Produksi Air Bersih di PDAM Menurun

LEBAK, (KB).- Hasil produksi air bersih di instalasi pengolahan air milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Kampung Cempa, Desa Cilangkap, Kecamatan Kalanganyar serta di Kampung Pabuaran, Desa Pabuaran, Kecamatan Rangkasbitung, sejak beberapa hari ini mengalami penurunan.

Berdasarkan informasi dari bagian Produksi pada PDAM Lebak, sejak Jumat hingga Ahad (19-21), produksi air bersih yang akan didistribusikan kepada para pelanggan hanya 70 liter perdetik. Padahal sebelumnya, kapasitas pengolahan air bersih di dua instalasi tersebut mampu memproduksi air bersih 150 hingga 170 liter perdetik.

Kepala Bagian Produksi pada PDAM Tirta Multatuli Lebak, Alan Susastra membenarkan, produksi air bersih di kedua instalasi pengolahan air milik PDAM Multatuli mengalami penurunan. Penurunan produksi air tersebut diakibatkan tingkat kekeruhan sumber air PDAM dari Sungai Ciujung dan Ciberang dengan tingkat kekeruhan yang cukup tinggi.

”Dari hasil pemeriksaan laboratorium kami, tingkat kekeruhan sumber air di Ciujung dan Ciberang mencapai tujuh ratus hingga delapan ratus nometlic turbidity unit (NTU). Dampaknya, produksi atau pengolahan air bersih di instalasi milik PDAM menurun,” ujar Alan Susastra, Ahad (21/1/2018).

Ditambahkannya, mengingat pengolahan atau produksi air bersih pada instalasi milik PDAM, bergantung pada kondisi sumber air di Ciujung dan Ciberang, pihaknya berharap agar pelanggan PDAM bisa memaklumi jika pendistribusian air bersih ke rumah pelanggan kurang maksimal.

”Kondisi pengolahan air di PDAM masih bergantung pada kondisi alam. Misalnya ketika hujan deras terjadi, sudah pasti air Sungai Ciujung maupun Ciberang akan keruh. Akibat kekeruhan itulah, pengolahan atau produksi air di instalasi milik PDAM tidak akan maksimal,” katanya.

Direktur PDAM Multatuli Lebak, Oya Masri menambahkan, meski kondisi sumber air di Ciujung maupun di Ciberang selalu mengalami tingkat kekeruhan yang tinggi, namun pihaknya akan tetap berupaya agar pengolahan air tidak mengalami penurunan yang drastis.

Dijelaskan, untuk menormalisasi kembali pendistribusian air, maka lumpur dari air yang diproduksi, yang berada di bak penampungan air akan langsung dikuras serta dibersihkan. ”Meski tingkat kekeruhan tetap menjadi kendala, namun kami tetap akan melakukan pelayanan yang maksimal,” kata Oya Masri. (Lugay/Job)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here