Pilkada Pandeglang 2020, Calon Petahana Disebut Sebagai Musuh Bersama

Empat bakal calon bupati Pandeglang, Nabil Jayabaya diwakilkan oleh jubir Agus Wisas, Thoni Fathoni Mukson, Aap Aptadi, Oji Fahruroji menggelar diskusi mengenal figur bupati Pandeglang di Kampus Unma, Pandeglang, Sabtu (19/10/2019).*

PANDEGLANG, (KB).- Empat bakal calon (Balon) bupati Pandeglang pada Pilkada Pandeglang 2020, yakni Toni Fathoni Mukson, Aap Aptadi, Oji Fachruroji  dan Muhammad Nabil Jayabaya yang diwakili Agus R Wisas secara kompak menyoroti hasil pembangunan Kabupaten Pandeglang di bawah kepemimpinan Irna Narulita-Tanto Warsono Arban. Mereka menilai satu sektor infrastruktur masih jauh dari harapan masyarakat.

Hal itu terungkap dalam diskusi dengan tema “Mengenal Calon Bupati” di Fakultas Hukum dan Sosial Kampus Unma Pandeglang, Sabtu (19/10/2019). Selain itu, dalam diskusi tersebut  ke empat balon bupati itu kompak menjadikan petahana sebagai musuh bersama dalam Pilkada Pandeglang 2020.

Selain menyoroti infrastruktur, diskusi tersebut juga mengoreksi soal kemampuan fiskal, manajemen anggaran, pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, hingga pembangunan dan pemberdayaan masyarakat  desa.

“Salah satu masalah yang dihadapi Kabupaten Pandeglang adalah anggaran yang minim, namun urusan pembangunan yang besar,” kata Oji Fachruroji, balon Bupati Pandeglang yang akan maju melalui jalur perseorangan.

Masalah lain, kata alumni FHS UNMA Banten tahun 2005 ini, adalah pemerintah daerah kurang memberikan ruang kepada masyarakatnya untuk mengisi jabatan di sejumlah perusahaan di Pandeglang. Serta masalah lain, yakni masih minimnya pemerintah daerah dalam mengoptimalkan potensi.

“Kita bisa lihat di PLTU Labuan, untuk jabatan-jabatan strategis masih diisi oleh bukan warga lokal. Sementara warga lokal baru pada posisi sekuriti atau cleaning service, ini menjadi masalah yang harus diselesaikan,” kata Oji.

Sementara itu Agus Wisas menyatakan, keluarga besar Mulyadi Jayabaya terpanggil untuk memperbaiki Kabupaten Pandeglang yang dinilai tidak banyak berubah di bawah kepemimpinan Irna Narulita.

“Kenapa keluarga Jayabaya ikut dalam Pilkada Pandeglang? Itu mungkin pertanyaannya. Seandainya Pandeglang maju, masyarakatnya sejahtera, daerahnya kondusif dalam berinvestasi, kami pasti tidak akan ikut campur. Karena mengurus daerah itu butuh energi besar. Kami maju di Pandeglang, karena sebagai bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat Pandeglang,” ujar Agus Wisas.

Agus mengungkap sebuah data, dari 549 kabupaten/kota, Kabupaten Pandeglang berada di posisi 492 sebagai kabupaten terkorup. Dirinya mencontohkan tindakan yang mengarah pada praktik koruptif yakni, para kepala desa dipaksa oleh bupati untuk membeli sepeda dan masyarakatnya diam saja.

Kemudian kepala desa dipaksa oleh bupati untuk kunjungan kerja ke Bali dan masyarakatnya diam saja. Belum lagi kasus pembeliaan mobil dinas mewah Toyota Prado yang harganya sangat fantastis.

“Kami sudah didukung oleh Gerindra. Bukan tidak mungkin kami berdampingan dengan Toni Fathoni Mukson, dengan Aap Aptadi, Ferdy, maupun Oji. Tapi kami tidak akan berdampingan dengan Irna Narulita,” tegas mantan anggota DPRD Provinsi Banten dari PDIP.

Sementara politisi senior, Aap Aptadi mengatakan, dirinya  tidak kapok untuk kembali maju pada Pilkada Pandeglang meski sudah dua kali kalah. “Yang bisa menghentikan saya nyalon bupati itu satu kalimat, Innalillahi wainnailaihi rojiun,” ucap Aap.

Menurut Aap, membangun Pandeglang tidak hanya berbicara anggaran, seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun Dana Alokasi Umum (DAU). Namun salah satu yang penting adalah bagaimana daerah mampu menggali potensinya dengan optimal untuk kepentingan masyarakatnya.

“Membangun Pandeglang itu bukan bicara DAK atau DAU, tapi bagaimana kita menggali potensi. Di Lebak, ada pabrik dengan gaji karyawannya sesuai UMP. Namun di Pandeglang baru muncul pabrik Mayora saja sudah didemo, bagaimana mau maju,” kata Aap selaku Ketua DPD Partai Perindo Pandeglang.

Aap juga menyinggung soal degradasi moral atas adanya pabrik Mayora, menurut Aap itu tidak masuk akal. Karena untuk masalah itu tidak hanya bisa dilakukan di pabrik, bahkan di lembaga pendidikan pun bisa terjadi.

“Tolong yang kemarin demo (menolak PT Mayora) harus bertanggung jawab. Harusnya pabrik Mayora bisa menampung ribuan pekerja, tetapi tidak jadi. Ini justru yang mendorong terjadinya degradasi moral,” tukasnya.

Aap mengajak para kandidat bupati Pandeglang untuk berkumpul, menyampaikan gagasan dan program untuk kemajuan daerah. Bahkan, siapa pun yang menjadi Bupati Pandeglang, konsep yang bagus dari para kandidat harus diakomodir dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

“Kita berkumpul, pertama untuk menggantikan Irna dan kedua untuk membangun Pandeglang. Karena motivasi saya maju, pertama untuk menumbangkan Irna dan kedua untuk membangun Pandeglang,” ujarnya.

Sementara itu Thoni Fathoni Muskon balon bupati dari PKB berjanji akan menjadikan desa sebagai tampak muka pembangunan Pandeglang dengan melibatkan mahasiswa, membangun jalan di depan Kampus UNMA, dan akan memberdayakan para sarjana untuk membangun desa.

Sementara, akademisi UNMA Banten, Ali Nurdin berpesan kepada masyarakat untuk tidak mempercayai janji politisi, namun harus melihat dari rekam jejak dan dedikasi terhadap daerah. “Yang bisa dilakukan oleh kita, jangan percaya janji atau omong kosong, tapi lihat track record-nya. Apa yang sudah dia perbuat untuk Pandeglang,” ujarnya.

Menurut dia, tingginya biaya pilkada itu memantik tindak pidana korupsi oleh kepala daerah. Bahkan hingga saat ini sudah ada 60 kepala daerah yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Jika calon kepala daerah menghabiskan Rp 50 miliar untuk kampanye, maka setiap bulan untuk mengembalikan (modal, red) per bulannya Rp 800 juta. Maka bohong jika kepala daerah tidak memikirkan untuk mengembalikan modalnya,” ujarnya.

Dalam diskusi tersebut juga hadir  Ali Nurdin akademisi Unma. Dia menyentil dari beberapa kandidat, tidak satu pun yang membahas soal efisiensi anggaran. Diakuinya, isu tersebut memang tidak populis. (EM)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here