Pola Pikir Wisudawan Generasi Milenial

Oleh : Sudaryono

Wisuda adalah suatu proses pelantikan kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar pada suatu universitas. Biasanya prosesi wisuda diawali dengan prosesi masuknya rektor dan para pembantu rektor dengan dekan-dekannya guna mewisuda para calon wisudawan.

Biasanya setelah acara selesai dilakukan acara foto-foto bersama dengan orangtua, teman-teman serta suami/istri dari wisudawan/wisudawati atau dengan pasangan wisudawan/wisudawati. Dilakukan biasanya setiap akhir semester dalam kalender akademik baik semester genap maupun semester gasal (ganjil).

Pada wisuda biasanya memakai pakaian yang ditentukan, pakaian pria menggunakan hem putih dan celana hitam bersepatu hitam, pakaian wanita menggunakan kebaya tradisional tipis dengan kain jarik, tetapi secara umum menggunakan baju toga.

Pola pikir adalah cara otak dan akal menerima, memproses, menganalisis, mempersepsi, dan membuat kesimpulan terhadap informasi yang masuk melalui indra. Pola pikir yang sudah dimiliki masih bisa diubah apabila dirasa sudah tidak mampu membawa diri kita ke tempat tujuan dengan sukses.

Untuk mengganti pola pikir lama dengan pola pikir baru yang lebih baik diperlukan tekad dan keberanian untuk berubah. Pola pikir baru yang dianut harus bisa mendorong imajinasi dan kreativitas untuk berkembang. Pola pikir ada yang bersifat umum dan ada pula yang bersifat spesifik sesuai dengan tuntutan bidang tertentu.

Pada saat ini, generasi milenial adalah generasi muda yang berusia sekitar antara 18–38 tahun yang hidup dalam dunia yang dipenuhi oleh peralatan elektronik dan jaringan online. Oleh karena itu, sebagian besar dalam bersosialisasi lewat daring. Bisa dibilang di era milenial kurang percaya lagi kepada distribusi informasi yang bersifat satu arah.

Mereka lebih percaya kepada user generated content atau konten dan informasi yang dibuat oleh perorangan. Generasi milenial merupakan generasi modern, sehingga tak jarang merekalah yang mengajarkan teknologi pada kalangan yang lebih tua.

Diperkirakan pada tahun 2025, generasi milenial akan menduduki porsi tenaga kerja di seluruh dunia sebanyak 75 persen. Tidak sedikit posisi pemimpin dan manajer telah diduduki oleh kaum milenial. Meskipun kaum milenial hidup di era informasi yang menjadikan mereka tumbuh cerdas, namun mereka kurang loyal terhadap suatu pekerjaan atau perusahaan.

Milenial biasanya hanya bertahan di sebuah pekerjaan kurang dari tiga tahun. Meski demikian, tidak sedikit perusahaan yang mengalami kenaikan laba karena mempekerjakan kaum milenial.

Saat ini, generasi Y atau milenial merupakan generasi yang paling banyak menerima perhatian dari banyak perusahaan sebagai sasaran pemasaran. Hal itu berkaitan dengan jumlah populasi generasi Y yang diperkirakan sama besar dengan generasi baby boomer, yaitu sekitar 80 juta.

Sebagai generasi yang paling beragam secara etnis, Generasi Milenial cenderung toleran terhadap perbedaan, cenderung percaya diri. Mereka sering terlihat sedikit lebih optimistis tentang masa depan daripada generasi lain.

Banyaknya informasi tentang menyusutnya lapangan pekerjaan, yang kemudian dikonsumsi secara mentah oleh anak-anak muda pencari dan calon pencari kerja, memang tidak diimbangi secara sepadan dengan berita tentang munculnya profesi-profesi baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Dalam bidang teknologi informatika, sebelumnya orang hanya mengenal profesi pemrograman (programmer) atau perancang Web (Web Developer). Namun, dalam kurun waktu 4-5 tahun terakhir, profesi ini telah membelah diri dengan spesialisasi yang makin runcing. Ada yang disebut search engine optimizer. Adapula user experience designer atau front – end developer. Spesialisasi ini dituntut karena kian meluasnya spektrum pengguna internet dengan berbagai kebutuhan yang kian personal.

Di industri transportasi dan wisata, sekalipun banyak biro perjalanan dan biro wisata tradisional harus gulung tikar, kemunculan layanan transportasi dan wisata berbasis digital, seperti Traveloka, Air bnb, hingga tripal, telah melahirkan berbagai jenis pekerjaan baru yang lebih spesifik.

Di dunia bisnis pada umumnya, sebelum 2014 istilah data scientist atau data analyst juga masih terdengar asing dikalangan pencari kerja. Kini kedua profesi itu amat dibutuhkan, bahkan juga di dunia pemerintahan, yang sering dianggap lambat dibandingkan dunia bisnis. Keahlian khusus di bidang big data analytics, augmented reality, dan virtual reality akan sangat dibutuhkan seorang strategist, baik pada perusahaan swasta maupun di pemerintahan.

