Produksi Emas Perairan Bayah Bisa Ancam Kerusakan

SERANG, (KB).- Banten Antisipator Lingkungan Hidup Indonesia (BALHI) mendorong pemerintah dan PT Graha Makmur Coalindo (GMC) mengkaji secara matang dampak lingkungan sebelum melakukan produksi emas di Perairan Bayah, Kabupaten Lebak.

Sebab, produksi emas yang dilakukan di perairan bisa mengancam kerusakan terumbu karang dan kekeruhan air laut.

Ketua BALHI Banten Heri A Supri menuturkan, pada prinsipnya eksplorasi tambang emas sah-sah saja dilakukan, selama prosesnya sesuai aturan dan pengelolaannya jelas.

“Karena memang dibolehkan selama itu sesuai aturan. Cuma kan saya sendiri belum melihat dia punya Amdal, pendekatan apa untuk mengurangi dampak-dampak negatif tersebut,” kata Heri A Supri, Senin (8/7/2019).

Terkait rencana produksi dengan cara penghisapan pasir laut, kata dia, banyak teknologi yang dapat digunakan. Paling penting yang harus diperhatikan pendekatan seperti apa yang akan digunakan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

“Itukan kegiatannya disedot yah, sebagian besarnya itu pasirnya akan dikeluarkan lagi, prosesnya itu penyedotan akan merusak terumbu karang di antaranya. Terus lagi akan berdampak kekeruhan terhadap air laut sendiri. Karena dimungkinkan pemilahannya pemisahan antara material yang enggak terpakai mineralnya itu akan dipisahkan dan dibuang lagi,” katanya.

Informasi yang dihimpunnya, produksi emas akan dilakukan oleh PT GMC. Perusahaan ini telah mendapat izin sejak tahun 2011 dengan luas lahan 5.984 hektare. “Dia produksi komoditas emas,” ujarnya.

Belum ditindaklanjuti

Sebelumnya, Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (DESDM) Provinsi Banten Eko Palmadi menuturkan, penemuan emas di Perairan Bayah belum ditindaklanjuti dengan proses produksi. Perusahaan pelaksana baru akan melakukan uji coba produksi pada bulan depan.

“Nah jadi sebetulnya itu kalau sampai mengatakan ada sekian itu belum. Jadi masih baru ada indikasi emas di dalam pasir laut, itu benar emang ada saya pernah ditunjukin contohnya,” ucapnya.

Mengingat kandungan emas ada dalam perairan, proses produksi dilakukan dengan cara menghisap pasir dengan menggunakan pompa hisap.

“Dan itu nanti prosesnya nanti ada di laut dan nanti ada di dalam pasir, nanti bisa gelap si pasirnya, pasirnya dibalikin lagi ke sini (laut) emasnya dibawa. Karena kadang-kadang kalau nyedot satu ton belum tentu dia dapat 2-3 gram,” katanya. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here