Selasa, 21 Agustus 2018

Politik di Bulan Ramadan

“Telah datang pada kalian bulan Ramadan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu juga dibukakan pintu surga serta ditutupnya pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).

Segala puji syukur patut kita panjatkan ke hadlirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu kembali dengan bulan mulia, yaitu bulan Ramadan 1439 H.

Ibadah Ramadan sesungguhnya bukan hanya sekedar berpuasa dengan menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan diri dari perbuatan yang tidak berguna atau bahkan yang buruk, dan meningkatkan ibadah dan amal saleh. Terlebih menjelang perhelatan pilkada pada tahun 2018, dan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden pada tahun 2019, sehingga dikenal dengan istilah tahun politik.

Biasanya, tidak sedikit saudara kita sesama muslim yang terlalaikan dengan urusan politik praktis tersebut, sehingga mengisi bulan mulia ini dengan tetap membawa kepentingan politiknya, seperti menyebarkan brosur atau pamflet yang berisikan ajakan perbuatan mulia dalam bulan Ramadan, namun sambil menyisipkan ajakan untuk mengikuti pilihan politiknya.

Bahkan jika merujuk kebiasaan di luar bulan Ramadan, maka mereka memanfaatkan kesempatan untuk berbicara di mimbar-mimbar masjid, musala, majelis taklim, dan lain-lain untuk mengajak umat terlibat politik praktis.

Padahal sejatinya, politik praktis akan menimbulkan perbedaan pilihan yang dapat menyebabkan gesekan antar umat, sehingga memiliki potensi untuk menimbulkan perpecahan yang menggaggu keharmonisan sesama umat Muslim.

Sebagai seorang muslim, penulis berusaha mengingatkan pembaca bahwa bulan Ramadan merupakan salah satu bonus yang dipersiapkan oleh Sang Maha Pencipta, agar umat muslim dapat mengisinya dengan berbagai kegiatan ibadah sebagai bekal amal kebajikan di akhirat kelak.

Para ulama mengatakan bahwa banyaknya istilah untuk menyebutkan bulan Ramadan, menunjukkan keagungan dan kemuliaan bulan ini. Di antara nama dan istilah bulan Ramadan yaitu, Bulan Tarbiyah, Bulan Ibadah dan Bulan Alquran.

Bulan Tarbiyah

Bulan Ramadan adalah momentum yang paling baik dan tepat untuk men-tarbiyah atau melakukan pendidikan pada diri, keluarga dan masyarakat. Sedikitnya ada empat aspek tarbiyah Ramadan, di antaranya:

Pertama, mendidik kesabaran.

Seorang yang berpuasa pada siang hari berada dalam kondisi menahan lapar dan dahaga. Dalam kondisi ini, seorang mukmin diuji kesabarannya. Sepasang suami istri pun dilarang untuk melakukan hubungan pada siang hari Ramadan, yang pada bulan lain hal ini bisa saja dilakukan.

Selain itu, untuk tingkatan puasa yang lebih tinggi, seseorang harus bisa menahan amarahnya, menahan dirinya dari perkataan yang buruk, dan apa saja yang dapat mengurangi ibadah Ramadan. Sehingga salah satu inti dari ibadah Ramadan adalah melatih diri untuk selalu bersabar dalam kehidupan. Rasulullah saw bersabda, “Puasa bulan sabar (Ramadan) dan tiga hari pada setiap bulan dapat menghilangkan kekerasan hati.” (HR. Ahmad)

Sudah semestinya ibadah Ramadan dapat memotivasi seseorang untuk melatih kesabarannya untuk mengharapkan keridhoan Allah semata. Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran : 200).

Kedua, mendidik kedisiplinan.

Ibadah puasa Ramadan juga erat kaitannya dengan kedisplinan. Dalam melaksanakan ibadah puasa, seseorang harus mengatur waktunya untuk dapat bangun pada saat sahur. Dan juga keteraturan hidup seseorang menjadi lebih baik. Seseorang yang berpuasa selalu memiliki waktu makan yang tetap, yaitu pada saat sahur dan berbuka.

Salah satu contoh kedisplinan dalam hal kebersihan yang dapat diambil dari ibadah puasa Ramadan, adalah seseorang yang berpuasa akan menyikat gigi sesudah makan (sahur dan berbuka), dan sebelum tidur (setelah tarawih). Pada intinya, seluruh ibadah dalam Islam ternyata mendidik manusia menjadi insan yang disiplin dalam perjalanan hidupnya.

