Senin, 18 Februari 2019

Potret Islam Banten

Oleh

Nasuha Abu Bakar, MA

Suatu ketika Ustadz Dzul Birri pernah mendapatkan pertanyaan yang cukup mengejutkan dari seorang jemaah. Pertanyaan itu membuat panas telinga para jemaah lainnya yang sudah nyaman dengan model pengajian yang selama belasan tahun diikuti mereka. Akan tetapi bagi Ustadz Dzul Birri, pertanyaan apapun bentuknya tidak pernah merasa tersinggung, apalagi sakit hati. Sesulit apapun pertanyaan, itu merupakan cara Allah menambah pengetahuan dan ilmu.

“Maaf, Pak Ustadz. Apakah dulu kanjeng nabi menggelar pengajiannya pada malam Jumat Kliwon seperti pengajian kita malam ini? Mohon penjelasannya. Matur nuwun, Pak Ustadz,” demikian pertanyaan dari Mas Yono, salah seorang jemaah yang hadir pada malam itu.

Semua jemaah yang posisi duduknya di depan, otomatis membalikkan badan dan mencari serta menatapakan pandangan ke arah suara penanya. Para jemaah tidak saja melihat siapa yang bertanya, akan tetapi hati mereka dipenuhi rasa kesal karena pertanyaan Mas Yono.

Ustadz yang mendapatkan pertanyaan pedas, tampak biasa biasa saja. Tidak terlihat tanda-tanda urat wajahnya marah. Sambil senyum, Pak Ustadz mengucapkan terima kasih atas pertanyaan Mas Yono.

“Maaf akang akang semua, yang menghadiri pengajian malam Jumat di majlis kita ini datangnya dengan bermacam-macam cara. Ada yang dengan cara berjalan kaki, ada yang naik sepeda ontel, ada yang naik sepeda motor, ada juga yang membawa kendaraan roda empat. Yang hadir di majlis ini datangnya berbeda beda, akan tetapi semuanya bisa sampai dan bisa duduk bersama sama di majelis ini. Begitu juga dengan model dan cara kita belajar agama di malam Jumat kliwon, ini hanya caranya saja. Yang dipelajari, ya tetap Alquran dan pendalaman agama. Kliwon merupakan hari baik yang diyakini oleh masyarakat Jawa. Sedangkan Jumat merupakan hari yang penuh keberkahan dan kebaikan. Malam Jumat Kliwon dulunya merupakan malam yang digunakan untuk kegiatan pengajian yang digagas oleh Syeikh Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan sebutan Syeikh Gunung Jati dalam menyebarkan agama Islam di daerah Cirebon dan sekitarnya. Oleh sebab itu, masyarakat Cirebon khususnya Jawa pada umumnya lebih mudah menerima ajakan dakwah Syeikh Syarif Hidayatullah. Sebab, hari Jumat merupakan hari baik menurut pendapat masyarakat Jawa dan hari Jumat merupakan hari yang penuh kebaikan dan keberkahan. Banyak hadits Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam yang menceritakan tetang banyaknya nilai kebaikan yang bisa diperoleh melalui malam atau hari Jumat. Itulah mengapa kita belajar mengajinya pada malam Jumat Kliwon,” kata Ustadz Dzul Birri, panjang lebar.

“Sebaiknya bagaimana cara kita beribadah sebagai seorang muslim?” Pertanyaan Kang Karnadi sepertinya menyambung dengan pertanyaan sebelumnya.

“Masyarakat Jawa khususnya, Indonesia pada umumnya mempunyai seorang ulama besar dan sangat kharismatik. Beliau dilahirkan di Desa Tanara Banten pada tahun 1813 Masehi yang bertepatan dengan tahun Hijriyah 1230.

Menurut catatan sejarah yang pernah saya baca, beliau merupakan generasi ke-12 dari Sulthan Hasanuddin, seorang raja di wilayah Banten dan Sultan Hasanuddin adalah putra dari Syekh Gunung Jati Cirebon. Ulama kita yang sangat kharismatik itu bernama Syekh Muhammad Nawawi al Jawi al Bantani.

