Persepsi Siswa Terhadap Guru BK

Oleh : Juhenah

Bimbingan Konseling di Indonesia secara formal masuk dalam sistem pendidikan nasional mulai tahun 1975, yaitu pada saat diberlakukannya kurikulum 1975 di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Sejak saat itu mulai diakuinya profesi Bimbingan Konseling (BK) di sekolah.

Profesi BK diharapkan akan dapat membantu dan mendukung serta mengembangkan seluruh kemampuan peserta didik sesuai dengan potensinya melalui layanan Bimbingan Konseling yang bersifat psiko-pedagogis. Dengan demikian, layanan Bimbingan Konseling di sekolah merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan untuk pencapaian tujuan pendidikan.

Bimbingan Konseling merupakan proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing (konselor) kepada individu (konseli) melalui hubungan timbal balik antara keduanya agar konseli memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya sendiri, mampu menerima dirinya sendiri sesuai dengan potensinya, dan mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya.

Beragam hambata diantaranya jumlah tenaga yang masih terbatas membuat semua orang diperbolehkan melaksanakan tugas tersebut adalah fakta yang terjadi di sekolah yang menunjukkan konselor sekolah sering dipersepsikan secara negatif. Kondisi tersebut sangat sulit untuk dapat menyesuaikan tugas secara umum layanan Bimbingan Konseling dengan baik dan komprehensif terlebih untuk melaksanakan pendidikan karakter. Hal tersebut disebabkan karena terjadinya kesalahan persepsi tentang konselor sekolah.

Leavitt berpendapat bahwa “persepsi merupakan pandangan atau bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu” (Sobur, 2003). Kesalahan persepsi siswa terhadap konselor terjadi karena siswa tersebut memperhatikan sesuatu yang nampak pada diri konselor yang meliputi penampilan fisik, perilaku dan juga ruang lingkup kerja konselor. Fakta tersebut ditemukan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Wanasalam, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Dilihat dari tindakan guru Bimbingan Konseling (BK), yang memainkan perannya jika mendapati siswa yang melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Bahkan, ada pula konselor yang bertugas sebagai spionase (mata-mata) bagi siswa yang dianggap berperilaku tidak wajar seperti siswa lainnya. Yang paling menonjol dari hal tersebut adalah di setiap hari Senin sebelum dilaksanakannya upacara, siswa yang datang terlambat ke sekolah dan melanggar aturan sekolah baik dari rambut dan peralatan atau pakaian yang tidak sesuai dengan aturan sekolah akan dipisahkan dari siswa yang disiplin, kemudian dipanggil ke ruang BK untuk menghadap konselor. Mayoritas siswa lebih dekat dan membagi masalahnya kepada teman sebaya mereka, baik itu masalah pribadi, keluarga atau teman sekolahnya.

Dalam kasus yang sama juga terdapat persepsi siswa mengenai guru pembimbing di sekolah SMP Negeri 2 Wih Pesam di Desa Pante Raya, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh. Persepsi siswa di sekolah mengenai guru pembimbing hanyalah sebatas tempat curhat siswa, tempat mengatasi anak-anak yang bermasalah, dan juga sebagai tempat curhatnya para siswa (Satriana, 2017).

Dari persepsi tersebut perlu dibenarkan mengenai Bimbingan Konseling di sekolah, di antaranya; pertama, anggapan yang salah mengenai Bimbingan Konseling di Sekolah mencakup kenakalan siswa dan peran guru BK serta pemahaman tentang Bimbingan Konseling di sekolah. Kedua, Perlu adanya pemahaman pendekatan dan sosialisasi yang rutin agar BK tidak dianggap polisi sekolah. Ketiga, Tidak adanya pembatasan komunikasi antara guru BK dan siswa, dan memaksimalkan Bimbingan dan Konseling di sekolah.

Keempat, Siswa perlu memahami bahwa seorang guru BK adalah orang yang membantu siswa untuk mengatasi masalah-masalah siswa, mulai dari permasalahan yang sederhana hingga masalah yang sangat serius. Kelima, Perlu adanya pemahaman yang tepat mengenai makna Bimbingan Konseling di sekolah agar siswa bisa mendapat bantuan dalam menangani masalah psikologis dan proses pembelajaran di sekolah bisa berjalan maksimal.

Keenam, Seorang guru BK perlu berinteraksi dengan para siswa agara persepsi negatif terhadap guru BK berkurang, dan proses konseling bisa maksimal dan berjalan dengan lancar. Ketujuh, Mensosialisasikan kepada para siswa terkait program BK. Sosialisasi tersebut tidak cukup hanya dilakukan di awal masuk sekolah, ada baiknya jika dilakukan setiap tiga bulan sekali. Tujuannya agar para siswa akan mulai akrab dengan Bimbingan Konseling dan memahami hakikat dari BK itu sendiri. Kedelapan, Guru bimbingan Konseling harus lebih memerhatikan dan menjalin kedekatan dengan siswanya.

Ruang Bimbingan Konseling bagi para siswa sering dianggap sebagai “rumah angker” yang tidak perlu dimasuki. Padahal Bimbingan Konseling dalam pendidikan memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian proses pembelajaran dengan memfasilitasi siswa agar mampu mencapai perkembangan dengan optimal.

Salah satu perkembangan yang harus dicapai siswa di sekolah adalah perkembangan akademik, terutama dalam mengembangkan motivasi berprestasi siswa. Tanpa motivasi belajar atau motivasi berprestasi siswa, kegiatan belajar hanya merupakan aktivitas yang kurang benilai, tidak bermakna. Namun sebaliknya apabila kegiatan belajar dengan motivasi belajar yang tinggi dapat membawa prestasi yang tinggi (lebih baik) pula.

Bimbingan belajar diarahkan untuk meningkatkan motivasi berprestasi pada siswa di sekolah. Bimbingan dilakukan untuk membantu siswa dalam belajar, meraih pestasi dan mampu menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan program.

Motivasi sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang diindikasikan dengan adanya hasrat dan minat, dorongan dan kebutuhan, harapan dan cita-cita, penghargaan dan cita-cita, penghargaan dan penghormatan. Motivasi menjadi suatu kekuatan, tenaga atau daya, atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari (Makmun, 2003:9).

Maka dari itu, calon-calon konselor sekolah harus memberikan pemahaman terkait Bimbingan Konseling, dan juga menerapkan teknik-teknik pendekatan terhadap siswa serta mengadakan sosialisasi secara rutin agar siswa tidak mempersepsikan salah terhadap guru BK. Selain itu, yang menjadi guru BK harus yang memiliki potensi di bidang Bimbingan Konseling itu sendiri. (Penulis adalah Mahasiswi Konseling UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here