Pilkada Serentak 2020 di Banten, Penantang Petahana Bermunculan

SERANG, (KB).- Kontestasi politik jelang Pilkada serentak 2020 yang akan digelar di empat kabupaten/kota di Banten mulai menghangat. Selain partai politik (parpol) yang bersiap melakukan penjaringan, sejumlah tokoh juga mulai bermunculan untuk menantang petahana.

Berdasarkan data yang dirilis KPU, Pilkada 2020 akan digelar September tahun depan dan akan diikuti lebih dari 273. Dari ratusan daerah tersebut, 4 daerah di antaranya adalah Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kota Cilegon dan Kota Tangsel.

Di Kabupaten Serang, sejumlah partai politik mulai menggodok nama dan siap memberikan kejutan dalam gelaran Pilkada 2020. Salah satunya Partai Demokrat yang meyakini pilkada kali ini akan diikuti oleh dua hingga tiga pasangan calon.

Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Serang Wahyu Megahita mengatakan, Demokrat seperti biasa akan melakukan penjaringan bakal calon kepala daerah sebelum dimulainya tahapan pilkada. “Kami ada penjaringan, tapi tetap utamakan internal dulu. Kami banyak stok mumpuni kader Kabupaten Serang,” ujarnya kepada Kabar Banten, Ahad (16/6/2019).

Disinggung soal strategi, Mega mengatakan belum mau memublikasikannya. Namun, ia menjanjikan dalam gelaran pilkada Demokrat Kabupaten Serang akan memberikan kejutan. “Nanti ada kejutan,” katanya.

Ia meyakini, pilkada akan ada dua sampai tiga pasangan calon atau tidak calon tunggal. Untuk saat ini, pihaknya sudah mengantongi beberapa nama yang hendak maju. Namun, dirinya belum mau menyebutkan siapa sosok yang akan diusungnya tersebut. “Kami sudah ada nama, tapi masih rahasia. Jadi kejutan, kalau sekarang dikasih tahu bukan kejutan,” tuturnya.

Ia mengatakan, tidak ada kriteria khusus untuk kandidat yang hendak maju melalui perahu Demokrat. Namun yang pasti, sosok itu harus mampu membesarkan partai dan Kabupaten Serang. “Harus bisa bawa perubahan di Kabupaten Serang,” katanya.

Sama halnya dengan Partai Demokrat, Partai Gerindra Kabupaten Serang juga sedang menggodok nama-nama calon yang akan diusung untuk maju pada pilkada mendatang. Partai berlambang garuda itu akan mengusung calon dari kader internal.

Ketua DPC Gerindra Kabupaten Serang M Novi menuturkan, rencananya pada 22 Juni 2019 akan melaksanakan rapat internal untuk membahas persiapan pilkada mendatang. Dia mengatakan, akan ada calon yang akan diusung oleh Partai Gerindra untuk maju sebagai calon Bupati Serang.

“Kami sedang menggodok hal itu. Di internal kami sedang mempersiapan dalam konsolidasi dan komunikasi politik dengan partai lain khususnya,” kata Novi, Sabtu (15/6/2019).

Dengan komposisi Gerindra 8 kursi, kata dia, tentu harus berkonsolidasi dengan partai lain. Namun pada prinsipnya, Gerindra memiliki strategi khusus untuk pelaksanaan pilkada tahun ini. “Pasti kami lakukan dengan melihat kondisi yang terjadi di wilayah Kabupaten Serang,” katanya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Provinsi Banten Ratu Tatu Chasanah mengatakan, untuk saat ini helatan Pilkada 2020 masih memiliki rentang waktu yang cukup panjang. Tahapan yang harus dijalaninya pun masih cukup panjang. Pihaknya pun masih akan terus melakukan pematangan di kader internal. “Pilkada masih lama, nanti kita tunggu waktunya,” ujar Tatu.

Masih teka-teki

Dari empat kabupaten/kota yang menyelenggaakan pilkada, dinamika politik yang cukup menarik terjadi di Kota Cilegon. Setelah pemberhentian Tubagus Iman Ariyadi yang digantikan Edi Ariadi sebagai wali kota di tengah periode kedua mereka, polemik pemilihan wakil wali kota semakin meramaikan konstelasi politik jelang pilkada.

Belum usai polemik pelantikan Ratu Marliati sebagai wakil wali kota terpilih, kakak dari Tubagus Iman Ariyadi itu juga digadang-gadang maju dalam Pilkada Kota Cilegon 2020. Sementara, Edi Ariadi yang kini menjabat wali kota masih menjadi teka-teki apakah maju atau tidak dalam pilkada mendatang.

Di luar nama Edi dan Ati, sejumlah nama bermunculan dari berbagai latar belakang. Mulai dari politisi, pengusaha, ketua lembaga pendidikan sampai dengan mantan birokrat. Para kandidat tersebut saat ini mulai muncul dan dipasang-pasangkan sebagai calon penantang petahana.

Salah satu kandidat yang sudah muncul dan mulai dipasangkan adalah Ketua DPC PDIP Reno Yanuar, yang digadang-gadang berpasangan dengan Ali Mujahidin.

Ketika dikonfirmasi, Reno Yanuar mengatakan siap dipasangkan dengan siapapun dengan syarat mempunyai tujuan serta visi dan misi yang sama yakni menyejahterakan semua masyarakat Kota Cilegon.

“Dengan siapapun hubungan saya baik, apalagi dengan Pak haji Mumu. Biarkan saja masyarakat yang menilai. Kalau memang menghendaki dan masyarakat meminta, insya Allah saya siap maju dalam kontestasi Pilkada 2020,” katanya.

