Jumat, 22 Juni 2018

Politisi Pindah Parpol Marak, Konflik Jadi Pemicu

SERANG, (KB).- Politisi pindah partai politik (parpol) jelang Pileg 2019 di Banten marak. Salah satu pemicu politisi pindah parpol tersebut adalah konflik yang di antaranya akibat persaingan kepemimpinan di internal parpol yang menajam. Hal itu dikatakan Dosen Fisip Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Agus Sutisna, Selasa (27/2/2018), menanggapi maraknya politisi pindah parpol jelang Pileg 2019. Politisi pindah parpol, kata dia, bukan fenomena baru jelang pemilu.

“Banyak faktor yang menyebabkan politisi pindah parpol. Bisa karena perbedaan ideologi dari para anggotanya, karena perbedaan pelaksanaan kebijaksanaan, bahkan persaingan kepemimpinan dalam partai yang menajam, seperti yang banyak terjadi sekarang ini,” kata Agus Sutisna. Ia mengatakan, konflik internal dalam tubuh parpol juga terdapat beberapa macam penyebabnya. Namun yang sering muncul, kata dia, karena partai tidak memiliki platform yang jelas. Sehingga, mengakibatkan tidak adanya ikatan ideologis di antara anggota partai. “Ketika terjadi perpecahan yang bersifat klik, personal atau kelompok, dengan mudah hal itu memecah belah partai,” ujarnya.

Eksodus

Sementara itu, Partai Hanura di Banten masih terbelah dua antara kubu Eli Mulyadi dan kubu Ahmad Subadri meski dinyatakan lolos verifikasi dan mendapatkan nomor urut. Akibat dua kubu itu, sejumlah kader dan pengurus DPD Partai Hanura Banten kubu Eli Mulyadi dikabarkan eksodus ke partai politik (parpol) lain untuk bisa maju di Pemilihan legislatif (Pileg) 2019. Berdasarkan informasi yang dihimpun Kabar Banten, sejumlah kader dan pengurus DPD Partai Hanura Banten kubu Eli Mulyadi sudah menjajaki untuk bergabung dan menjadi caleg dari parpol lain. Di antaranya, ketua dan sekretaris DPD Banten, Eli Mulyadi dan Mohammad Rano Alfath.

Sekretaris DPD Hanura Banten kubu Eli Mulyadi, Mohammad Rano Alfath, tidak menampik terkait rencana pindah partai. Dirinya juga akan mempertimbangkan untuk melakukan hal yang sama yakni pindah partai. Jika dalam perkembangannya tidak memungkinkan menjadi caleg melalui Hanura. Namun, Rano tidak menyebutkan partai mana yang menurutnya lebih sesuai. “Kalau sementara ini tetap masih Hanura, tapi nanti kita lihat hasil istikharahnya seperti apa. Mudah-mudahan ada hasil yang lebih baik,” ucapnya.

Akan tetapi, dia menegaskan, pihaknya masih bertahan sebagai pengurus DPD Hanura Banten sampai putusan gugatan kepengurusan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) keluar. Bersama dengan itu, ia juga tetap mengutamakan Hanura sebagai perahu untuk maju dalam Pemilihan legislatif (Pileg) 2019. “Insya Allah maju (sebagai caleg). Sebenarnya, pilihannya ada dua apakah maju ke pusat (DPR RI) atau tetap ke provinsi (DPRD Banten),” katanya saat dihubungi melalui sambungan seluler, Selasa (27/2/2018).

Ia meyakini akan mampu memenangkan pertarungan Pileg 2019. Saat ini ia sudah melakukan komunikasi dengan tim sukses maupun relawan. “Anggota dewan pengabdian, jadi kalau kita melihat yakin insya Allah menang,”  tuturnya. Selama menjadi anggota legislatif di DPRD Banten, ia telah berupaya membangun hubungan baik dengan pemilih. “Ke masyarakat, kami sudah turun dengan reses. Salah satu untuk meningkatkan kedekatan dengan pemilih. Kami memfungsikan diri sebagai penampung aspirasi masyarakat, untuk disampaikan ke eksekutif,” katanya.

Membuka kesempatan

Secara terpisah, Ketua DPD Hanura Banten, Ahmad Subadri mengatakan, pihaknya membuka kesempatan kepada DPD Hanura Banten versi Eli Mulyadi untuk mencalonkan diri melalui Hanura. “Kan nanti ada sistem yang menyeleksi. Kami terbuka untuk siapapun,” ujarnya. Rencananya dalam waktu dekat, pihaknya segera mengumumkan pembukaan caleg. Anggota DPD RI ini optimistis partainya akan mampu mendapatkan suara sebanyak mungkin. “Mungkin minggu depan akan buka pengumuman. Untuk sekarang, masih melakukan penguatan struktur partai,” ucapnya.

Pihaknya menargetkan, setiap dapil ada legislatif dari Hanura yang terpilih. Namun demikian, ia belum memastikan berapa perolehan suara yang harus didapatkan. “Targetkan harus terarah dan terukur. Kami harus memetakan dulu berapa potensi pemilih. Mana basis, mana yang enggak. Sehingga, nanti dapat dipetakan berapa target suara,” tuturnya. Disinggung apakah dirinya akan maju menjadi Anggota DPD RI atau Anggota DPR RI, ia belum dapat memastikannya. Ia hanya mengatakan akan terlebih dahulu fokus menata partainya pascalolos verifikasi KPU. “Saya belum putuskan, masih nimbang-nimbang. Saya belum putuskan apakah mau nyalon atau enggak,” katanya.

Selain politisi dari Partai Hanura, politisi yang juga dikenal sebagai pelawak yakni Dedi Gumelar alias Mi’ing juga berganti baju. Mantan anggota DPR RI dari Fraksi PDIP dapil I Banten itu, kini bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN). “Iya, caleg DPR RI dapil I Banten,” kata Ketua DPW PAN Banten, Masrori.

Sebelumnya, politisi pindah partai juga dilakukan mantan Bupati Pandeglang dua periode, Ahmad Dimyati Natakusumah. Suami Bupati Pandeglang Irna Narulita itu, pindah dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Jelang Pemilu 2019, Ahmad Dimyati Natakusumah tercatat sebagai caleg dapil I Banten dari PKS. “Kami menyiapkan caleg petahana yang juga mantan Bupati Pandeglang, Ahmad Dimyati Natakusumah. Insya Allah kami menargetkan PKS meraih kursi di semua dapil pada Pileg 2019,” kata Ketua DPW PKS Banten Miptahudin, Jumat (23/2/2018). (SN)***


Sekilas Info

Pemudik Asal Banten Kecelakaan di Tol Fungsional Batang-Pemalang, Wakil Kepsek MAN Cikeusal

SERANG, (KB).- Pemudik asal Provinsi Banten yang mengalami kecelakaan di tol fungsional Batang-Pemalang, Jawa Tengah, Jumat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *