Pilkada Pandeglang 2020, Parpol Pengusung Irna-Tanto Terpecah

PANDEGLANG, (KB).- Sejumlah partai politik (Parpol) pengusung koalisi Irna-Tanto (Intan) pada Pemilihan Kepala daerah (Pilkada) 2015 lalu, terpecah. Parpol tersebut saat ini sudah mulai memunculkan figur di luar Irna-Tanto yang akan maju pada Pilkada Pandeglang 2020.

Menurut informasi, parpol pengusung koalisi Intan yang mulai terpecah itu yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional, Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Kesatuan dan Persatuan Indonesia (PKPI).

Sementara untuk Partai Gerindra menyatakan sikap terang-terangan tidak akan mendukung kembali Irna. Begitu juga Partai Demokrat akan mengusung kader partainya seperti Yoyon Sujana dan Iing Andri Supriadi. Sedangkan PKB dikabarkan akan mengusung kader partainya Toni Fathoni Mukson dan PKS akan mengusung kadernya yaitu KH. Sadeli Karim. Termasuk Partai Hanura juga akan mengusung kader terbaik partai.

Ketua DPD PKS Pandeglang Asep Rafiudin mengatakan, saat ini partainya akan mengusung kader terbaik partai seperti KH. Sadeli Karim. ā€¯Selain Pak Sadeli Karim, PKS pastinya tetap menawarkan figur kader terbaik yang lainnya untuk dinilai oleh masyarakat. Untuk saat ini, tim sedang menggodok figur dan hasilnya nanti bergantung hasil rapat pengurus partai,” kata Ketua DPD PKS Pandeglang Asep Rafiudin kepada Kabar Banten, Rabu (26/6/2019).

Sekretaris DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Pandeglang Lukmanul Hakim mengatakan, dalam menghadapi pilkada nanti ada harapan tersembunyi (silent hope) yang ada di Pandeglang. Sebab, mayoritas masyarakat berkultur santri dan PKB tumbuh dan berkembang berkat doa dan pilihan masyarakat santri dalam hal ini Nahdliyin.

“Jadi kami akan putuskan kader terbaik dari PKB dan Nahdliyin harus maju pada perhelatan Pilkada 2020. Sejauh ini kader terbaik kita Ir. H. Thoni Fathoni Mukson selaku Ketua DPC PKB Pandeglang. Kita akan dorong Toni Mukson menjadi Bupati Pandeglang 2020,” kata Lukman.

Menurut dia, PKB Pandeglang secara kultur maupun struktur menyadari betul memiliki harapan besar dari masyarakat akan adanya perubahan kepemimpinan di Pandeglang. Karena harapan besar yang diamanahkan kepada bupati sekarang banyak keluar dari koridor pembangunan sebagaimana mestinya.

“Pandeglang yang basic core-nya sudah jelas pada sektor agro dan pariwisata, harusnya ini dioptimalkan dengan baik. Ditambah keberpihakan anggaran yang memadai oleh pemerintah, namun ini tidak,” tuturnya.

Wakil Ketua I DPC Hanura Kabupaten Pandeglang Nana Suryana mengatakan, dalam pilkada nanti pihaknya akan memprioritaskan kader terbaik partai. Apalagi, kata dia, dalam mengambil keputusan harus sesuai dengan keputusan partai.

“Kami akan memprioritaskan kader dulu, apakah kita akan mengusung Bu Irna kembali atau tidak. Yang jelas kita akan tinjau kinerja bupati dan wakil bupati sekarang ini. Apakah sudah sesuai dengan visi misi atau tidak, tingkat kepuasan masyarakat terhadap pembangunan nanti seperti apa,” tuturnya.

Masih kuat

Sementara itu akademisi menilai, Bupati Pandeglang Irna Narulita masih kuat dan sulit dikalahkan dalam Pilkada 2020. Soalnya, selain menjadi incumbent juga masih memiliki popularitas dan jaringan yang mengakar di masyarakat.

Hal itu diakui oleh dua akademisi Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Banten Agus Lukman dan akademisi Universitas Matla’ul Anwar (Unma) Banten Eko Supriatno.

“Peluang petahana masih tinggi. Ibu Irna dengan didampingi suaminya Pak Dimyati mengakar di jaringan kepala desa, birokrasi dan ulama. Sehingga cukup sulit untuk dikalahkan,” kata akademisi Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Banten Agus Lukman.

Meski demikian, kata Agus, ada potensi besar dari para penantang yang memiliki jaringan timses yang kuat, sumber dana dan popularitas yang tinggi bisa menyaingi incumbent.

“Sosok Tanto, Ade Hoirunnisa, Fitron Nur Ikhsan, Ali Zamroni, Toni Fatoni Mukson, Ahmad Sadeli Karim, termasuk artis Krisyanto memiliki potensi untuk mengalahkan incumbent,” ujarnya.

Sementara akadenisi Unma Banten Eko Supriatno mengatakan, kelebihan petahana adalah mempunyai Jaringan birokrasi. Peluang petahana untuk memperbesar popularitas dipermudah oleh adanya program atau kebijakan populis yang bernuansa pencitraan. Selain itu, calon petahana memiliki jaringan dan relasi yang sudah tertata atau solid.

“Pada jajaran birokrasi, calon petahana seharusnya lebih eksis dibanding calon lawan yang berasal dari eksternal birokrasi. Dia pun biasanya paling siap segalanya, khususnya penguasaan peta politik dan kemampuan mengondisikan kekuatan politik (parpol),” ucapnya.

Untuk itu, Eko menyarankan, Pandeglang butuh figur alternatif baru, calon bupati yang memiliki gagasan segar dan mengeksekusi terobosan itu dengan cepat. “Yang dibutuhkan sekarang, partai politik harus bisa mencari figur baru dengan memanfaatkan peluang, dengan menciptakan branding pemimpin baru tersebut,” ujarnya.

Seperti diberitakan Bupati Pandeglang Irna Narulita angkat bicara terkait pernyataan Partai Gerindra yang tidak akan kembali mengusung pada Pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020 mendatang. Menurut Irna, selain Partai Gerindra masih banyak partai lain, yang bisa dijadikan kendaraan politiknya untuk maju kembali.

“Parpol kan banyak ya, ada seperti Partai Nasdem, Demokrat, PDIP, Golkar dan sebagainya. Yang penting bisa cukup kursinya untuk berangkat menjadi salah satu calon,” kata Irna. (IF)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here