Keilmuan beliau tidak diragukan lagi, baik oleh ulama-ulama yang berada di kota Makkah ataupun ulama-ulama lainnya, sehingga beliau mendapatkan julukan Imam Ulama Hijaz. Beliau belajar tidak kurang kepada 20 ulama besar yang tercatat menjadi guru beliau, dan tidak kurang dari 40 ulama besar bahkan lebih yang dulunya belajar kepada beliau atau menjadi santri beliau. Tentu saja menjadi suatu kebanggaan bagi kita, karena begitu besarnya nama dan populeritas beliau.

Kemampuannya dalam menggoreskan pena dalam kondisi yang serba darurat, namun beliau telah mampu menghasilkan karangan dan tulisan tidak kurang dari 115 kitab berbahasa arab. Dan kajiannya meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti yang terkait dengan masalah akidah beliau menulis kitab Tijan Darory, kitab hadits Nashoihul ‘Ibad, dalam ilmu fiqih seperti Riyadhul Badi’ah, Sullaamul Munaajah, dalam ilmu ushul fiqh Bahjatul Wasaail, dalam ilmu tasawuf kitab beliau Salaaliimul Fudholaa, dan dalam menafsirkan Alquran beliau menyusun kitab Tafsir Munir.

Maka menurut pandangan saya, Ki Nawawi panggilan beliau versi masyarakat Banten telah memberi corak dan warna tata nilai dalam mengamalkan agama Islam. Dan kalau kita mengelilingi bumi nusantara dan mengamati cara masyarakatnya dalam pengamalan ajaran agama, maka apa yang telah ditulis oleh Ki Nawawi dalam karya karya besarnya sedikit pun tidak ada yang berbeda dengan amalan-amalan agama masyarakat.

Oleh sebab itu, semoga tidak dipandang berlebihan bilamana saya mengatakan bahwa wajah Islam di nusantara modelnya ya model yang ditulis oleh Ki Nawawi. Semoga kita masyarakat indonesia dapat berkesempatan untuk mengkaji karya karya beliau dan Allah cukupkan usia kita dalam mengkajinya.
Subhaanallah!

Betapa luasnya wawasannya. Betapa dalam dan tajamnya analisa beliau di dalam menuangkan keilmuan dalam bentuk rasa dan pemikiran, kemudian beliau menggerakkan penanya di bawah terangnya bulan purnama. Sungguh kerja keras dan usaha yang sangat gigih dalam menuangkan buah pikiran beliau.

Menurut hemat saya, kerja keras dan jerih payah Ki Nawawi sepatutnya menjadi cambuk, spirit, dan dorongan terutama bagi kita masyarakat Banten, umumnya bagi masyarakat Indonesia untuk belajar dengan sungguh mengolah lemampuan berpikir dan menuangkan pemikiran dalam bentuk karya tulisan.

Menceritakan keistimewaan Ki Nawawi bagaikan menimba air di bentangan samudra atau bentangan lautan. Selain sebagai seorang ulama besar yang sangat produktif dalam menuangkan buah pikirannya, beliau juga diyakini sebagai seorang waliyullah.

Tanda tanda kewaliannya Allah memperlihatkannya pada saat beliau masih dalam keadaan muda belia. Suatu ketika Ki Nawawi kecil saat itu usia beliau 15 tahun singgah ke sebuah masjid jami’ di daerah Pekojan Jakarta. Setelah diperhatikan oleh beliau, ternyata menurut pendapat Ki Nawawi arah kiblat masjid itu tidak lurus ke arah Kabah. Penglihatan Ki Nawawi disampaikan kepada pengurus ta’mirnya. Habib Usman bin Aqil bin Yahya al Alawy, Jati Petamburan, sebagai salah seorang pendiri dan tokoh setempat mengatakan bahwa masjid ini dibangun sudah dirancang dengan baik, termasuk masalah arah kiblatnya.

Maka terjadilah sedikit perdebatan yang lumayan alot. Habib Usman merasa benar dan yakin karena beliau salah seorang pendirinya dan arah kiblatnya diukur oleh ahlinya. Akan tetapi Ki Nawawi kecil juga merasa benar karena berdasarkan penglihatannya yang tidak dimiliki oleh ahli ukur manapun.

Ki Nawawi mencoba untuk meyakinkan hati Habib Usman, maka Ki Nawawi menuntun dan memegang tangan Habib. Kemudian Ki Nawawi mencoba memberi isyarat kepada Habib agar menatap ke arah yang diisyaratkan oleh Ki Nawawi. Subhaanallah, tampak terlihat jelas bangunan Kabah yang berada di kota Makkah bisa dilihat dari Pekojan Jakarta dengan benar benar nyata.

