Senin, 18 Februari 2019

Pesantren Riyadhussholihin, Melatih Disiplin dari Solat Berjemaah

Dari sisi usia, Pesantren Modern Terpadu Riyadhussolihin terbilang masih sangat muda. Baru menerima tujuh angkatan, namun pondok pesantren yang beralamat di Kampung Pelawad Tegal, Desa Pelawad, Kecamatan Ciruas, Kota Serang, telah berhasil membawa santrinya berprestasi level nasional, bahkan internasional.

Metoda mendidik para ustaz di Pesantren Riyadhussolihin tidak terlalu ribet dan muluk. Menurut mereka, semua keberhasilan santri dimulai dari solat berjamaah di masjid. Jika solat berjamaah santri sudah beres, maka menanamkan nilai-nilai disiplin dan kebaikan kepada santri adalah langkah berikutnya.

“Kami memulainya dengan solat berjamaah. Itu adalah pekerjaan pertama yang dilakukan para ustaz di pesantren ini. Oleh sebab itu, para ustaz harus bisa merebut hati para santri baru agar enjoy berjamaah di masjid,” kata salah seorang pengasuh di Pesantren Riyadhussolihin, Ustaz Husni Mubarok.

Untuk mengajak para santri agar enjoy solat berjamaah, para ustaz dan masing-masing ketua kamar melakukan pendekatan pribadi kepada setiap santri. Pendekatan bisa dilakukan dengan ngobrol kelompok, cerita orang sukses, dan bahkan pendekatan rayuan jika diperlukan.

“Alhamdulillah, santri baru pun tidak ada yang meninggalkan solat berjamaah di masjid. Semua dilakukan dengan gembira, tanpa paksaan,” katanya.

Itu sebabnya, tambah Ustaz Husni, pengenalan lingkungan santri baru Pesantren Riyadhussolihin bisa memakan waktu hingga satu minggu. Sebab, para santri baru tidak boleh dipaksa. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Di antara mereka, ada yang terbiasa Solat Subuh berjamaah di masjid, ada yang bangsawan alias “bangsa tangi awan”. Selama satu minggu masa perkenalan, para santri baru diperkenalkan dan dibiasakan dengan suasana yang serba baru. Mereka harus terbiasa mandiri, mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur.

“Setelah satu minggu tinggal di pondok, barulah perkenalan lingkungan kelas dan segala mata pelajarannya dimulai. Jadi, semuanya butuh proses. Tidak ujug-ujug diajarkan dan dipaksakan. Termasuk soal solat berjamaah di masjid,” katanya.

Metoda “sabar” yang diterapkan para ustaz di Pesantren Riyadhussolihin bukan tanpa alasan. Sebab, selama tinggal di pesantren, para santri menjalani program yang padat. Setiap hari, mereka sudah memulai aktivitas sejak pukul 03.30 WIB. Pertama yang mereka lakukan adalah qiyamul lail, dilanjutkan dengan membaca dan menghafal Alquran. Seusai Solat Subuh berjamaah, mereka tahfiz hingga jam 05.30 WIB. Aktivitas berikutnya, dari jam 05.30 WIB hingga jam 06.00 WIB, al matsurot, ilqo mufrodat, muhadatsah, dan solat syuruq.

Adapun kegiatan belajar mengajar dimulai pukul 07.00-14.30 WIB, dilanjutkan dengan Salat Ashar dan alma’tsurotul qubro hingga pukul 16.00 WIB. “Antara jam 16.00-17.00 WIB, ada waktu untuk olahraga dan ekstrakurikuler,” katanya. Khusus bidang ekstrakurikuler, Pesantren Riyadhussolihin menawarkan banyak kegiatan. Antara lain, pramuka, bela diri tapak suci, tsufuk, seni baca Alquran, marawis, nasyid, jurnalistik, karya tulis ilmiyah (KIR), desain grafis, futsal, basketball, gymnastic, dan voleyball.

Kesabaran para ustaz Pesantren Riyadhussolihin dalam membina dan membimbing para santri membuahkan hasil. Tahun ajaran 2017-2018, pesantren ini berhasil meraih banyak prestasi, dari juara lomba pidato hingga tahfiz 15 juz. (SY)*


Sekilas Info

Beredar, Kandidat Rektor Untirta

SERANG, (KB).- Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Sholeh Hidayat akan segera mengakhiri masa jabatannya. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *