Selasa, 20 Februari 2018

Polisi Selidiki Peredaran Pil Eksimer

LEBAK, (KB).- Aparat kepolisian tidak tinggal diam menyikapi peredaran pil eksimer yang diduga sudah menyasar murid Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak. Dalam penyelidikan korps Bhayangkara di Mapolsek Malingping, diketahui pil yang merupakan obat
anti-psikotik yang berfungsi untuk mengurangi gejala psikotik atau gangguan jiwa ini diketahui didatangkan dari Jakarta dengan harga Rp 10.000 per empat tablet.

Menurut informasi, sejumlah aparat Polsek Malingping sudah bergerak menyelidiki peredaran pil eksimer yang diduga telah menyasar ke murid Sekolah Dasar (SD). Diperoleh informasi, aparat yang diterjunkan untuk menyelidiki hal tersebut telah mendatangi beberapa warga untuk diperoleh keterangan guna pengungkapan. ”Semalam (Rabu malam) mendatangi rumah beberapa warga. Menurut mereka yang didatangi aparat dari Polsek NM Malingping menanyakan soal pil eksimer,” kata salah seorang warga yang meminta agar namanya dirahasiakan.

Kapolsek Malingping, Kompol Doren saat akan dikonfirmasi sedang tidak ada di kantornya. Menurut sejumlah anggota, Kapolsek yang belum lama menjabat ini sedang ke Mapolres Lebak. ”Pak Kapolsek nya sedang dinas luar, mungkin bisa ditanyakan ke Pak Kanit reskrimnya,” ujar salah seorang anggota.
Kanit Reskrim Polsek Malingping, Ipda Abdul Goniman mengatakan, pihaknya sudah mendengar informasi dan melakukan langkah-langkah guna mengungkap peredaran pil yang diduga sudah merambah ke pelajar SD di wilayah hukum Polsek Malingping.

”Dari informasi yang diperoleh, pil yang digunakan korban diperoleh dari salah seorang diduga pengedar dengan harga Rp 10.000 per 4 tablet,” ucapnya. Ketika ditanya tindak lanjut, Goniman berjanji akan mengungkap penyalahgunaan narkoba yang telah menyebabkan salah seorang murid SD menjadi korbannya. ”Tentu, nanti kita awali dengan pemanggilan saksi-saksi. Karena itu kami berharap masyarakat membantu pengungkapannya dengan memberikan sekecil apapun informasi,” ujarnya.

Bukan jenis obat psikotropika

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Lebak, Maman Sukirman menjelaskan tentang obat yang dikonsumsi oleh murid SD yang berada di Kecamatan Malingping adalah bukan obat jenis psikotropika. “Hexymerxyphenidyl adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan gerakan yang tidak normal dan tidak terkendali akibat penyakit parkinson atau efek samping obat. Hexymer biasa diberikan pada pengobatan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) untuk mencegah efek samping akibat antipsikotik yang diberikan. Efek samping yang biasa muncul saat pemberian antipsikotik yang dapat diredakan dengan eksimer di antaranya kondisi gemetaran (tremor) pada anggota gerak, juga gerakan wajah dan tubuh yang tidak terkendali,” kata Kadinkes Sukirman kepada Kabar Banten di ruang kerjanya.

Selain itu, ujar Kadinkes, eksimer (Trihexyphenidyl) juga bermanfaat meningkatkan kendali otot dan mengurangi kekakuan. ”Saat gejala berkurang, obat ini akan membuat gerakan tubuh menjadi lebih normal. Beberapa efek samping yang umum terjadi jika mengonsumsi hexymerl antara lain, konstipasi, pusing, sulit buang air kecil, mulut kering,pandangan buram dan mual,” ujarnya. Terpisah, anggota Komisi III DPRD Kabupaten Lebak, Pipit Chandra mendesak dinas-dinas terkait untuk segera menyosialisasikan bahaya narkoba.

Menurutnya, Kabupaten Lebak merupakan lahan subur untuk peredaran narkoba. Karena, Kabupaten Lebak berada di tengah-tengah beberapa kabupaten lain yang berada di Jawa Barat. Seperti Cipanas berbatasan dengan Bogor, Cilograng berbatasan dengan Sukabumi dan Rangkasbitung yang berbatasan dengan kota Jakarta. “Kabupaten Lebak adalah lahan hijau bagi para pengedar narkoba, karena lokasi yang berbatasan dengan beberapa kota yang ada di Jawa Barat, sehingga peredaran narkoba di Lebak sangat mudah dan bebas,” tutur Pipit Chandra.

Menanggapi kasus yang terjadi pada murid kelas 6 di salah satu SD di Kecamatan Malingping yang dilarikan ke rumah sakit karena meminum obat merek Hexymerl yang merupakan obat jenis anti parkinson. “Ini sudah darurat, karena peredaran obat sudah menyentuh ke Sekolah Dasar. Maka dari itu, kami berharap dinas terkait, seperti Dinkes memberikan pembinaan awal kepada klinik ataupun apotek, kalau ada pembelian obat tanpa resep dokter jangan sampai dilayani. Dan kontrol dari pihak orangtua terhadap anak juga harus lebih ditingkatkan. Selain Dinkes, Dinas pendidikan juga diharapkan memberikan sosialisasi terhadap sekolah-sekolah tentang bahaya narkoba,” ujarnya. (DH/Lugay/Job)***


Sekilas Info

PEDAGANG PASAR SAMPAY TERANCAM GULUNG TIKAR

LEBAK, (KB).- Transaksi di Pasar Sampay Warunggunung Kabupaten Lebak semakin sepi.  Selain karena tidak dilewati kendaraan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *