Pimpinan Pesantren dan Santri harus “Melek Media”

PANDEGLANG, (KB).- Pimpinan pondok pesantren dan para santri harus “melek media” agar tidak menjadi korban hoaks (berita bohong) yang saat ini semakin merebak. “Melek media” adalah kemampuan memahami dunia media sehingga kritis dan selektif dalam menerima informasi dari media dan tidak mudah terpengaruh informasi yang terang-terangan maupun terselubung.

Hal tersebut disampaikan Direktur PT Fajar Pikiran Rakyat (penerbit HU Kabar Banten) Rachmat Ginandjar ketika menjadi narasumber pada acara Halaqoh Pimpinan Pondok Pesantren dan Forum Silaturahmi Pimpinan Pondok Pesantren (FSPP) Tingkat Kabupaten Pandeglang di Gedung MUI Pandeglang, Sabtu (20/10/2018).

Dalam acara yang dibuka Ketua Presidium FSPP Pandeglang Adhe Ahmad Ibrahim itu, Rachmat menyampaikan materi bertema “Pentingnya Literasi Media di Kalangan Pesantren”. Rachmat menjelaskan yang dimaksud literasi media adalah “melek media” atau “cerdas media”. Menurut Rachmat literasi media ini antara lain mencakup pengetahuan atau pendidikan media.

“Melalui literasi media ini kita bisa melihat pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan dari informasi yang disampaikan media serta bagaimana mengantisipasinya,“ kata Rachmat.

Salah satu tujuan literasi media membantu masyarakat agar memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang isi media. Dengan demikian masyarakat dapat mengendalikan pengaruh media dalam kehidupannya.

Rachmat menjelaskan yang dimaksud “media” dalam literasi media ini mencakup semua media komunikasi massa seperti surat kabar, majalah, radio, televisi siaran, dan media internet (media online). Dengan berkembangnya media komunikasi massa, arus informasi semakin deras dan semakin mudah mendapatkan informasinya.

“Kalau informasinya mendidik atau ‘sehat’, tentu akan mencerdaskan dan menyehatkan masyarakat. Sebaliknya, kalau informasinya tidak mendidik atau ‘tidak sehat’ atau ‘beracun’ akan membuat masyarakat bodoh dan tidak sehat,” katanya.

Informasi seperti udara 

Tidak heran jika ada orang yang mengibaratkan informasi atau berita seperti udara. Maksudnya, udara yang sehat akan menyehatkan manusia. Sebaliknya, udara yang tidak sehat akan membuat manusianya sakit. Begitu juga informasi atau berita. Jika informasi atau beritanya “sehat” akan menyehatkan manusia. Sebaliknya, jika informasinya ‘tidak sehat’ seperti hoaks akan membuat menusianya tidak sehat atau sakit.

Menurut Rachmat pada era teknologi digital ini, informasi atau berita tidak hanya disebarkan melalui media massa (pers) tapi banyak juga yang disebarkan melalui media sosial (medsos) seperti facebook, twitter, whatsapp, instagram dll. Berbeda dengan media massa, pesan yang disampaikan melalui medsos bisa dibuat dan disampaikan oleh siapa saja. Oleh karena itu, sering kali, pesan-pesan atau informasi yang disebarkan melalui medsos dilatarbelakangi berbagai kepentingan si pembuat atau si penyebar.

Sementara informasi yang dibuat atau disebarkan media massa didasarkan untuk kepentingan publik. Selain itu, dalam membuat, mengolah atau menyebarkan informasi, insan-insan pers harus patuh pada UU nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, dan Kode Etik Wartawan Indonesia.

Untuk menghindari dampak informasi yang tidak sehat, Rachmat menyarakan masyarakat atau kalangan pesantren menjadi pembaca atau penonton yang aktif. Artinya, masyarakat harus aktif menyeleksi setiap informasi dari berbagai media. “Dengan cara seperti itu, dampak negatif dari informasi atau berita tersebut bisa kita cegah,” katanya.

Selain Rachmat, nara sumber lain dari halaqoh tersebut adalah Pemimpin Pondok Pesantren Kun Karima (Latansa 3) Soleh Rasyad dan Wari dari Bidang Informasi dan Teknologi FSPP Provinsi Banten. Soleh menyampaikan materi yang bertema “Peran Kiai dan Santri pada Era Milenial”, sedangkan Wari menyampaikan materi tentang “Sistem Informasi Pondok Pesantren (SIPP)”. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here