Senin, 18 Februari 2019

Petani Kramatwatu Tolak Rencana Perpanjangan Buka-Tutup Irigasi

SERANG, (KB).- Petani Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang menolak rencana perpanjangan buka-tutup saluran irigasi Pamarayan Barat yang sedang dilakukan normalisasi oleh pihak Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian, yang rencananya akan dilakukan sampai September 2018. Penolakan tersebut, karena jadwal bukaan irigasi terlalu pendek, sementara tanaman padi sedang memasuki masa pertumbuhan dan masa generatif atau pembentukan biji.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura pada Dinas Pertanian Kabupaten Serang, Zaldi Dhuhana mengatakan, keluhan Kelompok Tani Kramatwatu terkait buka-tutup irigasi disampaikan ke Dinas Pertanian. Petani juga menyampaikan rencana mereka yang akan menghadap ke bupati Kabupaten Serang pada Senin (4/6/2018), untuk menyampaikan terkait masalah jadwal buka-tutup irigasi tersebut.

“Kan buka-tutupnya diperpanjang, kalau tidak salah sampai September, cuma bukanya hanya 10 hari, nah menurut teman-teman, petani ini gak akan cukup air kalau 10 hari dibukanya, karena padi sedang masa pertumbuhan dan nanti sampai masa generatif masa pembentukan biji. Jadi, mereka minta kalau bisa Juni Juli gak ada buka tutup, di losin saja nanti baru mulai lagi Agustus,” katanya saat dihubungi Kabar Banten melalui telepon selulernya, Ahad (3/6/2018).

Ia menuturkan, petani Kramatwatu tidak setuju adanya jadwal buka-tutup irigasi yang terbaru, apalagi bulan ini, adalah jadwal tanam padi untuk wilayah Kecamatan Pontang, Tirtayasa, Kasemen, dan khususnya Kramatwatu. “Petani ingin jadwal buka-tutup tersebut diubah. Kalau surat yang awal buka-tutup itu kan hanya sampai Mei, tapi gak tahu gimana ini diperpanjang,” ujarnya.

Menurut dia, surat pemberitahuan jadwal baru tersebut juga masuk ke Dinas Pertanian, namun pihaknya tidak mengetahui pertemuannya dan bagaimana. “Saya juga gak tahu dan beberapa kelompok tani menyatakan gak tahu juga. Di suratnya menyatakan, bahwa sudah berkomunikasi dengan beberapa kelompok tani cuma yang di Kramatwatu merasa gak tahu,” ucapnya.

Terkait hal tersebut, tutur dia, pihaknya yang pasti akan meminta diadakan pembicaraan, artinya jika Juni atau Juli tidak bisa tetap dibuka, minimal hari bukanya diperpanjang misalnya 20-10 hari, 20-5 hari atau 15-5 hari. “Dulu yang sampai Mei buka tutup 10-5 hari itu juga kurang, mereka ingin minimal dua minggu atau 15 hari,” katanya.

Ia mengungkapkan, saat ini di Kramatwatu ada hampir sekitar 1.500 hektare tanaman padi yang tersebar di beberapa desa, di antaranya di Desa Pamengkang, Margasan, dan Tonjong. Jika dipaksakan Juni atau Juli tetap buka-tutup dan hanya sebentar bukanya, dikhawatirkan puso. “Apalagi sekarang sudah mulai kering. Kalau kami dalam hal ini yang penting bagaimana caranya kepentingan petani bisa ada solusinya,” ucapnya. (YY)*


Sekilas Info

Jelang Pemilu 2019, Santri dan Ulama Banten Doa Bersama untuk Keselamatan Negeri

SERANG, (KB).- Ribuan santri dan ulama yang berhimpun dalam forum silaturahmi Ahli Sunah Waljamaah (Aswaja) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *