Pos Sahabat Anak di Kota Serang Telantar

Pos Sahabat Anak (PSA) yang tersebar di beberapa titik di Kota Serang kondisinya telantar. Hampir tidak ada aktivitas di pos yang sejatinya dibuat dalam rangka perlindungan dan penjangkauan dalam meminimalisasi aktivitas anak di jalanan.

Pantauan di lapangan, terdapat tiga PSA di Kota Serang yang terbengkalai dan bahkan menjadi objek vandalisme didindingnya. Ketiga PSA tersebut berada di Ciceri, Kebon Jahe, dan alun-alun.

Kasi Rehabilitasi Sosial Anak dan Lansia pada Dinas Sosial (Dinsos) Kota Serang Hendri Sudiarni mengatakan, sebanyak empat PSA yang terdiri dari tiga PSA di Kota Serang dan satu PSA di Kota Cilegon mulai dibangun pada 2014. Sedianya ada petugas yang ditempatkan di pos tersebut dalam mengawasi aktivitas anak jalanan, kemudian dilakukan pendataan dan pendekatan.

Pada tahun 2017 Dinsos Provinsi Banten menghibahkan PSA ke Dinsos Kota Serang. Namun Dinsos Kota Serang menolak karena lokasinya yang tidak strategis dan melanggar Perda Kebersihan, Ketertiban dan Keindahan (K3). Selain itu, ruangannya yang sempit serta terlalu mepet ke jalan raya.

“Tahun 2017 dihibahkan ke Dinsos Kota Serang, tetapi pimpinan kami tidak mau menerima. Karena tadi itu menyalahi aturan. Surat dari Dinsos Provinsi dibales kalau kami tidak mau menerima,” kata Hendri, Rabu (16/1/2019).

Seharusnya, kata dia, pada setiap PSA tersebut ditempatkan personel yang bertugas melakukan pendataan dan pendekatan terhadap anak jalanan. Namun, karena pertimbangan tersebut personel Dinsos Kota Serang tidak menggunakan PSA tersebut.

“Kami ada, walaupun tidak tiap hari. Dalam juknis memang harus tiap hari dibagi dua shift. Namun karena keadaan kami belum bisa menganggarkan terlalu besar hanya transport saja. Jadi itulah hasilnya tidak optimal,” ucapnya.

Pada tahun ini pihaknya mengusulkan intensif ke pemkot untuk personel sukarelawan yang akan ditempatkan di titik-titik lampu merah di Kota Serang.

“Waktu di Provinsi kan ada anggaran sehingga mereka masih rajin di jalan, karena ada seragamnya kan. Kami juga memperjuangkan setidaknya petugas yang di jalan ini ada peningkatan kesejahteraan,” tuturnya.

Menurutnya, mayoritas anak jalanan turun ke jalan karena merasa nyaman bisa mendapatkan uang dengan mudah. Bahkan, kata dia, tidak sedikit anak yang turun ke jalan atas perintah orangtuanya.

Pihaknya sudah berupaya melakukan pendekatan salah satunya dengan bantuan agar anak tersebut kembali ke lembaga pendidikan ataupun berwirausaha.

“Saya sering bilang ke orangtuanya. Ibu jangan pura-pura tidak tahu anaknya turun ke jalan, karena si anaknya sudah mengakui,” ujarnya. (Masykur)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here