Pilkada Kota Cilegon 2020, Muka Baru Ramaikan Kontestasi

CILEGON, (KB).- Sejumlah muka baru ramaikan kontestasi jelang Pilkada Kota Cilegon 2020. Meski harus bersaing dengan wajah lama maupun petahana, namun tidak membuat mereka bergerilya tengah bergerilya dengan cara masing-masing untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat Kota Cilegon.

Selain petahana Wali Kota Cilegon Edi Ariadi dan Wakil Wali Kota Cilegon Ratu Ati Marliati, beberapa nama yang pernah merasakan Pilkada Cilegon kembali muncul. Mereka adalah Helldy Agustian yang kini menjabat Ketua DPW Partai Berkarya, Ketua Umum PB Al Khairiyah Ali Mujahidin.

Di tengah nama-nama tersebut, muncul nama-nama baru yang beredar di masyarakat yakni dari partai Gerindra Syihabudin Sidik yang kini duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Banten. Selanjutnya, anggota DPRD Provinsi Banten dari PAN Dede Rohana, politisi PKS Nurrotul Uyun, tokoh masyarakat Ciwandan, Iye Iman Rohiman, dan Awab yang kini masih berprofesi di kepolisian.

Dede Rohana dari Partai Amanat Nasional (PAN) mengaku tengah bersiap untuk maju di Pilkada nanti. “Target saya sebagai Wali Kota Cilegon. Tapi kalau masyarakat menghendaki lain, saya juga harus bersiap sebagai calon Wakil Wali Kota,” kata Dede saat dihubungi melalui telepon genggam, Ahad (29/9/2019).

Dede cukup serius dalam hal persiapan pilkada. Ia tengah gerilya meningkatkan elektabilitas dan popularitasnya. Terlebih, ia mendapatkan informasi jika gelombang penjaringan bakal calon pasangan wali kota akan dibuka sejumlah partai dalam waktu dekat ini.

“PAN akan bukan penjaringan awal Oktober, lalu dilanjut dengan survey internal partai. Sebagai bentuk keseriusan, saya akan mendaftar sebagai bakal calon wali kota. Partai-partai lain pun katanya akan melakuan hal sama,” ujarnya.

Di sisi lain, Dede yang berhasil meraih suara signifikan pada Pileg 2019, merasa diuntungkan. Sebab, ia telah terlebih dahulu memiliki jaringan politik.

“Saya minimal sudah punya basis masa, tinggal dirawat bahkan digandakan. Karena pemilu itu kandidatnya banyak, saya yakin di pilkada yang kandidatnya antara dua hingga tiga pasangan, jaringan saya bisa dapat dua hingga tiga kali lipat perolehan suara dari pemilu legislatif,” tuturnya.

Bukan hanya itu, sejumlah komunikasi antarcalon pun telah dilakukannya. Secara gamblang, Dede mengatakan telah berkomunikasi dengan Edi Ariadi, Awab, serta Ali Mujahidin.

“Kalau dengan Helldy dan Reno, baru sebatas komunikasi standar. Tapi dengan yang lain, itu sudah pembahasan mengerucut. Seperti bagaimana mendisuksikan pemenangan, langkah menggerakan tim, komposisi, berbagi peran, dan lain-lain,” ucapnya.

Saat ini, lanjut Dede, para calon yang telah ia komunikasikan sepakat untuk memperkuat popularitas dan elektabilitas. Selebihnya, ia mengatakan jika mekanisme partai yang akan mengerucutkan dirinya untuk berpasangan menuju Pilkada Cilegon 2020.

“Kami sama-sama sepakat bahwa per hari ini, kami coba untuk meyakinkan masyarakat dengan cara masing-masing. Apakah kemudian terlihat bahwa kami diinginkan oleh masyarakat, otomatis parpol akan tertarik. Nanti kan mengerucut dengan sendirinya, siapa berpasangan dengan siapa. Bagi yang ternyata tidak diinginkan masyarakat, dengan sendirinya akan tereliminir dalam kontestasi ini,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Cilegon Edi Ariadi kembali menegaskan tidak akan mencalonkan di Pilkada Cilegon 2020. Alasannya, tidak mendapat restu dari keluarga. “Anak dan istri memang menyayangi saya. Mereka tidak mau lihat saya kecapean karena dunia politik,” ujarnya.

Namun, kata Edi, beda hal jika keluarga memberikan dukungan. Edi tidak membantah jika dirinya selaku mantan Wakil Wali Kota Cilegon dua periode, memiliki hasrat untuk ikut kontestasi. “Syahwat sih ada, tapi mau bagaimana kalau keluarga tidak mengizinkan. Bisa digambarkan kan situasi saya,” tuturnya.

Edi mengakui sejumlah partai politik dan calon-calon kandidat yang akan ikut kontestasi, berdatangan untuk meminangnya. Hanya satu partai yang tidak datang kepadanya, yakni Partai Golkar.

“Partai dan calon yang nanya banyak juga. Kemarin Nasdem, PDIP juga nanya. Beberapa calon juga datang, katanya kalau saya mau maju, mereka siap jadi wakil. Kalau Golkar tidak datang, Golkar sih tanpa saya pun pasti menang,” ucapnya.

Berjalan terbuka

Akademisi Untirta Suwaib Amirudin menilai, kemunculan banyak tokoh baru di Kota Cilegon merupakan angin baik. Hal ini menandakan kompetisi pilkada di kota baja tersebut berjalan terbuka.

“Saya kira memang di Cilegon kompetisinya terbuka. Karena selain Ibu Ati (Ratu Ati Marliati) yang saya kira agak diperhitungkan, kemudian juga ada beberapa dari lingkaran partai. Misalnya dari PDIP juga muncul, kemudian ada tokoh lama, Heldy (Agustian),” katanya.

Helldy Agustian dan beberapa tokoh lain yang muncul dianggap memiliki basis massa yang cukup kuat. Sehingga, peluang mereka ikut bersaing cukup besar. “Kompetisinya sangat terbuka bagi siapa saja,” ujarnya.

Meski demikian, kata dia, tradisi Pilkada Kota Cilegon tak lepas dari tokoh-tokoh sentral yang selama ini mendominasi, yaitu keluarga besar Aat Syafaat. “Kelihatannya Ati diusung Golkar, dan satu partai lagi bergabung lagi saya dia punya kendaraan,” ujarnya.

Disinggung apakah kehadiran tokoh baru juga berarti kompetisi Pilkada Kota Cilegon akan diikuti banyak calon, ia bernada pesimis. Menurutnya, selama ini partai politik cenderung pragmatis dan akan berkumpul pada satu tokoh sentral. “Tokoh sentral misalnya dari keluarga Aat Syafaat,” ucapnya.

Kemunculan banyak calon bisa saja terjadi jika partai betul-betul ingin mendorong calonnya. “Saya kira akan muncul dua kubu di sana, kemungkinan dari Aat Syafaat, dalam hal ini ibu Ati, lalu ada kubu penantang. (Penantang) bisa muncul dari PDIP atau Heldy atau dari PKS,” tuturnya. (AH/SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here