Piutang Masih Tersisa Rp 25 Miliar, Penagihan PDAM Tirta Albantani Belum Optimal

SERANG, (KB).- Penagihan piutang pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Albantani yang mencapai Rp 30 miliar hingga saat ini belum berdampak signifikan.

Hal tersebut, menurut pihak PDAM, terlihat dari hasil evaluasi yang dilakukan manajemen, yakni dari total tunggakan sejak sekitar 2000 tersebut sampai saat ini masih tersisa sekitar Rp 25 miliar.

Staf Direktur PDAM Tirta Albantani Rahmat Hidayat mengatakan, tunggakan PDAM yang ada di pelanggan atau piutang sampai saat ini sudah mulai berkurang. Hal tersebut, karena manajemen sudah melakukan tahapan penagihan baik melalui internal maupun koperasi PDAM.

Namun, kata dia, tunggakan tidak berkurang signifikan. Jumlah awal tunggakan sejak sekitar 2000 mencapai Rp 30 miliar dan saat ini masih tersisa sekitar Rp 25 miliar.

“Itu dari sekitar 28.000 pelanggan,” ujarnya kepada Kabar Banten saat ditemui di Kantor PDAM Tirta Albantani, Jumat (31/1/2020).

Ia mengatakan, pelanggan yang menunggak paling banyak tersebar di wilayah Cikande dan Bojonegara. Selama ini, bagi pelanggan yang berpiutang tidak bayar tiga bulan berturut-turut sudah tutup. Oleh karena itu, saat ini jumlah pelanggan tersebut sudah ramping.

“Banyak yang enggak bayar yang ditutup itu. Dulu kami kerja sama dengan kejaksaan (Kejari) untuk kendalikan piutang yang sudah berjalan. Memang ada dampak kalau yang datang (menagih) bukan orang PDAM,” tuturnya.

Tetapi, menurut dia, dari hasil penagihan dengan memutus saluran tersebut, lebih banyak pelanggan yang tidak bayar dibandingkan yang membayar tunggakannya.

“Makanya, manajemen evaluasi, agar piutang dirampingkan,” katanya.

Ia menjelaskan, kendala penagihan tunggakan tersebut, belum optimal dikarenakan kesadaran masyarakat untuk membayar masih rendah, sehingga harus selalu ditagih. Kemudian, mereka juga beralasan tempat pembayaran yang jauh. Padahal, ujar dia, jika dilihat dari sisi ekonomi para pelanggan tersebut sudah baik.

“Hanya sosialisasi yang harus ditingkatkan,” ucapnya.

Ia mengatakan, tunggakan tersebut, sudah terjadi sejak sekitar 2000. Oleh karena itu,saat ini manajemen sedang menyisir mana piutang yang bisa ditagih dan mana yang tidak bisa.

“Itu menjadi PR (pekerjaan rumah) besar manajemen, di awal Januari dirut langsung lari (melakukan evaluasi), karena piutang tidak turun signifikan, makanya PDAM lakukan langkah konkret, di antaranya koperasi PDAM diminta manajemen melalui perjanjian yang sudah dilakukan antara koperasi dengan PDAM berapa kesanggupan (koperasi) menagih piutang itu,” katanya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here