Petani Pedalaman Baduy Mulai Bercocok Tanam

LEBAK, (KB).- Komunitas masyarakat adat Baduy mulai melaksanakan penanaman padi huma di ladang-ladang yang dilakukan secara serempak untuk mengikuti kalender adat juga mengadaptasikan diri terhadap lingkungannya.

Berdasarkan pantauan, Sabtu (1/9/2018), sejumlah petani Baduy sedang sibuk bercocok tanam di lahan-lahan perbukitan sekitar kawasan hak tanah ulayat adat juga tersebar di Kecamatan Leuwidamar, Cirinten, Gunungkencana, Sobang, Muncang, Bojongmanik dan Cimarga.

Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Saija menyatakan, garapan cocok tanam dilakukan serentak sesuai kalender adat masyarakat Baduy dan pertengahan September 2018 bisa dilakukan penanaman benih padi huma. Selain itu juga petani Baduy menanam pisang, cabai, tebu hingga sayur-sayuran dengan cara tumpang sari.

”Apabila bercocok tanam ladang huma September maka bisa dipanen pada Maret 2019. Sebab, petani Baduy menggunakan benih padi lokal dengan masa panen selama enam bulan ke depan,” kata Saija.

Menurutnya, warga Baduy tidak mengenal musim kemarau maupun hujan jika melakukan penanaman padi huma di ladang-ladang. Masyarakat Baduy hanya melaksanakan musim tanam secara serempak sesuai ketentuan penghitungan adat.

”Selama ini, warga Baduy biasa tanam padi bulan September-Oktober dan musim panen sekitar Maret 2012. Kami memasuki musim panen padi selama enam bulan, karena menggunakan jenis benih varietas ‘padi gede’ dan cocok ditanam di ladang,” ujarnya.

Ditambahkan, pihaknya tidak merasakan beban atau kekhawatiran tanamannya tidak tumbuh subur pada musim kemarau, karena warga Baduy sudah memiliki penghitungan yang pasti dan sejak nenek moyang hingga kini dilaksanakan, seperti melakukan penanaman padi huma.

Seorang petani Baduy, Santa mengatakan, pihaknya saat ini sudah melakukan penanaman secara serempak di hutan seluas 1,5 hektare di kawasan hutan tanah ulayat Baduy. “Kami hari ini membakar sampah rerumputan bekas pembabatan membuka hutan seluas 1,5 hektare,” ucap Santa.

Petani Baduy lainnya, Amir (50) mengatakan, dirinya bercocok tanam ladang huma di lahan milik Perum Perhutani Kecamatan Gunungkencana dengan sistem bagi hasil jika sudah dipanen. “Kami sejak turun temurun bercocok tanam padi huma di ladang dan dilarang adat jika di lahan persawahan,” tuturnya.

Sementara Samin (50) seorang petani Baduy mengaku, dirinya menanam padi huma dilakukan secara serentak sesuai ketentuan penghitungan adat. Sebab, penanaman serentak itu nanti musim panen secara bersamaan. “Kami berharap produksi padi huma pada musim panen mendatang tidak menyusut dan berkurang,” katanya. (ND)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here