aparat kepolisian bekerja ekstra demi menjamin rasa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *