Pilkada 2020 di Banten: Sejumlah Parpol Jajaki Koalisi, Dorong Calon Alternatif

SERANG, (KB).- Selain membuka penjaringan dan pendaftaran calon kepala dan wakil kepala daerah, partai politik (parpol) juga mulai menjajaki koalisi untuk menghadapi Pilkada 2020 di Banten. Beberapa parpol di antaranya, bahkan telah menemui kesepahaman untuk mendorong calon alternatif yang disiapkan melawan petahana.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat tiga parpol koalisi di Pilpres 2019 yang sudah berkomunikasi untuk menjajaki koalisi di Pilkada serentak 2020. Dua dari tiga parpol tersebut, bahkan sudah bersepaham untuk melawan petahana.

Parpol koalisi di Pilpres 2019 di antaranya adalah Partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional (PAN). Kedua petinggi parpol tersebut sudah melakukan komunikasi termasuk dengan Partai Demokrat yang juga termasuk dalam koalisi yang sama di Pilpres 2019.

Ketua DPP PAN Yandri Susanto mengakui, dirinya sudah bertemu Ketua DPD Partai Gerindra Banten Desmond J Mahesa terkait Pilkada 2020. Berdasarkan pertemuan tersebut, sinyal koalisi Gerindra dan PAN sudah terlihat dan kepastiannya sudah diangka 80 persen.

“Artinya sudah di atas 50 persen. Calon bupatinya siapa, calon wakilnya siapa, itu yang kami matangkan. Maka, kami menerima masukan dari rakyat maupun tokoh politik, para kiai ulama, akademisi, siapa yang layak kami usung. Tapi sekali lagi, siapa pun yang mau kami usung, tentu kami lihat visi dan misinya,” kata Yandri Susanto, Selasa (8/10/2019).

Menurut dia, sinyal koalisi antara Gerindra dan PAN paling memungkinkan terjadi Pilkada Kabupaten Serang. Terkait arah dukungan, PAN ingin di Pilkada Kabupaten Serang ada sosok alternatif di luar petahana. Keinginan yang sama, juga berlaku untuk Pilkada Kota Cilegon dan Tangerang Selatan serta Pandeglang.

“Itu usulan dari bawah, teman-teman menginginkan itu, tapi itu belum DPP putuskan. Termasuk yang Kabupaten Serang, Kota Cilegon dan Tangsel, kenapa kita menghadirkan calon di luar petahana, itupun aspirasi dari bawah. Termasuk, masukan dari beberapa tokoh maupun kawan-kawan yang ada di antara itu,” katanya.

Ia menegaskan, upaya menghadirkan calon alternatif tak berarti bahwa PAN berpandangan petahana tidak memiliki kinerja baik. PAN hanya ingin memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memilah dan memilih calon pemimpinnya.

“Rakyat tentu enggak dihadapkan dengan calon tunggal, itukan enggak baik. Dan seolah-olah kerjaan partai politik enggak benar, tidak bisa mencari figur lain. Dalam proses demokrasi itu biasa,” tuturnya.

Ketua DPD Gerindra Banten Desmond J Mahesa tak membantah dirinya sudah membangun kesepahaman dengan Ketua DPP Yandri Susanto. “Saya sudah aminin Yandri, tinggal siapa (calonnya),” ujarnya.

Tak hanya dengan PAN, ia juga sudah banyak berbicara terkait koalisi dengan Partai Demokrat. Namun, ia tak ingin upaya koalisi yang sedang dibangun disangkutpautkan dengan koalisi pilpres. Menurutnya, koalisi pilkada ini terbuka dengan siapa pun dan partai mana pun.

“Kemarin juga saya ngomong-ngomong sama Rano Karno (politikus PDIP), bicara tentang daerah lain,” katanya.

Menurut dia, koalisi yang kemungkinan terbangun bisa berupa koalisi rasional untuk Kabupaten Serang, Rakyat Cilegon, dan Tangerang Selatan.

“Itu saja, rasional engga? Dalam rangka lebih baik untuk ke depan, untuk Pandeglang misalnya. Kesepahaman inilah yang kami bangun,” ucapnya.

Masih terbuka

Sekretaris DPD Demokrat Banten Eko Susilo belum secara serius membicarakan koalisi dengan Gerindra dan PAN. “Tapi kita belum tau kalau di tingkat DPC, karena sejauh ini belum ada laporan dari kawan-kawan DPC,” tuturnya.

Pada prinsipnya, Demokrat terbuka untuk koalisi dengan partai mana pun selama tujuannya untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama. “Namun, Partai Demokrat ada mekanisme yang wajib diikuti oleh para balon. Karena, DPP Demokrat memerintahkan kami untuk mengusung pemenang, bukan sekadar ikut-ikutan kontestasi,” ujarnya.

Ia tak menampik posisi Partai Gerindra dan PAN yang juga sejawat dalam koalisi pilpres menjadi pertimbangan Demokrat. Mengingat, parpol tersebut mendapat kursi lumayan banyak saat Pemilu 2019. “Itu bisa saja menjadi pertimbangan. Namun sekali lagi, masing- masing partai punya mekanisme. Dan tentunya, ingin jadi pemenang dalam setiap kontestasi pilkada,” ucapnya.

Ia mengatakan, ada beberapa tahapan yang perlu dilalui Demokrat sebelum memutuskan arah koalisi. “Dari mulai penjaringan, sampai dengan uji publik, baru kemudian penetapan siapa bakal calon yang layak untuk diberikan rekomendasi,” katanya.

Disinggung terkait keseriusannya maju dalam Pilkada Kabupaten Serang, mantan aktivis HMI ini menyerahkan seluruhnya kepada partai. “Kita Lihat nanti partai memberikan rekomendasi kepada siapa. Kalau secara pribadi tentu saja keinginan pasti ada,” ujarnya. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here