Tantangannya adalah apakah mereka yang semula sudah menggeluti pekerjaan ini selama bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun, seperti karyawan swasta atau birokat pemerintah bahkan aktivis lembaga masyarakat, mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan deskripsi dan jenis pekerjaan baru dalam sektornya atau tidak.

Sebab, hukum seleksi alam akan berlaku: “mereka yang tak mau berubah akan tinggal menjadi catatan sejarah”. Disini, kita melihat bagaimana anak-anak muda di perguruan tinggi berbicara tentang ide-ide yang cemerlang. Kemudian bagaimana regulator menempatkan dirinya dalam dunia yang berubah ini? Ada beberapa hal yang mungkin perlu dibahas.

Pertama, revolusioner kah perubahan ini? Kita pernah mengalami revolusi industri pertama, yang mentransformasi metode produksi, tatanan sosial, meningkatkan produktivitas, dan mengubah taraf hidup. Penemuan mesin uap telah mengubah metode produksi. Namun, mimpi gelap bahwa mesin akan menggantikan buruh tidak sepenuhnya benar. Manusia melampaui mesin dengan sebuah catatan penting dari Joseph Schumpeter: Destruksi kreatif dalam jangka panjang justru memberikan kesempatan kerja baru.

Ia juga mendorong kemakmuran. Barry Eichengreen dari University of California Berkeley menulis: yang terjadi bukanlah hilangnya pekerjaan, melainkan redifinisi pekerjaan. Tengok saja, profesi perawat, akuntan, atau pekerjaan lain mungkin tidak hilang. Akan tetapi, ke depan mereka membutuhkan kemampuan analitik untuk memanfaatkan Big data dan teknologi.

Kedua, regulator tidak lagi bisa menggunakan cara pola pikir lama. Revolusi dalam teknologi informasi ini menerobos hal-hal yang selama ini dianggap tidak mungkin. Mereka yang belajar ilmu ekonomi tahu, nyaris tidak mungkin menerapkan harga yang berbeda (diskriminasi harga) untuk tiap individu terbatas.

Kalaupun bisa, harganya sangat mahal dan hanya diperuntukkan bagi pelanggan yang amat kaya (high networth undividual). Ke depan, informasi dari big data memungkinkan untuk mempersonalisasi produk dan itu bisa dilakukan secara masif dengan biaya yang relatif murah. Artinya, produk atau harga dapat disesuaikan dengan selera dan daya beli individu.

Dalam konteks itu, Presiden Jokowi menginginkan adanya suatu ekosistem yang berubah di lingkungan perguruan tinggi sebagai pemasok utama kebutuhan di dunia kerja. Untuk mengubah ekosistem yang adaptif terhadap perubahan, perguruan tinggi dituntut untuk mencari terobosan dan inovasi sehingga anak-anak muda ini mendapatkan gambaran, pengetahuan, dan keterampilan yang memadai dalam bidang ilmu yang digelutinya, sesuai dengan proses digitalisasi pada bidang-bidang ilmu yang ditawarkan oleh perguruan tinggi.

Making Indonesia 4.0 yang dicanangkan presiden Joko Widodo pada saat ini masih terkendala oleh indeks konektivitas yang masih rendah. Ketimpangan digital di Indonesia timur dan barat menyebabkan peringkat Indonesia tergolong rendah, yakni indeks konektivitas hanya 4,34. Hal ini berada di urutan 111 dari 176 negara yang disurvei oleh International Telecommunication Union (ITU).

Indeks pembangunan TIK Indonesia masih kalah dibandingkan Singapura yang memiliki nilai indeks 8,05, Malaysia 6,38, Brunei Darussalam 6,75, Filipina 4,67, dan Vietnam 4,43. Denga kondisi indeks konektivitas tersebut, sulit bagi Indonesia untuk meyongsong era Revolusi Industri 4.0.

Indonesia harus mempersiapkan SDM beriptek dan pekerja sektor industri untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0 dalam jumlah yang memadai. SDM tersebut untuk menguasai teknologi pendukung, yakni bidang teknologi Internet of Thing (IoT), Cybersecurity, Cloud Computing, Additive Manufacturing, Augmented Reality, Big Data, Autonomous Robots, Simulation, dan Platform Integration.

Bagi kaum pekerja era industri 4.0 bisa berdampak negatif. Karena mereduksi beberapa bidang profesi yang pada akhirnya memangkas jumlah tenaga kerja. Namun begitu, kehadiran era itu tidak sepenuhnya berdampak negatif karena akan melahirkan jenis profesi yang baru.

Dalam era tersebut, akan terjadi perang untuk memperebutkan SDM berbakat dan berkompetensi yang tinggi. Perebutan itu dari tingkat lokal hingga global. Dalam era ini, sebagian besar tenaga kerja akan menjadi pekerja kontrak atau alih daya.

Pola ketenagakerjaan seperti ini tidak bisa diatur dengan undang-undang atau peraturan ketenagakerjaan yang ada sekarang ini. Masalah jam kerja, bobot kerja, dan hal-hal normatif pekerja sudah tidak relevan lagi dengan peraturan yang berlaku selama ini. (Penulis, Rektor Universitas Banten Jaya)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here