Selain Reno, nama lain dari kalangan politisi yang cukup beredar kencang adalah Ketua DPW Berkarya Banten Helldy Agustian, Ketua DPD PAN Alawi Mahmud, Dewan Pembina Gerindra Cilegon Syihabudin Sidik, Ketua Fraksi PKS Nurottul Uyun, dan politisi Demokrat Muhibudin (Demokrat).

Dari kalangan mantan birokrat, di antaranya mantan Sekda Kota Cilegon Abdul Hakim Lubis, dan Kepala Dinas Pendidikan Mukhtar Ghajali yang sebentar lagi memasuki masa pensiun. Lubis bahkan digadang-gadang akan dicalonkan melalui jalur independen.

Wakil Ketua Lembaga Kajian Publik Cilegon (LKPC) Juju Juhana menyatakan, adalah hal yang wajar apabila nama-nama tersebut muncul di kalangan masyarakat Cilegon. Sebab, kata dia, nama-nama tersebut sudah mempunyai popularitas.

Dia mengatakan, kontestan tidak saja memiliki popularitas. Akan tetapi, juga harus memiliki elektabilitas dan disukai. Sehingga dalam perhelatan Pilkada mendatang, sang kandidat benar-benar dipilih oleh rakyat.

Sama halnya dengan Kota Cilegon yang sudah dua periode, Pilkada Kota Tangsel dipastikan tanpa Airin Rachmi Diany. Meski demikian, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Benyamin Davnie resmi menyatakan dirinya untuk maju sebagai calon Wali Kota Tangsel dalam Pilkada Tangsel 2020.

Bang Ben, panggilan akrab Benyamin merasa percaya diri maju dalam Pilkada Tangsel 2020 setelah mengantongi restu dari Wali Kota Tangsel saat ini Airin Rachmi Diany. “Insya Allah sudah, sudah (direstui),” ujar Benyamin, baru-baru ini.

Selain Wakil Wali Kota Tangerang Benyamin Davnie, Sekretaris Daerah (Sekda) Tangsel Muhamad juga meramaikan bursa Pilkada Tangsel.

Menanggapi hal tersebut, Muhamad mengatakan bahwa dirinya belum bisa menyatakan saat ini. Sebab, statusnya masih menjabat sebagai sekda. “Untuk maju, saya kan masih Sekda. Selain itu, saya masih di bawah Ibu Wali Kota (Airin Rachmi Diany). Jadi saya tunggu Ibu Wali,” ujar Muhamad saat menggelar halalbihalal dan open house di kediamannya, Jalan Bhakti Nomor 31, Ciputat, Tangsel, Sabtu (15/6/2019).

Sebagai birokrat, Muhammad menegaskan mengedepankan etika birokrasi. Sehingga ia pun perlu mendapatkan restu dari Wali Kota Tangsel. “Kalau Ibu (Airin) mengizinkan, ya liat nanti. Kalau saya kan masih di bawah Wali Kota. Kalo sekarang ini saya sudah ngomong gitu (soal pencalonan), kan gak baik, (karena) kita birokrasi punya etika, etika birokrasi yang saya jaga,” tuturnya.

Ia pun mengatakan tetap berkonsentrasi melaksanakan tugasnya sebagai Sekda serta tak ingin terganggu oleh hiruk pikuk suasana jelang Pilkada. “Jangan sampai mengganggu pekerjaan di masyarakat,” ucapnya.

Nama lainnya yang mencuat adalah pegiat anti korupsi di Indonesia Corruption Watch (ICW). Ade Irawan. Namun, Ade Irawan hanya tersenyum saat disinggung terkait adanya dorongan untuk mengikuti kontestasi Pilkada serentak Tangsel 2020 mendatang.

Direktur Akademi Antikorupsi dan Visi Integritas ICW tersebut, belum ingin berkomentar panjang lebar soal adanya dorongan sebagai salah satu calon kandidat Pilkada Tangsel 2020. “Saya gak komentar, ya sebentar ya,” kata Ade Irawan dihubungi wartawan.

Pilihan alternatif pilihan

Menurut pengamat politik dari UIN SMH Banten Saeful Bahri menilai, kehadiran artis dan aktivis bisa menjadi alternatif pilihan dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) kabupaten/kota di Banten. Kedua tokoh publik ini dianggap cukup popular di tengah masyarakat.

“Saya kira harus direspon baik, harus direspon positif oleh publik. Siapapun tokoh yang hadir, apalagi ini tokoh yang setidaknya menjadi tokoh publik, artis kan tokoh publik, terus ICW juga bagian aktivis penegakan hukum ya juga udah tahu record-nya,” katanya, Ahad (16/6/2019).

Meski demikian, tingkat popularitas kedua kalangan ini masih pada level masyarakat yang terpapar media informasi. Masyarakat yang tidak tersentuh media informasi atau masyarakat awam masih jarang yang mengetahuinya. “Sementara pemilih kita yang masyarakat awam juga angkanya relatif besar,” ujarnya.

Disinggung apakah kalangan artis dan aktivis cukup kuat untuk bersaing dalam pilkada, mantan Anggota KPU Banten ini menilai, bergantung dari elektabilitas masing-masing.

“Itulah pentingnya tahapan kampanye, sebenarnya memperkenalkan kampanye tadi, baik dirinya, baik mau berbuat apa ketika terpilih, itu ruang formalnya. Tapi sebelum formalnya masing-masing tokoh yang memiki elektabilitas itu dia mendapatkan keberuntungan, karena tanpa harus kampanyepun orang sudah kenal. Itulah kelebihan incumbent, itulah tokoh publik terkenal,” ujarnya. (Tim Kabar Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here