PMI dan IFRC Gelar ToT, Sejumlah Awak Media Dilatih Jurnalistik Kebencanaan

Narasumber dalam ToT yang digelar oleh PMI Pusat yang bekerja sama dengan International Federation Off Red Cross Jackly dari Media BBC London saat memberikan materi kepada puluhan peserta, di salah satu hotel di Kota Bogor, Kamis (27/2/2020).*

Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat dan International Federation of Red Cross (IFRC) menggelar Trainning of Trainner (ToT) atau pelatihan jurnalistik kebencanaan bersama BBC Media Action London Inggris, di Bogor, Kamis-Jumat (27-28/2/2020). Acara itu melibatkan berbagai media sebagai peserta pelatihan, salah satunya adalah Harian Umum Kabar Banten.

Divisi Humas PMI Anggun Permana mengatakan, kegiatan itu merupakan pelatihan untuk pelatih dari lintas sektor yaitu PMI, media massa, dan Kementerian atau lembaga terkait. Pelatihan meliputi komunikasi dalam kedaruratan, konflik atau krisis kesehatan.

“Sebagai mitra dari PMI, media dalam menyajikan informasi idealnya seperti apa, kemudian juga manfaat bagi korban terdampak seperti apa. Dijelaskan nanti oleh narasumber dari media BBC London. Kami ingin media dalam peliputan, mengedepankan fakta, berimbang, bahasa yang mudah dipahami, humanis dan bisa memberikan harapan kepada masyarakat terdampak korban bencana,” katanya, Kamis (27/2/2020).

Selama dua hari, puluhan peserta dari berbagai lintas sektor akan menerima materi yang berkaitan dengan jurnalistik kebencanaan dan bagaimana situasi di lapangan. Sebab, kata dia, dalam penyampaian informasi jangan sampai menjadi salah persepsi bagi masyarakat korban terdampak, maupun stakeholder yang menangani masalah bencana.

“Menyampaikan informasi bencana itu penting. Akan tetapi, dalam kegiatan ini, kami akan mengulas bagaimana media yang menyebarkan berita itu mendapat tempat dan kepercayaan di masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu narasumber dari media BBC London Jeckly mengatakan, media tidak saja cukup memberitakan mengenai jumlah korban atau penyebab bencana maupun hal yang lainnya. Akan tetapi, ujar dia, media juga harus mampu dan bisa menjadi alat komunikasi yang tepat sasaran bagi pembaca dan juga korban terdampak bencana.

“Jadi, media sebagai salah satu ujung tombak untuk informasi pemberitaan kebencanaan, harus bisa mempunyai sejumlah unsur dalam pemberitaan yang humanis.Tidak menakut-nakuti, apalagi dalam menyampaikan tulisan data yang disajikan tidak valid,” tuturnya.

Dia mengatakan, media sebaiknya bekerja sama dengan lintas sektor. Sehingga, bisa mendapatkan data yang akurat dan dapat melakukan pendekatan kepada warga terdampak agar keinginan korban dapat terpenuhi dalam pemulihan bencana.

“Jadi sebagai pekerja media, memahami betul seperti apa di lapangan. Kemudian, media juga bisa bekerja sama atau team work dengan berbagai stakeholder yang ada. Sehingga, apa yang dibutuhkan korban terdampak juga bisa disampaikan melalui informasi yang media sajikan,” ucapnya.

Pada pelatihan itu, peserta diberikan materi tentang menyelesaikan berbagai masalah saat terjadi bencana. Selain itu juga bagaimana agar bisa bekerja sama dengan stakeholder lainnya dalam menjalankan pengurangan baik risiko bencana maupun pencegahan bencana.

“Kami berharap peserta yang mendapat materi pelatihan, ke depan bisa membagikan pemahaman ini kepada instansi atau rekan-rekan media lainnya. Sehingga, ketika terjadi peliputan atau menyajikan informasi bisa akurat dan berimbang,”ungkapnya. (Himawan Sutanto)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here