Pilkada Kota Serang 2018, Empat Isu Seksi dalam Debat Kandidat

SERANG, (KB).- Pengamat politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Leo Agustino menilai, ada 4 isu yang menjadi seksi dalam debat kandidat pasangan calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Serang pada Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kota Serang 2018. Keempat isu tersebut yaitu isu tata kelola pemerintahan, penggunaan anggaran, infrastruktur dan layanan dasar.

Menurut dia, keempat isu tersebut menjadi tugas pemerintah yang umumnya dituntut oleh masyarakat. Paslon akan berlomba-lomba membuat gagasan mengatasi sejumlah isu tersebut. “Karena hal tersebut yang menjadi tugas utama pemerintah, dan itu yang umumnya dituntut warga dari pemerintah,” katanya, Kamis (12/4/2018). Seperti diketahui, KPU Kota Serang akan menggelar debat kandidat perdana, Jumat (27/4/2018).

Disinggung kenapa infrastruktur sering muncul dari pemilu ke pemilu, pria yang juga pengajar FISIP Untirta ini mengatakan, hal tersebut wajar karena infrastruktur merupakan sarana dasar yang dapat membantu warga dalam beraktivitas. Ia memandang kepala daerah yang terpilih perlu meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastrukur, termasuk sarana dan prasarana di wilayah Kota Serang.

“Penyediaan jalan yang baik, jembatan yang kokoh, termasuk sarana dan prasarananya seperti pasar, lapangan untuk warga berolah raga, dan macam sebagainya,” ucapnya.  Disinggung seberapa besar debat kandidat dapat mempengaruhi pemilih. Ia menuturkan, dalam beberapa kajian untuk kota-kota non-metropolis seperti Kota Serang, isu-isu publik tidak terlalu mempengaruhi pilihan publik.

“Kalaupun mempengaruhi persentasenya sangat kecil. Kota-kota kecil dengan tingkat kesadaran politik yang minim, seperti Kota Serang, money politics masih menjadi the driving factor utama,” tuturnya. Alasannya, karena debat publik terlalu elitis dan kurang menyertakan partisipasi publik secara luas. Debat publik hanya diikuti oleh simpatisan dan bersifat formalistik.

“Kenapa formalistik? Di beberapa daerah, kepala daerah yang telah menjanjikan bulan dan bintang pada warga, toh tidak pernah merealisasikan janji-janjinya,” ujarnya. Menurut dia, kepala derah ke depan perlu merealisasikan janji-janji politiknya. Hal itu dianggap paling penting untuk membangun legitimasi dan kepercayaan publik. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here