Kamis, 20 September 2018
Wakapolda Banten Kombes Pol. Tomex Kurniawan.*

Polda Banten Selidiki Kebocoran Pipa Gas di Perairan Pulau Panjang

SERANG, (KB).- Polda Banten menyelidiki dugaan kesalahan prosedur lego jangkar yang dilakukan sebuah kapal, hingga menyebabkan pipa gas bawah laut di sekitar ujung Pulo Panjang, Bojonegara, Kabupaten Serang, bocor. “Kami masih lakukan pemeriksaan. Karena jangkar berlabuh itu kan memang ada aturannya, ada SOP-nya (standar operasional prosedur),” ujar Wakapolda Banten Kombes Pol. Tomex Kurniawan, kepada wartawan seusai menghadiri acara di kantor MUI Banten, KP3B, Kota Serang, Selasa (10/7/2018).

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, diketahui ada kapal yang melintas kemudian melego jangkar. Namun, jangkar tersebut menyangkut di pipa gas.”Kemarin langsung kita terjun tim gabungan. Koordinasi dengan Kementerian ESDM. Kemudian perusahaan juga sudah menghentikan aliran gasnya, sudah merecovery,” tuturnya.

Ia menuturkan, Kementerian ESDM juga akan melakukan uji gas tersebut untuk mengetahui sejauh mana fatalitas dampak dari bocornya pipa gas milik PT CNOOC tersebut. “Pemeriksaan dulu seperti apa tingkat fatalitas akibat bocornya gas tersebut. Kementerian akan uji apakah dampaknya untuk laut dan apa (dampaknya) bagi masyarakat,” ujarnya. Tomex mengatakan, perimeter masih terpasang di lokasi bocornya pipa gas tersebut. “Masih. Kita antisipasi supaya masyarakat tidak mendekat karena kita tidak tau detail dampak bocornya gas tersebut,” tuturnya.

Baca Juga: Pipa Gas di Perairan Pulau Panjang Bocor

Sudah tertangani

Menurut Camat Pulo Ampel, Encep B Soemantri, kebocoran pipa gas milik PT CNOOC yang terjadi di tengah laut sekitar 3-5 mil dari perairan Pulo Panjang, Kecamatan Bojonegara, sudah tertangani. Saat ini, kondisi perairan di wilayahnya sudah kembali aman. “Pasca kebocoran, pipa gas itu langsung ditutup melalui jalur Kepulauan Seribu. Sekarang juga pekerjanya sudah bekerja di bawah untuk mengelasnya,” ujarnya.

Selain sudah berhentinya kebocoran pipa tersebut, pencemaran pun sudah tidak terjadi di sekitarnya. Namun akibat kebocoran itu, dipastikan perusahaan mengalami kerugian akibat terhentinya produksi yang dilakukan. “Kerugian produksi namanya. Jadi pipa gas itu nyambung ke Sumatra, seperti ikut kontur tanah saja pipanya itu,” ucapnya.

Berdasarkan informasi yang didapatkannya, kebocoran pipa gas itu disinyalir terjadi karena ada kapal yang hendak bersandar. Sebab, kebiasaan kapal sebelum bersandar akan berhenti di tengah laut untuk kemudian menurunkan jangkar di tengah. “Belum tentu benar juga itu, karena baru dsinyalir,” katanya.

Namun, Camat Bojonegara, Sutikno, tidak mengetahui mengenai perkembangan peristiwa tersebut. Sebab, keberadaan pipa yang bocor itu tidak di wilayahnya melainkan di perbatasan Pulau Seribu. “Makanya itu yang lebih jelas ke Polair. Saya juga enggak tahu, karena bukan wilayah Bojonegara,” ujarnya.

PLTGU merugi

Sementara itu, kebocoran pipa gas milik PT China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) berdampak besar pada Unit Jasa Pembangkit (UJP) Pembangkit Tenaga Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Cilegon, di Desa Margasari, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang. Matinya turbin 2 PLTG Cilegon pasca suply gas terganggu, menyebabkan perusahaan kehilangan produksi listrik hingga 350 Megawatt (MW) dan merugi Rp 350 juta per jam atau Rp 7 miliar per hari.

General Manager UJP PLTGU Cilegon Irwan Edi Syahputra Lubis mengatakan, insiden tersebut tidak hanya menyebabkan Turbin Gas II PLTGU Cilegon mati, namun berdampak pada Turbin Uap PLTGU tidak berproduksi maksimal.

