Selasa, 16 Oktober 2018

Pesantren dan Kitab Kuning

Sebagai lembaga yang konsen terhadap pendalaman ilmu agama (tafaqquh fiddin), pesantren-pesantren yang berada di seluruh nusantara sejak awal berdirinya sehingga sekarang memang mempunyai daya tarik tersendiri. Hal itu, baik dari isi pendidikannya, kehidupan sehari-hari santrinya, maupun sistem dan motode pengajarannya.

Di antara sekian banyak yang menarik dari pesantren yang tidak terdapat di lembaga lain adalah mata pelajaran bakunya yang ditekstualkan pada kitab-kitab klasik (salaf), yang sekarang ini terintroduksi secara populer dengan sebutan kitab kuning.

Dalam tradisi pesantren, kitab kuning merupakan ciri dan identitas yang melekat dan tidak bisa dilepaskan. Sebagai lembaga kajian dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman (al ulum as syar’iyah), pesantren menjadikan kitab kuning sebagai identitas kepesantrenannya.

Istilah kitab kuning sebenarnya dilekatkan pada kitab-kitab warisan abad pertengahan Islam yang masih digunakan pesantren hingga kini.

Kitab kuning selalu menggunakan tulisan arab, walaupun tidak selalu menggunakan bahasa arab. Dalam kitab yang ditulis dalam bahasa arab, biasanya tidak dilengkapi dengan harokat. Karena ditulis tanpa kelengkapan harokat maka akhirnya kitab kuning ini kemudian dikenal dengan sebutan kitab gundul.

Secara umum, spesifikasi kitab kuning memiliki bentuk yang unik dan beda dengan kitab pada umumnya. Sebab di dalam kitab kuning terdapat matn (teks asal), yang kemudian dilengkapi dengan syarah (penjelasan/ komentar) dan juga hasyiah (catatan pinggir). Cara penjilidanya pun tidak maksimal, bahkan sengaja diformat secara kurosan sehingga mempermudah dan memungkinkan pembaca untuk membawanya sesuai dengan bagian yang dibutuhkannya.

Kitab kuning bisa dicirikan di antaranya: Pertama, kitab yang ditulis atau bertuliskan arab. Kedua, pada umumnya ditulis tanpa syakal, bahkan tanpa titik dan koma. Ketiga, berisi keilmuan Islam. Keempat, metode penulisannya dinilai kuno. Kelima, pada umumnya dikaji dan dipelajari di pondok pesantren. Keenam, dicetak dengan kertas bewarna kuning.

Namun demikian, ciri semacam ini mulai hilang seiring dengan diterbitkannya kitab-kitab serupa dengan format lay out yang lebih elegan. Dengan dicetak menggunakan kertas putih dan dijilid lux, tampilan kitab kuning yang ada sekarang relatif menghilangkan kesan “klasiknya”.

Proses pengajaran kitab kuning di pesantren melalui dua tahap. Pertama, dengan menggunakan metode utawi iki iku dengan simbol mim (mubtada) dan kha (khobar), fa (fail), mim fa (maful bih) dan seterusnya. Hal itu untuk menguraikan arti tiap kalimat dan huruf-huruf yang bermakna, sekigus juga menguraikan kedudukan tarkib dari sudut qaidah nahwu dan sharafnya. Tahapan selanjutnya adalah penjelasan dan ulasan dari isi kandungannya secara tekstual-harfiyah (letterlijk) maupun sampai dengan pengertian-pengertian di baliknya.

Tahap pertama yang tradisional ini, walaupun kelihatan agak sulit dan unik serta cara mempelajariya di butuhkan waktu yang lama, namun cara ini sangat menguntungkan para santri karena mempermudah mereka dalam memahami kandungan kitab. Hal ini dikarenakan, untuk memahami kandungan dari sebuah ungkapan kitab kuning secara benar, sangat bergantung pada makna masing-masing kalimat dan huruf bermakna, serta kaidah nahwu shorof, lengkap dengan konteks-konteksnya.

Sedangkan tahap kedua adalah, penjabaran tuntas secara analisis dari yang bersifat manthuqat sampai dengan mafhumat. Bahkan sering juga pada kedua tahap itu, para kiai pembaca kitab kuning merespon dengan alasan-alasan yang memperkuat itu sendiri, atau kadang-kadang menentang atau meluruskan yang dianggap kurang tepat, sebagaimana lazimnya syarah (komentar/ penjelasan) dan hasyiah (catatan pinggir) kitab.

Metode pengajaran kitab kuning di pesantren ini terbukti sangat ampuh dan mudah difahami oleh santri karena lebih aplikatif, dibandingkan dengan pengajaran kitab yang dilakukan dengan metode lepas, dengan penerjemahan langsung dan bebas. Lebih daripada itu, santri juga lebih dapat menghayati dengan menumbuhkan perasaan dzauq arabiyah yang sangat mempengaruhi pemahaman terhadap teks-teks berbahasa arab. (Kholid Ma’mun, alumnus Universitas Al Azhar Kairo. Pengajar di Ponpes Modern Daar El Istiqomah Kota Serang)***


Sekilas Info

Enam Tersangka Pengeroyok Polisi Ditangkap

ENAM tersangka pengeroyokan terhadap anggota polisi Tri Widianto di Wisma Cariti, Kampung/Desa Julang, Kecamatan Cikande, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *