PHRI Ingin Pemprov Banten tidak Hanya Fokus Tanjung Lesung, Promosi Wisata tak Terarah

Ahmad Sari Alam, Ketua PHRI Provinsi Banten.*

SERANG, (KB).- Promosi wisata yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dinilai tidak terarah dan kurang berimbang, karena lebih difokuskan di Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang. Bukan hanya itu, para pelaku wisata juga kurang dilibatkan.

Hal itu dikatakan Ketua PHRI Banten Ahmad Sari Alam, Rabu (26/2/2020), ketika dimintai tanggapan tentang komentar Komisi III DPRD Provinsi Banten agar kegiatan di kawasan wisata Tanjung Lesung ditinjau ulang, karena hanya menguntungkan swasta.

Dia tak mempermasalahkan kegiatan promosi wisata di Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang. Akan tetapi, baiknya kegiatan tersebut harusnya dilakukan secara berimbang di daerah lain.

“Silakan yang terbaik menurut pemda. Usulan saya di Mall Jakarta membawa seni tari Banten, dan hotel, resto berpromosi bersama dan adil,” katanya.

Ia merasa malas dengan sikap pemprov yang melulu memfokuskan ke Tanjung Lesung. Sementara, hasilnya belum terlihat.

“Males selalu ke Tanjung Lesung saja, dan hasilnya apa? Penganguran meningkat, apa pariwisata Banten ok? Kan enggak, walaupun dekat dengan Jakarta,” ucapnya.

Baca Juga : Dinilai Hanya Mempromosikan Kawasan Milik Swasta, Kegiatan di Tanjung Lesung Diminta Ditinjau Ulang

Selama ini PHRI Banten dan asosiasi besar tak diikutkan dalam program promosi wisata yang dilakukan Pemprov Banten. Padahal, kontribusi pajak hotel dan restoran di Banten cukup tinggi, nilainya tembus Rp 1 triliun.

“Tapi diabaikan Pemerintah Provinsi Banten. Sampai sekarang dua kali minta audiensi, gubernur tidak bisa dan promosi sampai sekarang tidak terarah. Umpama musibah tsunami tidak diurus, padahal pemasukan pajak besar. Jadi PHRI kerja sendiri dan telah 3.000 lebih tenaga kerja hotel dan resto sudah dapat sertifikasi ASEAN, inipun didiamkan saja,” ujarnya.

Disinggung soal kegiatan di Tanjung Lesung yang perlu ditinjau ulang, ia tak ingin memberikan komentar. Ia hanya menjelaskan, selama ini promosi wisata masih memiliki masalah, terutama tidak adanya koordinasi dengan PHRI.

“PHRI dianggap anak tiri, ok lah. Provinsi walaupun pedapatannya Rp 1 triliun pajak daerah, capek deh,” ucapnya.

Untungkan semua pihak

Namun menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Pandeglang Widiasmanto, kegiatan promosi wisata di Tanjung Lesung bisa menguntungkan semua pihak. Sebab, kegiatan di Tanjung Lesung bisa menguntungkan masyarakat dan juga pelaku wisata seperti pemilik home stay.

“Jangankan di level dewan, pemerintah juga terkait KEK (Kawasan Ekonomi Khusus), belum paham semua terkait masalahnya. Untuk itu, kita kumpul bareng. Sehingga, pemahaman KEK jangan sepotong-sepotong,” kata Widi menanggapi komentar Komisi III DPRD Provinsi Banten Gembong R Sumedi, yang meminta pemerintah provinsi (pemprov) agar meninjau ulang kegiatan di kawasan wisata Tanjung Lesung, yang dinilai hanya mempromosikan kawasan milik swasta.

Menurut Widi yang juga sebagai pengelola Tanjung Lesung, keberadaan KEK Tanjung Lesung bisa memberikan dampak positif kepada masyarakat, terutama pelaku usaha homestay.

“Kalau target kami, wisatawan nasional bahkan mancanegara. Sebab, kalau sudah datang ke Banten, terutama ke Tanjung Lesung, tentu akan berdampak juga pada homestay seperti di Cipanon,” tuturnya.

Kerja sama paket wisata

Secara terpisah, Pelaksana tugas (Plt) Kabid Promosi Pemasaran Pariwisata, Dinas Pariwisata Banten Dewi U menuturkan, selama ini pihaknya telah menggelar berbagai promosi wisata Tanjung Lesung. Promosi tersebut berbentuk kegiatan yang cenderung busnis to customor (B to C), serta paket promosi yang multystrategy.

“Selain B to C kita juga kegiatannya B to B, busines to busines. Jadi tidak hanya to customer tapi juga to busines. Itu seperti travel agent. Banten kita bekerja sama mengundangkan mereka, travel agent di luar Banten untuk melakukan transaksi jual paket wisata kepada mereka,” katanya.

Terkait dorongan adanya peninjauan ulang terhadap kegiatan yang dilakukan di Tanjung Lesung karena lebih mengutungkan pihak swasta. Menurut dia, pandangan itu sah dan dianggap bahan evaluasi bagi program pihaknya.

“Tapi sebetulnya sangat menarik, karena evaluasi yang sifatnya mengkritisk tersebut, ya kami bersyukur. Karena kami ada perhatian dari seluruh pihak. Barangkali di Banten untuk pengembangan pariwisata di Tanjung Lesung,” ucapnya.

Tanjung Lesung merupakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terdiri atas kawasan masyarakat dan kawasan privat.

“Jadi kami justru sangat menerima untuk kita diskusikan barangkali seperti apa idelanya ke depan. Sehingga pemerintah bisa lebih meningkatkan lagi intervensi pembangunan khususnya yang langsung bersentuhan dengan masyarakat,” tuturnya. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here