Selasa, 18 Desember 2018
Kapolres Serang Kota, AKBP Komarudin menunjukkan barang bukti dokumen palsu saat pers rilis di Aula Mapolres Serang Kota, Rabu (7/3/2018). Jajaran Reskrim Polres Serang Kota berhasil mengamankan tiga pelaku sindikat tindak pidana pemalsu beragam jenis dokumen. Dokumen yang dipalsukan di antaranya SIM, kartu keluarga, ijazah SMA, ijazah sarjana, hasil UN, KTP dan akta kelahiran.*

Polisi Tangkap Tiga Tersangka, Pembuat KTP-El Palsu Dibongkar

SERANG, (KB).- Petugas Satreskrim Polres Serang Kota dan Polsek Kramatwatu membongkar sindikat pemalsuan kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el), di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Rabu (7/3/2018). Dari pengungkapan kasus tersebut, petugas menangkap tiga orang tersangka.

Ketiga tersangka tersebut berinisial AW alias Odoy (34) dan TH (43). Keduanya warga Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang dan SS (56) Kelurahan/Kecamatan Tanah Tinggi, Kota Tangerang. Mereka bukan hanya memalsukan KTP-el, namun juga ijazah, kartu keluarga (KK), surat izin mengemudi (SIM) dan dokumen lainnya.

Kapolres Serang, AKBP Komarudin menjelaskan, pengungkapan kasus tersebut bermula dari informasi masyarakat terkait mudahnya mendapatkan surat izin mengemudi (SIM). Mendapat informasi tersebut, petugas Unit Reskrim Polsek Kramatwatu yang dipimpin Iptu Tatang melakukan proses penyelidikan. Hasil penyelidikan petugas berhasil menangkap tersangka AW.

“Tersangka AW alias Odoy ditangkap pada 7 Februari 2017 di rumah kontrakan,” ujar Kapolres didampingi Kasat Reskrim Polres Serang Kota AKP Richardo Hutasoit dan Kapolsek Kramatwatu Kompol Dudung Junaedi saat ekspos di Mapolres Serang Kota, Rabu (7/3/2018).

Dari tangan tersangka, diamankan barang bukti 1 unit laptop, 1 mesin printer, 1 mesin laminating, jarum jait, 27 ijazah yang diduga palsu, 5 ijazah asli, 122 stempel beragam instansi, hologram, 5 akta kelahiran, kartu keluarga (KK) palsu, SKCK (surat keterangan catatan kepolisian), SIM, blangko KTP, 1 buah kartu Kementerian HAM palsu dan 1 buah HP (handphone).

Dari penangkapan terhadap tersangka AW, kemudian berkembang ke dua tersangka lain. TH ditangkap pada Jumat (9/2/2018) dan SS ditangkap pada Ahad (11/2/2018). Dalam menjalankan praktik pemalsuan dokumen tersebut, tersangka AW berperan sebagai pemalsu dokumen.

Ia memiliki keterampilan memalsukan dokumen dengan mengubah atau membuat dokumen palsu seolah-olah asli. Kemampuan tersebut diperoleh AW secara otodidak. Sedangkan tersangka TH, berperan mengurus pemesanan dari konsumen. Sementara SS menyediakan blangko yang diperoleh dari daerah Jakarta. ” Kami masih dalami dan koordinasi dengan Polda Metro Jaya (terkait dokumen yang didapat di Jakarta),” kata Kapolres.

Selama 2 tahun

Ia menuturkan, pemalsuan dokumen tersebut dilakoni oleh ketiga tersangka selama 2 tahun. Khusus untuk pemalsuan ijazah sarjana, dipatok paling tinggi yakni sebesar Rp 700.000. Untuk SMA sederajat Rp 20.000. Ketiga tersangka telah memalsukan sejumlah ijazah dari perguruan tinggi di Banten, Sumatera dan Jawa Barat. “Yang bersangkutan (AW) memiliki sampel berbagai ijazah beragam universitas,” ucap Kapolres.

Untuk pemalsuan KTP dan KK, biasanya digunakan untuk mengelabui dealer dan jasa pinjaman. Sehingga, pihak yang memberi pinjaman kesulitan menagih konsumennya karena alamatnya tidak sesuai dengan KTP. Selain itu juga pemalsuan KK dan KTP untuk mengurus pembuatan paspor. “Tersangka TH ini yang ditugaskan mengurus dokumen di salah satu travel untuk keberangkatan haji dan umrah. Kami sedang lakukan pendalaman untuk jasa travel dan leasing (diduga terlibat),” tutur Kapolres.

Ia mengatakan, untuk SKCK palsu digunakan untuk melamar pekerjaan. Dari pengungkapan kasus tersebut, petugas membidik calon tersangka lain yang menggunakan dokumen palsu tersebut. “Untuk Pasal 263 ayat 2 KUHP (pengguna dokumen palsu) masih kami kembangkan. Itu termasuk pidana (penggunaan dokumen palsu),” kata Kapolres.

Sementara itu, tersangka AW mengatakan telah memproduksi dokumen palsu mencapai ratusan. Dari jasa pemalsuannya tersebut ia memperoleh pendapatan sekitar Rp 3 juta setiap bulannya. Pendapatan tersebut kemudian bersama dua rekannya. “Enggak (belum sampai seribuan), ratusan. Terendah untuk biaya KTP dan KK itu Rp 20.000,” tuturnya. (FI)***


Sekilas Info

Bank Banten Harus Bangun Kepercayaan Pemda

SERANG, (KB).- Wakil Ketua DPRD Banten, Nur’aeni mendukung upaya Pemprov Banten yang akan melepas saham di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *