Pesona Ramadan Banten, Produk UMKM Jadi Daya Tarik Wisata

Kepala Bidang Pemasaran DKI Banten pada Kemenpar Ni Komang Ayu Astiti, Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nurcahyati dan PKS Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erry P Suryanto saat meninjau hasil UMKM dan perlombaan melukis dalam acara Pesona Ramadan Banten 1440 Hijriah, di Pendopo Bupati Serang, Jumat (24/5/2019).*

KEMENTERIAN Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia mengapresiasi pelaksanaan “Pesona Ramadan Banten 1440 Hijriah” yang dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) bekerja sama dengan Pemprov Banten dan Pemkab Serang di halaman Pendopo Bupati Serang, Jumat (24/5/2019).

Hal itu dikarenakan kegiatan yang dilaksanakan hingga Sabtu (25/5/2019) tersebut menjadi ajang pameran berbagai produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Bidang Pemasaran DKI Banten pada Kemenpar Ni Komang Ayu Astiti, Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nurcahyati, Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa. Kemudian, Kepala Diskoperindag Kabupaten Serang Abdul Wahid, Kepala DKBP3A Tarkul Wasyit, Kepala DKPP Suhardjo, Kepala DLH Sri Budi Prihasto, Kepala Dinkes Sri Nurhayati.

Pada kegiatan tersebut, berbagai stan atau outlet produk UMKM ramai dikunjungi. Stan tersebut menjual dan memamerkan berbagai produk unggulan dari delapan kabupaten/kota se-Banten. Selain itu, ada juga perlombaan seperti lomba melukis gerabah dan tong.

Kepala Bidang Pemasaran DKI-Banten pada Kemenpar RI Ni Komang Ayu Astiti mengatakan, Kemenpar menyambut baik adanya program Pesona Ramadan dan Pesona Lebaran. Sebab dalam Pesona Ramadan ini ditampilkan hasil UMKM dan e-kraf (Ekonomi Kreatif) di kabupaten/kota se-Banten.

”Dari sini diharapkan jadi ikon masing-masing daerah dan nanti bisa dikemas untuk mendukung pariwisata. Hasil produk ini bisa jadi daya tarik untuk berkunjung,” ujar Komang seusai acara.

Komang mengatakan, semua daerah diharapkan memiliki ciri khas, seperti Pekalongan dengan batiknya. Di sana, kata dia, orang bisa belajar buat batik hingga mengemas dan menjualnya.

Hal itu bisa dicontoh di Banten, bagaimana orang bisa belajar membuat batik Banten dan diharapkan bisa langsung membeli dan memanfaatkannya. ”Sehingga pergerakan ekonomi dari sektor wisata meningkat,” tuturnya.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Eneng Nurcahyati mengatakan, dalam pelaksanaannya ada juga kegiatan yang bermuatan tentang kekhasan di Kabupaten Serang. Seperti gerabah yang masih menjadi unggulan.

Pihaknya mengangkat kerajinan tangan tersebut dalam bentuk lomba melukis gerabah dan tong.”Kami bantu angkat kembali ini sebagai potensi unggulan. Mudah-mudahan kita bisa angkat agar gerabah jadi ekonomi kreatif di Kabupaten Serang,” tuturnya.

Eneng mengatakan, pascatsunami Selat Sunda pihaknya mendorong kabupaten/kota yang memiliki destinasi selain pantai bisa melakukan promosi. Dengan demikian, pengunjung tetap bisa datang ke Banten namun tidak harus ke pantai. ”Karena kita ada banyak wisata seperti sungai, curug, gunung, destinasi buatan dan digital,” katanya.

Menurutnya, tidak mudah mengembalikan kondisi pariwisata pascabencana tersebut. Namun pihaknya terus berusaha dengan berbagai cara yakni melakukan penguatan SDM terdampak agar memiliki alternatif untuk pengembangan usaha. Kemudian menggelar berbagai event ketika terjadi penurunan status.

”Kemenpar banyak mendukung, terus komunitas dan kelompok juga datang untuk menyemarakkan pantai,” ucapnya.

Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa mengatakan, kegiatan Pesona Ramadan bertujuan memamerkan produk unggulan dengan cara membuka outlet sehingga masyarakat bisa melihat.

”Cara memperkenalkan produk agar terkenal yaitu dengan cara memasarkan produk UMKM kita. Dengan memasarkan hasil produksi ekraf diharapkan jadi keunggulan Kabupaten Serang untuk mengembangkan pariwisata,” ujarnya.

Menurutnya, wisata bukan sekadar keindahan alam, pegunungan atau hiburan. Akan tetapi juga termasuk di dalamnya kuliner. Oleh karena itu, e-kraf ini coba didorong untuk menjadi unggulan daya tarik wisata.

”Selain pemasaran juga kesinambungan produk. UMKM kita dengan segala keterbatasan mencoba produk. Karena kalau sudah masuk ekonomi pasar kita harus pastikan pasokan perbulannya,” tuturnya. (Dindin Hasanudin)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here