Pilpres 2019: Pertaruhan di Babak Akhir

SERANG, (KB).- Elektabilitas antara pasangan calon (paslon) peserta Pilpres 2019 yang makin menipis, menjadi sinyal pertaruhan akan berlangsung hingga babak akhir tahapan kampanye. Dari hasil survei yang dirilis Litbang Kompas, elektabilitas paslon nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin mencapai 49,2 persen dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang mencapai 37,4 persen atau hanya berjarak 1,8 persen.

Menurut akademisi Untirta Leo Agustino, semakin menipisnya jarak persaingan elektabilitas kedua paslon disebabkan oleh sejumlah faktor. Setidaknya, ia mencatat ada 4 faktor yang mempengaruhi hasil survei dari Litbang Kompas tersebut menjelang Pemilu 2019.

Faktor pertama, kata Leo, karena mayoritas pemilih milenial yang didominasi kalangan Gen-z atau pemilih pemula, bukan kelompok masyarakat yang terpengaruh secara langsung dengan isu-isu orde baru (Orba) yang menyudutkan Capres 01 Prabowo. Sehingga, ia menilai wajar jika para pemilih pemula dalam survei Litbang Kompas mendominasi pilihannya terhadap mantan Danjen Kopassus tersebut.

“Informasi yang mereka (milenial dan Gen-z) peroleh juga bukan dari orang-orang yang terlibat langsung dalam perjuangan orde baru, tapi lebih ke dunia digital yang sifatnya instan. Bahkan boleh jadi, informasi yang diterimanya itu sengaja dicreat sesuai kebutuhan. Itu yang menyebabkan kenapa Gen-z menjadi pemilih terbesar dalam kelompok 02,” katanya.

Faktor kedua, ia menilai karena Tim Kampanye Daerah (TKD) maupun Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf hingga saat ini belum menunjukkan komitmennya dalam mendukung paslon 01. Meskipun, menurut Leo, kedua mesin parpol koalisi hingga saat ini belum dikerahkan secara langsung, namun ia menganggap seharusnya parpol pengusung 01 lebih diuntungkan dengan banyaknya jumlah anggota partai dan para simpatisan.

“Minimal kalau dilihat dari jumlah parpol, maka 01 harusnya otomatis bisa unggul. Karena di sana, dia punya basis partai yang jelas. Tapi karena mesin partai tidak bekerja, maka margin keuntungan 01 tidak ada,” ujarnya.

Faktor ketiga, menurut Leo, karena para elite parpol koalisi 01 terlalu jumawa dengan menganggap bahwa tidak perlu lagi menjual nama Jokowi kepada masyarakat. Leo bahkan menganggap, tanpa menjual Jokowi, parpol pengusung akan secara otomatis mendapatkan efek peningkatan elektabilitas meski tidak bekerja dengan pola door to door kepada konstituennya.

“Sebagai parpol koalisi, para elite politik dan simpatisannya harus juga bekerja meyakinkan masyarakat agar memilih paslon yang mereka usung. Ini yang jadi masalah sehingga kenapa jaraknya jadi makin menipis,” tuturnya.

Faktor terakhir yaitu, kegiatan kampanye rapat tertutup yang telah dimulai sejak akhir September 2018, belum memberikan dampak signifikan terhadap perolehan suara, khususnya paslon 01. Ia pun meyakini, satu bulan terakhir menjelang Pemilu serentak 2019, akan terjadi dinamika signifikan terhadap situasi politik nasional jika kedua kubu sudah merasa puas dengan sejumlah hasil beberapa lembaga survei tanpa melakukan gebrakan yang besar.

“Apalagi minggu depan, itu kan ada kampanye rapat umum. Ini pastinya jadi momentum kedua koalisi untuk menunjukkan taring mereka masing-masing. Satu bulan terakhir ini, saya yakin akan terjadi dinamika yang luar biasa. Serangan-serangan isu negatif kepada kedua paslon, juga pasti bakal jor-joran. Kalau ini tidak diantisipasi sama kedua kubu, ya sudah lewat,” ucap Leo.

Jarak elektabilitas menipis

Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas, Rabu (20/3/2019), elektabilitas paslon nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin mencapai 49,2 persen. Sedangkan elektabilitas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mencapai 37,4 persen. Sementara, responden yang masih merahasiakan pilihannya sekitar 13,4 persen.

Survei itu digelar pada 22 Februari hingga 5 Maret 2019, dengan melibatkan 2.000 responden. Responden dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi. Survei ini memiliki margin of error sekitar 2,2%, dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam survei tersebut, Jokowi-Ma’ruf unggul di beberapa kategori. Di kalangan pemilih milenial, Jokowi-Ma’ruf unggul dibandingkan Prabowo-Sandi, dengan persentase 49,1 persen berbanding 41,0 persen.

Pada pemilih usia 31-40 tahun, Jokowi-Ma’ruf unggul dengan persentase 46,6 persen dibandingkan paslon nomor urut 02, 39,7 persen. Begitu juga dengan pemilih di usia 41-52 tahun, Jokowi-Ma’ruf 51,4 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 36,0 persen.

Di responden rentang usia 53-71 tahun, Jokowi-Ma’ruf 48,9 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 34,6 persen. Di usia 71 tahun ke atas, Jokowi-Ma’ruf unggul jauh dengan 65,4 persen berbanding 19,2 persen. Sementara itu, Prabowo-Sandi unggul di kategori pemilih pemula, yang berusia di bawah 22 tahun. Prabowo-Sandi 47,0 persen, sedangkan Jokowi-Ma’ruf 42,2 persen.

Jika dibandingkan hasil survei Litbang Kompas sebelumnya pada Oktober 2018, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf menurun hingga 3,4 persen dan elektabilitas Prabowo-Sandi naik 4,7 persen. Pada Oktober 2018, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 52,6 persen dan Prabowo-Sandi 32,7 persen. (Rifat Alhamidi/SJ)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here