“Ini juga berdampak pada Turbin Uap kami. Sebab kami memanfaatkan panas yang dihasilkan Turbin Gas II untuk menjalankan Turbin Uap. Ketika Turbin Gas II mati, Turbin Uap yang seharusnya menghasilkan 260 MW hanya bisa memproduksi 80 MW. Jadi, selain Turbin Gas II berkapasitas 240 MW mati, Turbin Uap pun kehilangan produksi sebanyak 110 MW. Sehingga kami kehilangan produksi 350 MW per hari,” katanya.

Irwan menjelaskan, PLTGU Cilegon memiliki dua Turbin Gas dan satu Turbin Uap. Untuk mengoperasikan tiga turbin tersebut, pihaknya mendapakan suply gas dari PT CNOOC sebanyak 84 Billion British Thermal Unit Day (BBTUD) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) sebesar 30 BBTUD. “Pasca kebocoran pada pipa gas PT CNOOC, kami meminta PT PGN menambah suply dari 30 BBTUD menjadi 40 BBTUD. Alhamdulillah permintaan kami disetujui, namun nyatanya kami masih kekurangan suply gas,” ujarnya.

Namun, Irwan menegaskan, terganggunya produksi listrik tidak menyebabkan pasokan untuk Banten Utara dan Banten Selatan terganggu. Hingga Selasa (10/7/2018), Irwan mengatakan bahwa PT PLN selaku distributor listrik kepada para pelanggan tidak memberlakukan pemadaman listrik.

“Hingga saat ini, saya tidak mendapatkan laporan jika PT PLN melakukan pemadaman listrik. Terlebih untuk Banten Utara dan Banten Selatan, pasokan listrik ditopang oleh tiga sumber listrik, yakni dari PLTGU Cilegon, PLTU Labuan, serta dari Inter Bus Transformator (IBT) yang terkoneksi dengan PLTU Suralaya,” katanya.

Terkait insiden tersebut, pihaknya telah memberikan keterangan kepada Ditpolair Polda Banten. Dia juga menyerahkan persoalan tersebut kepada pihak kepolisian. “Kalau sekadar isu sih, saya dengarnya karena tergores jangkar kapal. Tapi kalau kebenarannya seperti apa, biar data yang didapatkan polisi yang menjawabnya,” tuturnya.

Sementara itu, Operator PT CNOOC Djoko Agussama selaku utusan PT CNOOC mengatakan, kejadian ini menyebabkan perusahaan merugi hingga Rp 3,5 miliar per hari. Saat kebocoran terjadi, PT CNOOC kehilangan gas sebanyak 57 BBTUD. “Kerugian kami setengahnya PLTGU Cilegon,” katanya.

Menurut Djoko, pihaknya belum mengetahui lebar lubang pada pipa gas yang bocor. Sebab teknisi PT CNOOC belum melakukan penyelaman karena persoalan perizinan. “Untuk menyelam guna perbaikan, kami membutuhkan izin dari otoritas kepelabuhanan. Kabarnya Selasa (10/7/2018) malam tim teknisi baru bisa menyelam,” ujarnya.

Ramah lingkungan

Ia mengatakan, pipa gas perusahaan memiliki diameter 20 inci dan panjang 60 kilometer. Pipa tersebut merupakan jaringan khusus dariOutshore Sout East Sumatera (OSES), anjungan lepas pantai di Sumatera Utara, ke PLTGU Cilegon. “Pipa ini terkoneksi langsung dari sumber kilang gas di OSES,” ucapnya.

Dia menegaskan, kandungan gas yang telah terpapar di perairan Bojonegara tidak akan menyebabkan polusi. Mengingat, gas tersebut adalah methanol (CH4) yang ramah lingkungan. “Kami hanya mengkhawatirkan jika gas yang menyembur dari kedalaman laut tersulut api. Makanya kami minta yang berwenang membuat perimeter seluas 3 mil,” tuturnya.

Pada bagian lain, Dirpolair Polda Banten AKBP Nunung Syaifuddin mengatakan, pihaknya masih memperdalam penyebab kebocoran gas. Hingga saat ini, pihaknya masih memeriksa para awak kapal dan kapten kapal dari MV Lumoso Raya. “Pemeriksaan masih kami lakukan, kalau hasilnya belum bisa kami publikasikan,” katanya saat dihubungi melalui telepon genggam. (DN/RI/AH)*


Sekilas Info

Program Serang Sehat Belum Memuaskan

SERANG, (KB).- Program Serang Sehat dinilai belum memuaskan. Hal tersebut salah satunya, karena masih kurangnya koordinasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *