Pileg 2019: Perebutan Kursi DPRD, Pimpinan Parpol Tumbang

SERANG, (KB).- Perebutan kursi DPRD Banten pada Pileg 2019 menghadirkan banyak kejutan. Bukan hanya banyak petahana yang tersingkir, bahkan pimpinan partai politik (parpol) di Banten sekalipun bertumbangan atau terlempar dari persaingan.

Berdasarkan hasil rapat pleno tingkat Kabupaten Serang, perolehan kursi DPRD Banten dari dapil Banten 2 itu didominasi calon legislatif (caleg) yang kini masih menduduki anggota DPRD Kabupaten Serang atau naik kelas. Dari alokasi 12 kursi di dapil tersebut, tujuh di antaranya diisi politisi yang masih duduk sebagai anggota DPRD Kabupaten Serang.

Dari Partai Golkar, dua kursi berhasil diamankan Fahmi Hakim dan Muhsinin. Perolehan suara keduanya berada di atas petahana Partai Golkar yakni Hasan Maksudi. Sedangkan dari PDIP, dua kursi yang berhasil diamankan partai berlambang moncong putih itu diraih dua anggota DPRD Kabupaten Serang yakni Madsuri dan Ida Rosida Lutfi.

Namun berbeda dengan Partai Gerindra, partai berlambang garuda itu berhasil justru berhasil menambah perolehan kursi dari pemilu sebelumnya satu kursi menjadi dua kursi. Dua kursi itu diraih petahana Sofwan dan satu nama lain yang juga caleg naik kelas dari DPRD Kabupaten Serang, Tati Nurcahyana.

Dua partai lainnya juga berhasil mengamankan kursi DPD Banten melalui caleg yang masih menduduki anggota DPRD Kabupaten Serang yakni PPP atas nama Ubaidillah dan PKS atas nama Gembong.

Namun kejutan datang dari Partai Amanat Nasional (PAN). Meski berpeluang mampu mempertahankan satu kursi melalui petahana nomor urut dua Ishak Sidik, namun Ketua DPW PAN Banten yang tercatat sebagai caleg nomor urut satu, Masrori, diprediksi gagal meraih kursi.

Petahana lainnya yang berhasil mempertahankan kursi adalah Heri Handoko dari Partai Demokrat. Kejutan lainnya datang dari Partai Berkarya yang mampu meraih satu kursi atas nama Dedi Hariyadi. Satu kursi lainnya diraih PKB atas nama H. Umar B.

Divisi Hukum dan Pengawasan KPU Kabupaten Serang Zainal Muttaqin mengatakan, berdasarkan hasil rekapitulasi, ada dua partai politik yang saling bersaing yakni Gerindra dan Golkar. Sedangkan di posisi ketiga adalah PDIP. “Kalau masalah caleg, perolehan suara tertingginya dari Gerindra itu ada orang-orang lama, orang baru ada, di Golkar juga sama,” ujarnya kepada Kabar Banten saat ditemui di kantornya, Selasa (7/5/2019).

Namun, untuk saat ini pihaknya belum bisa menyampaikan siapa calon yang berhasil terpilih. “Kalau misalkan siapa yang terpilih, itu kan harus menunggu penetapan kursi yang dilakukan oleh KPU RI, bukan kami. Nah, kalau misalkan berbicara asumsi yang beredar siapa yang jadi, ini kan asumsi media, bukan pendapat KPU,” katanya.

Setelah ada penetapan kursi secara nasional oleh KPU RI, kemudian selanjutnya di KPU Kabupaten Serang baru akan ada keputusan penetapan siapa caleg terpilih. Hal ini pun setelah masa gugatan di MK selesai.

“Rekapitulasi nasional itu kan tanggal 22 Mei, nah berarti tiga hari setelah itu masa gugatan di MK sampai 14 hari kemudian. Setelah selesai di MK clear tidak ada masalah baru dilakukan penetapan, itu ada dijadwal, di PKPU 10 tentang tahapan dan jadwal, kalau tidak salah bulan Juni baru penetapan,” ucapnya.

Sementara Komisioner KPU Kabupaten Serang Idrus mengatakan, untuk Kabupaten Serang ada 50 kursi DPRD yang diperebutkan. Jumlah tersebut terbagi dalam lima dapil. “Bervariasi jumlahnya, dapil 1 ada 10, dapil 2 ada 11, dapil 3 ada 11, dapil 4 ada 10, dapil 5 ada 8,” ujarnya.

Bukan hanya di Kabupaten Serang, perebutan kursi DPRD di dapil Kota Serang atau Banten 1, pimpinan parpol yakni Ketua DPD PDIP Banten, Asep Rahmatullah, diprediksi tumbang. Parpol berlambang banteng moncong putih yang menempatkan Ketua DPR Banten tersebut di nomor urut satu, terlempar dari persaingan lima besar sesuai alokasi kursi di dapil tersebut.

Berdasarkan hasil rapat pleno rekapitulasi tingkat Kota Serang, lima parpol teratas ditempati Partai Gerindra dengan caleg tertinggi Encop Sopiah, Partai Golkar dengan caleg suara tertinggi Teguh Ista’al, PKS dengan caleg suara tertinggi Juheni M Rois, Nasdem dengan caleg suara tertinggi Furtasan Ali Yusuf, dan PPP dengan caleg suara tertinggi Agus Efendi.

Wajah baru geser petahana

Dari dapil Kota Cilegon, wajah baru menghadirkan kejutan dengan menumbangkan para petahana di dapil tersebut. Partai Gerindra mengamankan kursi DPRD Provinsi dari Kota Cilegon atas nama Syihabudin Sidik, menggantikan Joko Priyanto. Joko sebagai petahana memperoleh suara sebanyak 10.047.

Caleg petahana lainnya yang terpental adalah Suminar dari Partai Golkar dan Murtawisata dari PDIP. Mereka tergeser PAN yang masuk di posisi dua besar, dengan caleg suara tertinggi Dede Rohana. Sedangkan kursi ketiga diraih Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melalui Dr.Shinta Wardhana dengan jumlah suara 27.783.

Wakil Ketua Lembaga Kajian Publik Cilegon (LKPC) Juju Juhana mengatakan, Fenomena tergesernya Partai Golkar merupakan diluar dugaan.Mengingat Partai Golkar di Kota Cilegon sangat identik dengan dukungan pemerintahan. “Ini memang diluar dugaan, karena melihat pergerakan partai serta kader dan caleg semua terpenuhi disemua dapil,” katanya.

Dia mengatakan, untuk Gerindra serta PAN dan PKS mendapatkan efect dari Capres Prabowo dan Sandi yang begitu populer di Banten. Sehingga, kata dia, partai tersebut mendapat keuntungan. “Fenomena Gerindra,PAN dan PKS yang masuk di kursi DPRD Banten tidak terlepas dari figur capres 02,” ujarnya.

Menurut Sekretaris DPD Golkar Banten Bahrul Ulum, perolehan kursi yang final berdasarkan hasil hitungan internal partainya sebanyak 11 kursi. “Sementara baru 11 kursi yang fix, finalnya kita lihat hasil Pleno KPU Provinsi Banten,” ucapnya, Rabu (8/5/2019).

Ia mengakui, perolehan suara Golkar untuk DPRD Banten turun dibanding perolehan kursi pada Pemilu 2014. Kabupaten Serang menjadi salah satu dapil DPRD Banten yang menyumbang dua kursi. “Yang pasti Kabupaten Serang,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris DPD Gerindra Banten Andra Soni menuturkan, hitungan perolehan kursi DPRD Banten partainya pada Pemilu 2019 didapatkan dari penghitungan suara yang dikumpulkan setiap TPS dan disesuaikan dengan pleno KPU kabupaten/kota.

“Dasarnya dari penetapan pleno berjenjang dari kecamatan, kabupaten/kota. Perhitungan resminya nanti ditetapkan oleh KPU, tanggal 12 (Mei) kalau tidak salah. Kita nambah 6 perolehan suara, dulu (Pemilu 2014) itu 10. Meningkat 60 persen. Ya di dapil yang jumlah kursinya di atas 9, itu dapat 2 kursi semua,” katanya.

Ia menegaskan, hitungan perolehan kursi yang didapatkan saat ini bukan hasil akhir, pada prinsipnya hasil penetapan resminya dilakukan oleh KPU. “Tapi semua orang bisa mengakses hasil pemilu mulai dari tingkatan TPS, dan pleno juga terbuka bukan sesuatu bisa ditutupin, dan Gerindra mengikuti semua tahapan mulai dari TPS, berkasnya kita pegang semua,” tuturnya. (DN/HS/SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here