Melihat kejadian yang sangat luar biasa ini, Habib Usman benar-benar terpana. Seketika Habib ingin mencium tangan seorang wali yang masih sangat muda belia usia 15 tahun Ki Nawawi. Melihat gelagat seperti itu, seketika Ki Nawawi menarik tangannya, karena tidak mau tangannya dicium oleh Habib. Beliau sambil mengatakan, “Maafkan saya. Saya ini orang biasa, tidak pantas seorang dzurriyyat rosul mencium tangan saya,” kata Ki Nawawi kepada Habib, menandakan betapa tawadhu dan rendah hatinya Ki Nawawi.

Akan tetapi Habib Usman sangat mengerti dan faham. Walaupun masih sangat muda beliau, tetapi Allah mengangkat derajatnya melebihi dirinya. Maka Ki Nawawi dicium kening dan kepalanya, layaknya seorang ayah mencium anaknya yang penuh kasih sayang.

Dikisahkan juga mengenai kewalian beliau, pada saat malam purnama, ketika itu Ki Nawawi sedang menyusun kitab “Sullamul Munaajah”. Ketika sedang asyiknya menulis, tiba-tiba ada pelapah kurma yang jatuh di dekatnya. Maka, Ki Nawawi sedikit terkejut dan kemudian menoleh ke arah pelepah kurma yang jatuh. Ketika dipungut pelepah kurma itu, Ki Nawawi terkejut bukan kepalang. Sebab, di pelepah kurma itu ada tulisan “Nawawi Waliyullah”.

Maka Ki Nawawi bergegas membakarnya, dikhawatirkan ada sahabat sahabatnya atau murid muridnya akan melihat keajaiban yang menakutkan. Karena menurut beliau, bila orang lain menyaksikan bisa saja di kemudian hari terjadi pengkultusan. Hal ini tidak dikehendaki oleh Ki Nawawi.

Menurut pengamatan Ustadz Dzul Birri, ada tiga kelompok masyarakat pengagum Ki Nawawi al Bantani. Kelompok pertama, kaum intelektual, kelompok ini sangat mengagumi kejeniusan, kepiawaian, dan ketelitian yang dimiliki oleh Ki Nawawi yang sangat produktif dalam menuangkan karya-karya.

Kelompok kedua, mengagumi Ki Nawawi karena kesakralan kewaliannya, sehingga mengenal Ki Nawawi hanya sebatas keistimewaan yang sangat terbatas. Karena tidak mengenali karya-karya Ki Nawawi, sehingga keilmuan yang diwariskan oleh Ki Nawawi lewat karya karyanya kurang mendapatkan perhatian. Maka mungkin saja kelompok ini mengenal nama Ki Nawawi, tapi belum mengenal karya tulisan peninggalanya.

Kelompok ketiga, pengagum yang memperoleh informasi tentang Ki Nawawi melalui dari mulut ke mulut. Kelompok ketiga ini tidak bisa mendapatkan informasi yang valid bahkan bisa saja sebaliknya. Karena mungkin saja orang yang menceritakan pertama kalinya mendapstkan berita yang kurang tepat. Misalnya saja pernah ada seseorang menceritakan kegigihan perjuangan dan usaha dakwah Ki Nawawi sampai beliau melupakan untuk berumah tangga. Menurut orang yang bercerita kepada saya, sampai akhir hayatnya Ki Nawawi tidak menikah.

Ini kesalahan mendapatkan informasi, karena Ki Nawawi al Bantani menurut Dr. Sri Mulyati,MA pada saat diskusi internasional di Untirta Serang Banten, Ki Nawawi menikahi seorang wanita bernama Nyi Nasimah dan dianygerahi 3 putri yang bernama Nafisah, Maryam, dan Robi’ah atau Ruqoyah. Mudah-mudahan dengan tulusan ini dapat menambah rasa penasaran keinginan untuk mengenal lebih dekat dan lebih banyak tentang Ki Nawawi al Bantani al Jawi. (Penulis Pengasuh Ponpes Sabiluna Ciputat Timur, Tangerang Selatan)*


Sekilas Info

Membangkitkan Kembali Pariwisata

Oleh : Iip Miftahul Khoiri Bencana tsunami pesisir Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *