Pesawat Lion Air JT 610 Jatuh di Karawang, Warga Serang Belum Ditemukan

SERANG, (KB).- Warga Kompleks Perumahan Griya Cilegon, Blok C3, Nomor 13 RT 003/RW 003 Desa Arjatani, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Sihabudin, merupakan satu dari 189 penumpang Lion Air JT 610 yang mengalami kecelakaan, Senin (29/10/2018). Hingga Senin sore, Sihabudin yang tercatat sebagai penumpang pesawat dengan rute penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang tersebut belum ditemukan.

Kakak korban, Satibi mengatakan, dirinya mendapatkan kabar duka tersebut sekitar pukul 08.30 WIB dari istrinya yang baru pulang senam. “Katanya benar enggak saudara kamu kecelakaan mau berangkat kerja. Saya cek di rumah enggak ada, saya lihat istrinya enggak ada. Saya cek di HP katanya mau langsung ke Jakarta, dia ke Cikande dulu dan terus ke airport,” ujarnya kepada Kabar Banten saat ditemui di rumahnya, Senin (29/10/2018).

Satibi mengatakan, Sihabudin rencananya terbang ke Pangkal Pinang untuk bekerja. Sebab, ia sudah lima tahun pindah kerja dari KKP Merak ke Pangkal Pinang. “Biasa dia pagi (berangkat) dan sampai sana jam 7. Saya juga sampai pernah ledekin kenapa kerja disana,” tuturnya.

Tetangga korban, Anis mengatakan, selama ini setiap akhir pekan Sihabudin memang biasa pulang ke rumah. Korban meninggalkan seorang istri, Rismayanti dan tiga orang anak. “Semalam ketemu, pagi juga ketemu,” ucapnya. Ia mengatakan, mendapatkan kabar tersebut istri korban pun langsung berangkat ke Jakarta. “Sekarang di Jakarta ke crisis center. Sampai saat ini belum tahu kondisinya dan kami terkejut,” tuturnya.

Asisten rumah tangga korban, Ida Wati mengatakan, terakhir kali bertemu dengan majikannya tersebut, Sabtu (27/10/2018). Setelah itu, ia pulang ke rumahnya dan baru tadi pagi berangkat kerja ke rumah majikannya. “Dia pulang kemarin, Jumat ke sini. Itu terakhir ketemu Sabtu. Tadi pas ke sini, beliau sudah berangkat diantar ibu,” ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Ida mengatakan, majikannya tersebut merupakan sosok yang baik. Bahkan ia sudah menganggapnya sebagai orangtuanya. “Sayang sama teteh (Ida) juga enggak nganggap pembantu, karena saya sudah lama di sini jadi dianggap anak,” ucapnya. Selama ini, Sihabudin bekerja di KKP Pangkal Pinang sudah sekitar lima tahun. Biasanya ia pulang ke rumah setiap satu bulan sekali. Namun dalam sebulan terakhir, ia pulang ke Serang setiap hari minggu. “Sudah dua kali pulang sebulan ini, dia sering pulang,” katanya.

Ida berharap majikannya tersebut bisa selamat. “Makanya saya tadi dengar telepon (dari Jakarta) kaya gitu langsung gemetaran dan mikirnya ya Allah kalau bisa mah nanti aja berangkatnya. Saya minta beliau enggak apa-apa sih,” ucapnya. Tetangga korban, Icuk Dadang (50), membenarkan korban ikut serta dalam penerbangan pesawat Lion Air JT 610. “Iya betul, salah satu korban yang dimanifest tersebut adalah tetangga saya. Barusan saya melayat ke rumahnya,” katanya.

Setelah adanya insiden tersebut, keluarga korban langsung komunikasi. Dalam daftar penumpang, nama korban ada. “Sekitar pukul 11.00 WIB dihubungi oleh manajemen dan mengabarkan bahwa salah satu korban dari ratusan adalah warga Griya Cilegon. Saat ini juga keluarga korban akan berangkat ke bandara,” ujarnya.

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam GMNI Serang melakukan doa bersama untuk para korban musibah pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di Perairan Tanjung Karawang Jawa Barat usai melakukan aksi refleksi Sumpah Pemuda di depan kampus UIN SMH Banten, Senin (29/10/2018).*

Doa bersama

Beberapa jam setelah kecelakaan pesawat beredar, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Serang menggelar doa bersama atas jatuhnya pesawat Lion Air di perairan Karawang siang tadi. Doa bersama itu dilakukan di sela aksi refleksi Sumpah Pemuda ke-90 di depan kampus Universitas Negeri Islam (UIN) SMH Banten, Senin (29/10/2018).

Koordinator aksi, Adnan Ch mengatakan, meski bersifat insidental, doa tersebut dilakukan karena mahasiswa merasa prihatin atas musibah jatuhnya pesawat dengan jumlah penumpang ratusan orang itu. Sehingga, mahasiswa menyempatkan untuk berdoa di sela aksi refleksinya. “Kita juga berdoa bersama untuk sama-sama memberikan satu sikap prihatin terhadap mereka (korban) itu,” kata Adnan di sela aksinya.

Sementara itu Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani mendatangi Crisis Center di Terminal 1B, Bandara Soekarno Hatta. Kedatangan mereka bertujuan untuk mendapatkan informasi terkait jatuhnya pesawat Lion Air JT-610. Budi muncul terlebih dahulu sekitar pukul 12.20 WIB. Ia bertemu dengan sebagian keluarga korban penumpang pesawat yang menunggu perkembangan informasi di Terminal 1B.

Usai bertemu keluarga korban, Menhub menuturkan bahwa Basarnas beserta Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sudah berkeliling di lokasi kecelakaan. Puing-puing pesawat yang mengapung sudah dibersihkan dan diangkat ke kapal.

“Sekarang kita fokus mencari rakit utama di dalam air, kita kerahkan beberapa kapal untuk melakukan pencarian, serta ada beberapa kapal yang dilengkapi dengan alat scan sonar untuk menentukan dimana rakit itu berada. Tim SAR juga membawa peralatan ULP untuk mendeteksi keberadaan blackbox. Kita harapkan blackbox jatuh tidak jauh dari rakit utamanya,” ujarnya.

Hal itu dibenarkan Kepala Otoritas Bandara Wilayah I Kementerian Perhubungan Bagus Sunjoyo. Ia menegaskan kalau Tim SAR masih melakukan pencarian bodi pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang. “Dari badan pesawat sampai siang ini belum ditemukan. Saya sudah koordinasi dengan Basarnas bahwa blackbox-nya belum ditemukan sampai saat ini,” ucapnya. Menurutnya, serpihan serta beberapa benda yang ditemukan tim SAR pun belum tentu dari pesawat nahas tersebut. “Baru ditemukan serpihan, tapi apakah betul itu pesawat atau bukan, belum dipastikan,” tuturnya.

Sementara, PT Angkasa Pura (AP) II telah mengaktifkan tiga posko utama baik untuk para media atau pun keluarga korban jatuhnya Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610. Posko di seberang gedung VIP yang akan menjadi posko lintas stakeholders, kedua di gedung VIP yang akan menjadi tempat untuk para keluarga korban mencari informasi, ketiga di Bandara Halim Perdana Kusuma dipakai untuk keluarga korban juga karena teman-teman Lion Air aktif memberi informasi di Bandara Halim Perdana Kusuma.

Kondisi pesawat

Kepala Otoritas Bandara Soekarno-Hatta Bagus Sunjoyo mengatakan, kondisi pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang laik terbang. Hal itu sesuai dengan tanda pendaftaran maupun tanda kelaikan pesawat. Namun, Bagus Sunjoyo menambahkan, ada laporan bahwa pesawat meminta rendezvous point (RVP).

Ini merupakan permintaan untuk bertemu atau berkumpul dengan Satuan Tugas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) sebelum menuju ke staging area. “Ada laporan bahwa pesawat request RVP. Karena apa? Belum ada statement yang menjelaskan. Request dalam perjalanan,” ujar Bagus Sunjoyo dalam konferensi pers di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (29/10/2018).

CEO Lion Air Edward Sirait membantah informasi yang menyebut adanya masalah pada mesin pesawat. Ia mengakui pesawat tipe boeing 737 Max 8 sempat mengalami masalah teknis namun masalah ini sudah diselesaikan sesuai prosedur. Sebelum terbang menuju Pangkal Pinang, pesawat ini terakhir kali terbang ke Denpasar (Bali) menuju Cengkareng (Jakarta).

“Saya sampaikan tidak ada masalah teknis. Pesawat ini layak terbang. Jam terbang rata-rata 9-10 jam per hari. Kalau pesawat mengalami kendala teknis memang umum terjadi, dan saya belum bisa mengatakan apa-apa,” ujar Edward. (TIM KB)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here