Ketiga, mendidik kejujuran.

Puasa adalah ibadah pribadi masing-masing yang tentunya orang lain tidak mengetahuinya. Di sini orang berpuasa dituntut kejujurannya terhadap diri sendiri untuk tidak makan dan minum, dan apapun amalan yang dapat mengurangi nilai ataupun membatalkan ibadah puasanya. Karena selain dirinya dan Allah SWT, tidak seorang pun yang mengetahui bahwasanya ia berpuasa.

Keempat, mendidik kepedulian terhadap sesama.

Salah satu makna ibadah puasa adalah bagaimana seseorang yang berpuasa dapat merasakan lapar dan dahaga, seperti yang dirasakan sebagian saudara kita yang kurang mampu. Pada akhir Ramadan, seorang mukmin yang berpuasa diwajibkan untuk menyerahkan zakat fitrah kepada fakir dan miskin yang membutuhkan. Ini sebagai wujud kepedulian terhadap sesama yang tercermin dari serangkaian ibadah Ramadhan. Rasulullah saw bersabda: “Bukanlah seorang beriman yang merasa kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Bukhari).

Bulan Ibadah

Dalam bulan Ramadan semua amal ibadah yang dilakukan memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT, baik yang fardhu maupun yang sunnah.  Rasulullah menganjurkan kita untuk memperbanyak amal ibadah pada bulan ini, hingga dengan memberikan makan seseorang yang berbuka puasa maka baginya ganjaran yang sama seperti yang berpuasa tanpa mengurangi ibadah orang tersebut.

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka ia memperoleh pahala sebesar pahala orang yang berpuasa, tanpa dikurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Ahmad)

“Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan, pahalanya dianggap sama dengan mengerjakan amalan wajib” (HR. Bahaiqi dan Ibnu Khuzaimah).

Bulan Alquran

Ramadan disebut sebagai bulan Alquran karena bulan Ramadan adalah satu-satunya bulan yang disebut di dalamnya dan Allah SWT menurunkan Alquran pertama kali pada bulan Ramadan. Allah SWT berfirman: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)”. (QS. Al Baqarah : 185).

Oleh karena itu, sudah seharusnya bulan Ramadan dijadikan momentum untuk semakin akrab dengan Alquran dengan selalu membacanya. Karena dengan membaca Alquran seseorang akan mendapatkan keutamaan dari Allah SWT.

Rasulullah saw bersabda: “Bacalah Alquran karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)

Demikianlah, bagaimana keistimewaan dan keutamaan bulan Ramadan bagi seorang mukmin untuk dijadikan sebagai momentum yang tepat untuk mendidik dirinya menjadi lebih baik, memperbanyak amal ibadah dan mendekatkan dirinya dengan Allah SWT dengan membaca Alquran.

Namun, di tengah-tengah suasana tahun politik 2018 dan 2019, tidak jarang ada oknum di tengah-tengah masyarakat yang memperturutkan hawa nafsunya, untuk memanfaatkan momentum bulan mulia ini guna kepentingan politik dan kekuasaan yang fana. Terkadang umat pun larut dengan bujuk rayu mereka, sehingga ikut serta memperturutkan hawa nafsu dalam menebar kebencian terhadap lawan politik.

Untuk menjaga kesucian bulan Ramadan, maka umat tidak boleh terprovokasi oleh sesuatu ajakan untuk berpolitik yang bertujuan untuk urusan kekuasaan sesaat, yang akan membuat kita menyesal manakala menyadari kelalaiannya dalam mengisi kegiatan yang bermanfaat dalam bulan penuh ampunan ini.

Sekalipun membahas urusan politik, maka tentu politik nilai yang bertujuan untuk kebaikan dan kemaslahatan ummat. Bukan politik praktis yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, yakni meraih kekuasaan sesaat. Demi kekuasaan, mereka tidak peduli dengan porak porandanya kesatuan dan persatuan. Abai dengan keharmonisan hidup antar ummat beragama, serta tidak segan menebar kabar bohong dan fitnah.

Singkatnya, politik jangan mempengaruhi kualitas ibadah di bulan Ramadan. Tetapi Ramadanlah yang seharusnya mempengaruhi kualitas berpolitik. Wallahu a’lam bish showab. (H.A. Bazari Syam/Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Banten)*


Sekilas Info

HAJI PRESTISE

Oleh: Nasuha Abu Bakar,MA Ibadah haji merupakan ibadah pamungkas bagi umat islam bila dilihat dari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *